Kisah Penebar Hadis Palsu di Zaman Imam Ahmad bin Hanbal
Jum'at, 08 Mei 2020 - 17:41 WIB
loading...
A
A
A
Ketika si tukang kisah itu berdiri di hadapan Imam Ahmad bin Hanbal, ia mengajukan pertanyaan, "Darimana engkau meriwayatkan hadis-hadis yang telah engkau sebutkan tadi di hadapan jamaahmu?"
Dengan penuh keyakinan si tukang kisah tadi menjawab, "Aku mendapatkan periwayatannya dari tokoh perawi hadis terkemuka di kota ini, Imam Ahmad bin Hanbal dan sahabatnya Yahya bin Ma'in. Mereka berdualah yang meriwayatkannya padaku!"
Yahya bin Ma'in menghadap orang itu seraya berkata, "Akulah Yahya bin Ma'in dan ini Imam Ahmad bin Hanbal. Demi Allah, kami belum pernah mendengar serta meriwayatkan hadis-hadis yang kau riwayatkan ini sebelumnya."
Si tukang kisah yang tidak mengenali dua orang tokoh ahli hadis di hadapannya berubah pucat. Ia kaget dan tak menyangka akan berhadapan dengan orang yang ia maksudkan. Ia berbohong mengatasnamakan dua orang tersebut, bahkan berbohong atas nama Rasulullah SAW .
Namun, sekali kebohongan akan tetap diikuti oleh kebohongan lainnya. Si tukang kisah dengan kepandaiannya bersilat lidah, lantas kemudian balik bertanya, "Apakah benar kalian Yahya bin Ma'in dan Ahmad bin Hanbal?"
"Ya benar!" jawab Yahya bin Ma'in.
Si tukang kisah mengubah sikapnya yang pada awalnya terlihat gugup dan tertekan laiknya seorang yang tetap tenang dan tak tampak bersalah. "Oh, aku kira kalian berdua dungu!"
Imam Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma'in saling berpandangan. "Aku telah meriwayatkan banyak hadis dari Imam Ahmad bin Handal dan Yahya bin Ma'in, namun selain dari kalian berdua. Ada banyak nama selain Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma'in di kota ini" jawabnya setengah mengejek.
Padahal terang saja, di Kota Baghdad itu hanya ada dua nama pakar hadis kenamaan yang terpercaya kepakarannya dalam bidang periwayatan hadits-hadits shahih. Namun, si tukang kisah tetap berkilah, demi popularitas dan pengikutnya.
Akhirnya Imam Ahmad bin Hanbal menutupkan lengan jubahnya ke mukanya seraya berkata, "Pergilah engkau dari hadapanku!"
Dengan penuh keyakinan si tukang kisah tadi menjawab, "Aku mendapatkan periwayatannya dari tokoh perawi hadis terkemuka di kota ini, Imam Ahmad bin Hanbal dan sahabatnya Yahya bin Ma'in. Mereka berdualah yang meriwayatkannya padaku!"
Yahya bin Ma'in menghadap orang itu seraya berkata, "Akulah Yahya bin Ma'in dan ini Imam Ahmad bin Hanbal. Demi Allah, kami belum pernah mendengar serta meriwayatkan hadis-hadis yang kau riwayatkan ini sebelumnya."
Si tukang kisah yang tidak mengenali dua orang tokoh ahli hadis di hadapannya berubah pucat. Ia kaget dan tak menyangka akan berhadapan dengan orang yang ia maksudkan. Ia berbohong mengatasnamakan dua orang tersebut, bahkan berbohong atas nama Rasulullah SAW .
Namun, sekali kebohongan akan tetap diikuti oleh kebohongan lainnya. Si tukang kisah dengan kepandaiannya bersilat lidah, lantas kemudian balik bertanya, "Apakah benar kalian Yahya bin Ma'in dan Ahmad bin Hanbal?"
"Ya benar!" jawab Yahya bin Ma'in.
Si tukang kisah mengubah sikapnya yang pada awalnya terlihat gugup dan tertekan laiknya seorang yang tetap tenang dan tak tampak bersalah. "Oh, aku kira kalian berdua dungu!"
Imam Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma'in saling berpandangan. "Aku telah meriwayatkan banyak hadis dari Imam Ahmad bin Handal dan Yahya bin Ma'in, namun selain dari kalian berdua. Ada banyak nama selain Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma'in di kota ini" jawabnya setengah mengejek.
Padahal terang saja, di Kota Baghdad itu hanya ada dua nama pakar hadis kenamaan yang terpercaya kepakarannya dalam bidang periwayatan hadits-hadits shahih. Namun, si tukang kisah tetap berkilah, demi popularitas dan pengikutnya.
Akhirnya Imam Ahmad bin Hanbal menutupkan lengan jubahnya ke mukanya seraya berkata, "Pergilah engkau dari hadapanku!"
Lihat Juga :