Populer di Bulan Safar : Mengapa Ada Tradisi Rebo Wekasan di Indonesia?
Kamis, 23 Juli 2026 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
"Tidak ada wabah (yang menular dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak ada ramalan kesialan, tidak ada kesialan karena burung hantu, dan tidak ada kesialan pada Bulan Safar." (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT, bukan karena waktu atau bulan tertentu.
Para ulama menjelaskan, maksud hadis "laa 'adwaa" bukan menolak adanya penularan penyakit secara medis, tetapi membantah keyakinan jahiliah yang menganggap penyakit menular dengan sendirinya tanpa izin Allah.
Karena itu, Islam tetap memerintahkan umatnya melakukan ikhtiar.
Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:
"Janganlah orang yang sakit dicampurkan dengan orang yang sehat." (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa seorang Muslim tetap diperintahkan menjaga sebab-sebab keselamatan sambil bertawakal kepada Allah SWT.
Meski demikian, tradisi ini telah berkembang lama sebagai bagian dari budaya masyarakat Muslim Nusantara.
Dalam penelitian berjudul "Tradisi Rebo Wekasan di Desa Suci", Siti Mahmudah Yanti menjelaskan bahwa tradisi tersebut telah melekat dalam budaya Jawa dan sering dikaitkan dengan dakwah Sunan Giri.
Menurut penjelasannya, istilah Rebo Wekasan berasal dari kata Arab Arba'a yang berarti Rabu dan dipahami sebagai waktu untuk memperbanyak amal saleh. Sementara dalam bahasa Jawa, Rebo Wekasan berarti Rebo Pungkasan, yakni Rabu terakhir Bulan Safar.
Hadis ini menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT, bukan karena waktu atau bulan tertentu.
Para ulama menjelaskan, maksud hadis "laa 'adwaa" bukan menolak adanya penularan penyakit secara medis, tetapi membantah keyakinan jahiliah yang menganggap penyakit menular dengan sendirinya tanpa izin Allah.
Karena itu, Islam tetap memerintahkan umatnya melakukan ikhtiar.
Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:
"Janganlah orang yang sakit dicampurkan dengan orang yang sehat." (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa seorang Muslim tetap diperintahkan menjaga sebab-sebab keselamatan sambil bertawakal kepada Allah SWT.
Apakah Ada Perayaan Rebo Wekasan dalam Islam?
Tidak terdapat dalil yang secara khusus memerintahkan umat Islam merayakan Rebo Wekasan ataupun menetapkannya sebagai hari ibadah tertentu.Meski demikian, tradisi ini telah berkembang lama sebagai bagian dari budaya masyarakat Muslim Nusantara.
Dalam penelitian berjudul "Tradisi Rebo Wekasan di Desa Suci", Siti Mahmudah Yanti menjelaskan bahwa tradisi tersebut telah melekat dalam budaya Jawa dan sering dikaitkan dengan dakwah Sunan Giri.
Menurut penjelasannya, istilah Rebo Wekasan berasal dari kata Arab Arba'a yang berarti Rabu dan dipahami sebagai waktu untuk memperbanyak amal saleh. Sementara dalam bahasa Jawa, Rebo Wekasan berarti Rebo Pungkasan, yakni Rabu terakhir Bulan Safar.
Lihat Juga :