Mengapa Takut Mati? Quraish Shihab Bilang Mati Itu Lezat dan Nikmat
Minggu, 04 Oktober 2020 - 06:47 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
MUSTHAFA Al-Kik menulis dalam bukunya Baina Alamain bahwasanya kematian yang dialami oleh manusia dapat berupa kematian mendadak seperti serangan jantung, tabrakan, dan sebagainya, dan dapat juga merupakan kematian normal yang terjadi melalui proses menua secara perlahan. Yang mati mendadak maupun yang normal, kesemuanya mengalami apa yang dinamai sakarat al-maut (sekarat) yakni semacam hilangnya kesadaran yang diikuti oleh lepasnya ruh dari jasad. (Baca juga: Kiamat Kecil Bernama Kematian, Bukanlah Ketiadaan Hidup Secara Mutlak )
Dalam keadaan mati mendadak, sakarat al-maut itu hanya terjadi beberapa saat singkat, yang mengalaminya akan merasa sangat sakit karena kematian yang dihadapinya ketika itu diibaratkan oleh Nabi SAW - seperti "duri yang berada dalam kapas, dan yang dicabut dengan keras."
Banyak ulama tafsir menunjuk ayat Wa nazi'at gharqa (Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras) (QS An-Nazi'at [79]: 1), sebagai isyarat kematian mendadak. Sedang lanjutan ayat surat tersebut yaitu Wan nasyithati nasytha (malaikat-malaikat yang mencabut ruh dengan lemah lembut) sebagai isyarat kepada kematian yang dialami secara perlahan-lahan. (Baca juga: Kiamat Kian Dekat dan Pembalasan bagi Orang yang Mendustakan Ad-din? )
Prof Dr Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya "Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" menggambarkan kematian yang melalui proses lambat itu dan yang dinyatakan oleh ayat di atas sebagai "dicabut dengan lemah lembut," sama keadaannya dengan proses yang dialami seseorang pada saat kantuk sampai dengan tidur. (Baca juga: Kematian, Satu-satunya Jalan Dapatkan Kenikmatan dan Kesempurnaan )
Allah Taala berfirman:
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (QS Al-Zumar (39): 42)
Menurut Quraish, ayat tersebut mendukung pandangan yang mempersamakan mati dengan tidur. Dalam hadis pun diajarkan bahwasanya tidur identik dengan kematian. Bukankah doa yang diajarkan Rasulullah SAW untuk dibaca pada saat bangun tidur adalah: "Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami(membangunkan dari tidur) setelah mematikan kami(menidurkan). Dan kepada-Nya jua kebangkitan (kelak)."
Lezat dan Nikmat
Pakar tafsir Fakhruddin Ar-Razi, mengomentari surat Al Zumar (39): 42 sebagai berikut:
"Yang pasti adalah tidur dan mati merupakan dua hal dari jenis yang sama. Hanya saja kematian adalah putusnya hubungan secara sempurna, sedang tidur adalah putusnya hubungan tidak sempurna dilihat dari beberapa segi."
(Baca juga: Mau Pelindung di Hari Kiamat? Baca Surah Al-Baqarah dan Ali Imran )
Dalam keadaan mati mendadak, sakarat al-maut itu hanya terjadi beberapa saat singkat, yang mengalaminya akan merasa sangat sakit karena kematian yang dihadapinya ketika itu diibaratkan oleh Nabi SAW - seperti "duri yang berada dalam kapas, dan yang dicabut dengan keras."
Banyak ulama tafsir menunjuk ayat Wa nazi'at gharqa (Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras) (QS An-Nazi'at [79]: 1), sebagai isyarat kematian mendadak. Sedang lanjutan ayat surat tersebut yaitu Wan nasyithati nasytha (malaikat-malaikat yang mencabut ruh dengan lemah lembut) sebagai isyarat kepada kematian yang dialami secara perlahan-lahan. (Baca juga: Kiamat Kian Dekat dan Pembalasan bagi Orang yang Mendustakan Ad-din? )
Prof Dr Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya "Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" menggambarkan kematian yang melalui proses lambat itu dan yang dinyatakan oleh ayat di atas sebagai "dicabut dengan lemah lembut," sama keadaannya dengan proses yang dialami seseorang pada saat kantuk sampai dengan tidur. (Baca juga: Kematian, Satu-satunya Jalan Dapatkan Kenikmatan dan Kesempurnaan )
Allah Taala berfirman:
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (QS Al-Zumar (39): 42)
Menurut Quraish, ayat tersebut mendukung pandangan yang mempersamakan mati dengan tidur. Dalam hadis pun diajarkan bahwasanya tidur identik dengan kematian. Bukankah doa yang diajarkan Rasulullah SAW untuk dibaca pada saat bangun tidur adalah: "Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami(membangunkan dari tidur) setelah mematikan kami(menidurkan). Dan kepada-Nya jua kebangkitan (kelak)."
Lezat dan Nikmat
Pakar tafsir Fakhruddin Ar-Razi, mengomentari surat Al Zumar (39): 42 sebagai berikut:
"Yang pasti adalah tidur dan mati merupakan dua hal dari jenis yang sama. Hanya saja kematian adalah putusnya hubungan secara sempurna, sedang tidur adalah putusnya hubungan tidak sempurna dilihat dari beberapa segi."
(Baca juga: Mau Pelindung di Hari Kiamat? Baca Surah Al-Baqarah dan Ali Imran )
Lihat Juga :