Niatkan Aktivitas Sehari-hari Bernilai Pahala
Senin, 16 November 2020 - 18:37 WIB
loading...
A
A
A
Ibnu Hajar melanjutkan, “Dalam hadis lain disebutkan lebih gamblang lagi dari sekedar menyuapkan tangan ke mulut istri, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, disebutkan, ‘Dan berhubungan intim dengan istrinya juga terhitung sedekah!”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah seseorang yang melampiaskan syahwatnya juga mendapat pahala?” Rasulullah shallallahu alaihi wa wa sallam berkata, “Bagaimana menurut kalian bila ia melampiaskannya pada perkara yang haram?”
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Jika demikian keadaannya -yakni dalam perkara yang dikehendaki oleh nafsu– tentu lebih layak bila ganjaran pahala itu diberikan atas perkara yang tidak dikehendaki nafsu!?”
(Baca juga : Akhirnya RCEP Kelar, Wamendag: Saatnya Genjot Daya Saing )
Ia melanjutkan, “Perumpamaan dengan menyuapkan tanga ke mulut istri tujuannya untuk lebih mempertegas kaidah ini. Sebab, bilamana menyuapkan tangan ke mulut istri sekai suap saja sudah berpahala, tentu pahala lebih layak diberikan kepada siapa yang memberi makan orang-orang yang membutuhkan makanan, atau mengerjakan amalan ketaatan yang tingkat kesulitannya lebih besar dari sesuap nasi yang diberikan kepada istri, yang tentu saja nilainya lebih rendah.”
Lebih dari itu dapat dikatakan, “Jikalau pahala diberikan kepadanya karena ia telah memberi makan istrinya, yang tentunya dia juga memperoleh keuntungan darinya. Sebab makanan itu akan membuat tubuh istrinya tampak lebih cantik . Dan biasanya nafkah yang ia berikan kepada istri lebih banyak didorong oleh faktor nafsu. Tentu berbeda dengan bersedekah kepada orang lain yang lebih banyak menuntut pengorbanan, wallahu a’lam.”
(Baca juga : DKI Jakarta Tempati Angka Kesembuhan Tertinggi )
Dari pemaparan tersebut, menurut Abu Ihsan al Atsaary, dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa seluruh perbuatan mubah yang kita lakukan seperti tidur, makan, mencari rezeki dan yang lainnya bisa dijadikan sebagai bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah subhaanahu wa ta’ala, sehingga dengan cara itu seorang muslim bisa mendapatkan beribu-ribu kebaikan dengan syarat niatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Dan semua perbuatan yang kita lakukan itu akan semakin bertambah nilai pahala dan keutamaannya apabila kita bersungguh-sungguh menerapkan sunnah-sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bukti cinta kita kepada beliau dan ittiba’ kita yang tulus kepada ajaran beliau shalallahu alaihi wa sallam.
(Baca juga : Waspada COVID-19, Ini yang Dilakukan Pesantren Tangguh di Jawa Timur )
Wallahu A'lam
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah seseorang yang melampiaskan syahwatnya juga mendapat pahala?” Rasulullah shallallahu alaihi wa wa sallam berkata, “Bagaimana menurut kalian bila ia melampiaskannya pada perkara yang haram?”
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Jika demikian keadaannya -yakni dalam perkara yang dikehendaki oleh nafsu– tentu lebih layak bila ganjaran pahala itu diberikan atas perkara yang tidak dikehendaki nafsu!?”
(Baca juga : Akhirnya RCEP Kelar, Wamendag: Saatnya Genjot Daya Saing )
Ia melanjutkan, “Perumpamaan dengan menyuapkan tanga ke mulut istri tujuannya untuk lebih mempertegas kaidah ini. Sebab, bilamana menyuapkan tangan ke mulut istri sekai suap saja sudah berpahala, tentu pahala lebih layak diberikan kepada siapa yang memberi makan orang-orang yang membutuhkan makanan, atau mengerjakan amalan ketaatan yang tingkat kesulitannya lebih besar dari sesuap nasi yang diberikan kepada istri, yang tentu saja nilainya lebih rendah.”
Lebih dari itu dapat dikatakan, “Jikalau pahala diberikan kepadanya karena ia telah memberi makan istrinya, yang tentunya dia juga memperoleh keuntungan darinya. Sebab makanan itu akan membuat tubuh istrinya tampak lebih cantik . Dan biasanya nafkah yang ia berikan kepada istri lebih banyak didorong oleh faktor nafsu. Tentu berbeda dengan bersedekah kepada orang lain yang lebih banyak menuntut pengorbanan, wallahu a’lam.”
(Baca juga : DKI Jakarta Tempati Angka Kesembuhan Tertinggi )
Dari pemaparan tersebut, menurut Abu Ihsan al Atsaary, dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa seluruh perbuatan mubah yang kita lakukan seperti tidur, makan, mencari rezeki dan yang lainnya bisa dijadikan sebagai bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah subhaanahu wa ta’ala, sehingga dengan cara itu seorang muslim bisa mendapatkan beribu-ribu kebaikan dengan syarat niatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Dan semua perbuatan yang kita lakukan itu akan semakin bertambah nilai pahala dan keutamaannya apabila kita bersungguh-sungguh menerapkan sunnah-sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bukti cinta kita kepada beliau dan ittiba’ kita yang tulus kepada ajaran beliau shalallahu alaihi wa sallam.
(Baca juga : Waspada COVID-19, Ini yang Dilakukan Pesantren Tangguh di Jawa Timur )
Wallahu A'lam
(wid)