Instruksi dan Tradisi Chisytiyah: Kaum Sufi Adalah Pembohong
Selasa, 13 Oktober 2020 - 15:22 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
Khwaja ('Guru') Abu Ishaq Chisyti, 'orang Syria', lahir di awal abad kesepuluh. Pengikut-pengikutnya berkembang dan berasal dari Garis para Guru, yang kemudian dikenal menjadi Naqsyabandiyah ('Orang-orang Bertujuan'). (Baca juga: Kelompok Sufi, Ketika Kematian Bukan Kematian, dan Kamar Pinjaman )
Idries Shah dalam bukunya berjudul The Way of the Sufi menjelaskan komunitas Chisytiyah ini, berawal di Chisyt, Khurasan, khususnya menggunakan musik dalam latihan-latihan mereka. Kaum darwis pengelana dari tarekat ini, dikenal sebagai Chist atau Chisht. Mereka akan memasuki sebuah kota dan meramaikan suasana dengan seruling dan genderang, untuk mengumpulkan orang-orang sebelum menceritakan dongeng atau legenda, sebuah permulaan yang penting. (Baca juga: Instruksi dan Tradisi Chisytiyah: Tujuh Bersaudara, Sebab dan Akibat)
Berikut sejumlah materi yang mewakili instruksi dan tradisi Chisytiyah.
Kaum Sufi Adalah Pembohong
Kedudukan kaum Sufi seperti orang asing di sebuah negeri, seperti tamu di sebuah rumah. Siapa pun dalam kemampuan masing-masing berpikir pada mentalitas lokal.
Sufi sejati adalah orang yang 'sudah berubah' (abdal), berubah menjadi bagian penting Sufisme. Orang awam tidak berubah; sebab itu membutuhkan kepura-puraan.
Baca juga: Jalan Sufi: Berikut Salah Satu Materi Tarekat Chrisytiyah
Seseorang yang pergi ke suatu negeri di mana telanjang adalah sesuatu yang dihormati, dan mengenakan pakaian dianggap tidak terhormat. Supaya tetap eksis di negeri tersebut, ia harus melepas pakaiannya. Jika ia mengatakan, "Mengenakan pakaian adalah yang terbaik, telanjang tidaklah terhormat," ia meletakkan dirinya pada sisi luar masyarakat negeri yang ia kunjungi.
Oleh karena itu, apakah ia akan tinggal atau -- jika ia bermanfaat di sana -- akan menerima atau menunda. Apabila pokok bahasan tentang kebaikan mengenakan pakaian atau lainnya diperdebatkan, ia mungkin harus berpura-pura. Karena ada pertentangan kebiasaan di sini.
Bahkan terdapat pertentangan yang lebih besar, antara berpikir kebiasaan dan berpikir bukan kebiasaan. Kaum Sufi, karena berpengalaman, dalam berhubungan dengan lainnya, begitu banyak, mengetahui tingkatan eksistensi yang tidak dapat dinilainya dengan argumen, walaupun seluruh argumen sudah pernah dicoba oleh seseorang pada suatu waktu, sesuatu yang sudah berlaku serta dianggap sebagai 'akal sehat'.
Kegiatannya, seperti seorang seniman, mengurangi ilustrasi tersebut.
Baca juga: Penulis Klasik Hakim Sanai, Sudah Keluar dari Islam?
Pendapat Unta
Suatu ketika, seorang laki-laki bertanya pada seekor unta, mana yang lebih disukainya, pergi ke tempat tinggi atau rendah.
Unta menjawab, "Apa yang penting bagiku bukan tempat tinggi atau rendah -- tetapi bebannya!"
Baca juga: Penulis Klasik Hakim Jami' dalam Jalan Sufi Idries Shah
Sumpah
Seorang laki-laki yang terganggu pikirannya bersumpah, bahwa kalau masalahnya terpecahkan ia akan menjual rumahnya dan memberikan semua keuntungannya kepada orang miskin.
Waktunya tiba, ketika sadar maka ia haruslah memenuhi sumpah tersebut. Akan tetapi dia sendiri tidak ingin mengeluarkan banyak uang. Oleh karena itu, dicarinya jalan keluar.
Ia pun meletakkan tulisan rumah dijual dengan harga sekeping uang perak. Termasuk seekor kucing. Harga untuk binatang ini sepuluh ribu keping uang perak.
Seseorang membeli keduanya, rumah dan kucing. Maka laki-laki yang telah bersumpah tersebut memberikan sekeping uang perak, hasil penjualan rumah, kepada orang miskin, sedangkan sepuluh ribu keping perak sisanya dikantonginya sendiri.
Banyak pikiran orang bekerja seperti ini. Mereka memutuskan mengikuti suatu ajaran; tetapi menafsirkan hubungan mereka dengannya untuk keuntungan diri sendiri.
(Baca juga: Jalaluddin Rumi Anggap Perempuan sebagai Suatu Pancaran Ilahi )
Tentang Musik
Mereka tahu kalau kita mendengar musik, dan kita merasakan sesuatu yang tersembunyi di dalamnya.
Maka mereka bermain musik dan memasukkan diri mereka sendiri pada 'keadaan'.
Tahu bahwa setiap pembelajaran harus memiliki semua persyaratannya, bukan sekadar musik, pemikiran, konsentrasi.
Ingat:
Kesia-siaan adalah perahan susu yang luar biasa
Dari seekor sapi yang menendang embernya. (Hadrat Mu'inuddin Chisyti)
Idries Shah dalam bukunya berjudul The Way of the Sufi menjelaskan komunitas Chisytiyah ini, berawal di Chisyt, Khurasan, khususnya menggunakan musik dalam latihan-latihan mereka. Kaum darwis pengelana dari tarekat ini, dikenal sebagai Chist atau Chisht. Mereka akan memasuki sebuah kota dan meramaikan suasana dengan seruling dan genderang, untuk mengumpulkan orang-orang sebelum menceritakan dongeng atau legenda, sebuah permulaan yang penting. (Baca juga: Instruksi dan Tradisi Chisytiyah: Tujuh Bersaudara, Sebab dan Akibat)
Berikut sejumlah materi yang mewakili instruksi dan tradisi Chisytiyah.
Kaum Sufi Adalah Pembohong
Kedudukan kaum Sufi seperti orang asing di sebuah negeri, seperti tamu di sebuah rumah. Siapa pun dalam kemampuan masing-masing berpikir pada mentalitas lokal.
Sufi sejati adalah orang yang 'sudah berubah' (abdal), berubah menjadi bagian penting Sufisme. Orang awam tidak berubah; sebab itu membutuhkan kepura-puraan.
Baca juga: Jalan Sufi: Berikut Salah Satu Materi Tarekat Chrisytiyah
Seseorang yang pergi ke suatu negeri di mana telanjang adalah sesuatu yang dihormati, dan mengenakan pakaian dianggap tidak terhormat. Supaya tetap eksis di negeri tersebut, ia harus melepas pakaiannya. Jika ia mengatakan, "Mengenakan pakaian adalah yang terbaik, telanjang tidaklah terhormat," ia meletakkan dirinya pada sisi luar masyarakat negeri yang ia kunjungi.
Oleh karena itu, apakah ia akan tinggal atau -- jika ia bermanfaat di sana -- akan menerima atau menunda. Apabila pokok bahasan tentang kebaikan mengenakan pakaian atau lainnya diperdebatkan, ia mungkin harus berpura-pura. Karena ada pertentangan kebiasaan di sini.
Bahkan terdapat pertentangan yang lebih besar, antara berpikir kebiasaan dan berpikir bukan kebiasaan. Kaum Sufi, karena berpengalaman, dalam berhubungan dengan lainnya, begitu banyak, mengetahui tingkatan eksistensi yang tidak dapat dinilainya dengan argumen, walaupun seluruh argumen sudah pernah dicoba oleh seseorang pada suatu waktu, sesuatu yang sudah berlaku serta dianggap sebagai 'akal sehat'.
Kegiatannya, seperti seorang seniman, mengurangi ilustrasi tersebut.
Baca juga: Penulis Klasik Hakim Sanai, Sudah Keluar dari Islam?
Pendapat Unta
Suatu ketika, seorang laki-laki bertanya pada seekor unta, mana yang lebih disukainya, pergi ke tempat tinggi atau rendah.
Unta menjawab, "Apa yang penting bagiku bukan tempat tinggi atau rendah -- tetapi bebannya!"
Baca juga: Penulis Klasik Hakim Jami' dalam Jalan Sufi Idries Shah
Sumpah
Seorang laki-laki yang terganggu pikirannya bersumpah, bahwa kalau masalahnya terpecahkan ia akan menjual rumahnya dan memberikan semua keuntungannya kepada orang miskin.
Waktunya tiba, ketika sadar maka ia haruslah memenuhi sumpah tersebut. Akan tetapi dia sendiri tidak ingin mengeluarkan banyak uang. Oleh karena itu, dicarinya jalan keluar.
Ia pun meletakkan tulisan rumah dijual dengan harga sekeping uang perak. Termasuk seekor kucing. Harga untuk binatang ini sepuluh ribu keping uang perak.
Seseorang membeli keduanya, rumah dan kucing. Maka laki-laki yang telah bersumpah tersebut memberikan sekeping uang perak, hasil penjualan rumah, kepada orang miskin, sedangkan sepuluh ribu keping perak sisanya dikantonginya sendiri.
Banyak pikiran orang bekerja seperti ini. Mereka memutuskan mengikuti suatu ajaran; tetapi menafsirkan hubungan mereka dengannya untuk keuntungan diri sendiri.
(Baca juga: Jalaluddin Rumi Anggap Perempuan sebagai Suatu Pancaran Ilahi )
Tentang Musik
Mereka tahu kalau kita mendengar musik, dan kita merasakan sesuatu yang tersembunyi di dalamnya.
Maka mereka bermain musik dan memasukkan diri mereka sendiri pada 'keadaan'.
Tahu bahwa setiap pembelajaran harus memiliki semua persyaratannya, bukan sekadar musik, pemikiran, konsentrasi.
Ingat:
Kesia-siaan adalah perahan susu yang luar biasa
Dari seekor sapi yang menendang embernya. (Hadrat Mu'inuddin Chisyti)
(mhy)
Lihat Juga :