Populer di Bulan Safar : Mengapa Ada Tradisi Rebo Wekasan di Indonesia?
Kamis, 23 Juli 2026 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Ia juga menyebut adanya pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa pada Bulan Safar Allah SWT menurunkan ratusan ribu musibah atau penyakit. Karena itulah sebagian masyarakat mengisinya dengan tirakat, salat sunnah, zikir, serta doa sebagai bentuk ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah.
Menurut keterangan Nyai Fatimah selaku pengasuh Pondok MQHS Al-Kamaliyah, tradisi Rebo Wekasan dipandang sebagai bentuk ikhtiar spiritual agar terhindar dari bala atau musibah pada penghujung Bulan Safar.
Tradisi itu terus dilestarikan karena telah menjadi bagian dari budaya keagamaan masyarakat pesantren setempat.
Namun, dari sisi syariat, Islam tidak mengajarkan bahwa Bulan Safar adalah bulan sial atau Rabu terakhir Safar pasti menjadi waktu turunnya musibah. Hadis-hadis sahih justru menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada Bulan Safar. Seorang Muslim diperintahkan untuk bertawakal kepada Allah, memperbanyak amal saleh, dan tetap berikhtiar menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi dalam kehidupan.
Baca juga: 5 Adab Bertetangga dalam Islam, Lengkap dengan Dalilnya
Tradisi Rebo Wekasan di Kalangan Pesantren
Tradisi Rebo Wekasan juga masih dijumpai di sejumlah pesantren di Jawa. Dalam penelitian "Living Hadis: Tradisi Rebo Wekasan di Pondok Pesantren MQHS Al-Kamaliyah Babakan Ciwaringin Cirebon", Siti Nurjannah menjelaskan bahwa tradisi tersebut diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.Menurut keterangan Nyai Fatimah selaku pengasuh Pondok MQHS Al-Kamaliyah, tradisi Rebo Wekasan dipandang sebagai bentuk ikhtiar spiritual agar terhindar dari bala atau musibah pada penghujung Bulan Safar.
Tradisi itu terus dilestarikan karena telah menjadi bagian dari budaya keagamaan masyarakat pesantren setempat.
Kesimpulan
Rebo Wekasan merupakan tradisi yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Muslim Nusantara, khususnya di Jawa. Sebagian kalangan memaknainya sebagai momentum memperbanyak doa, zikir, sedekah, dan salat sunnah untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT.Namun, dari sisi syariat, Islam tidak mengajarkan bahwa Bulan Safar adalah bulan sial atau Rabu terakhir Safar pasti menjadi waktu turunnya musibah. Hadis-hadis sahih justru menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada Bulan Safar. Seorang Muslim diperintahkan untuk bertawakal kepada Allah, memperbanyak amal saleh, dan tetap berikhtiar menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi dalam kehidupan.
Baca juga: 5 Adab Bertetangga dalam Islam, Lengkap dengan Dalilnya
(wid)
Lihat Juga :