Kisah Sufi: Ucapan Terakhir Al-Hallaj Saat Dieksekusi Mati
Jum'at, 20 November 2020 - 06:10 WIB
loading...
A
A
A
Ketika guru agung dan syuhada Manshur al-Hallaj berada di tengah kerumunan, dihukum karena kemurtadan dan bid'ah , ia tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan saat tangannya dipotong di depan umum.
Ketika kerumunan orang melempar batu yang menyebabkan luka parah, ia tenang saja. Salah seorang temannya, seorang guru Sufi, mendekatinya dan memberinya -- bunga.
Manshur berteriak seolah dalam siksaan.
Ia melakukan ini untuk menunjukkan bahwa ia tidak dapat disakiti oleh perbuatan orang-orang yang mengira mereka berbuat benar. Tetapi hanya sentuhan dari orang yang tahu, seperti dia, bahwa dirinya dihukum dan dituduh dengan tidak adil, jauh lebih menyakitkan baginya dari siksaan apa pun.
Manshur dan teman Sufinya, tidak berdaya kendati mereka ada di depan tirani seperti itu, teringat akan pelajaran tersebut. Sementara penganiaya-penganiaya mereka hampir terlupakan.
Saat sekarat, Manshur berkata, "Orang-orang di dunia ini mencoba berbuat baik. Aku anjurkan engkau mencari sesuatu di mana bagian paling kecilnya lebih berarti daripada semua kebaikan; pengetahuan tentang kebenaran -- pengetahuan sejati."
Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan
HANBAL DAN PEMIKIRAN YANG TERKONDISI
Ahmad ibnu Hanbal adalah pendiri salah satu dari empat madzhab hukum yang besar, dan sahabat beberapa Guru Sufi awal. Di masa tua dan lemahnya, kelompok muktazilah memaksa Imam Ahmad bin Hanbal untuk mengakui tafsir tunggal bahwa Alquran adalah makhluk. Namun beliau tidak mau. Beliau lebih memilih mati daripada harus mengatakan hal yang bisa menyesatkan umat. Sehingga Imam Ahmad menerima hukuman dari penguasa.
Disebutkan di dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah, ketika dikurung di penjara, Imam Ahmad sempat menyampaikan bahwa yang ditakuti bukan hukuman bunuh atau penjara, namun hukuman cambukan. Beliau khawatir tidak sabar menghadapi hukuman jenis ini.
Ketika kerumunan orang melempar batu yang menyebabkan luka parah, ia tenang saja. Salah seorang temannya, seorang guru Sufi, mendekatinya dan memberinya -- bunga.
Manshur berteriak seolah dalam siksaan.
Ia melakukan ini untuk menunjukkan bahwa ia tidak dapat disakiti oleh perbuatan orang-orang yang mengira mereka berbuat benar. Tetapi hanya sentuhan dari orang yang tahu, seperti dia, bahwa dirinya dihukum dan dituduh dengan tidak adil, jauh lebih menyakitkan baginya dari siksaan apa pun.
Manshur dan teman Sufinya, tidak berdaya kendati mereka ada di depan tirani seperti itu, teringat akan pelajaran tersebut. Sementara penganiaya-penganiaya mereka hampir terlupakan.
Saat sekarat, Manshur berkata, "Orang-orang di dunia ini mencoba berbuat baik. Aku anjurkan engkau mencari sesuatu di mana bagian paling kecilnya lebih berarti daripada semua kebaikan; pengetahuan tentang kebenaran -- pengetahuan sejati."
Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan
HANBAL DAN PEMIKIRAN YANG TERKONDISI
Ahmad ibnu Hanbal adalah pendiri salah satu dari empat madzhab hukum yang besar, dan sahabat beberapa Guru Sufi awal. Di masa tua dan lemahnya, kelompok muktazilah memaksa Imam Ahmad bin Hanbal untuk mengakui tafsir tunggal bahwa Alquran adalah makhluk. Namun beliau tidak mau. Beliau lebih memilih mati daripada harus mengatakan hal yang bisa menyesatkan umat. Sehingga Imam Ahmad menerima hukuman dari penguasa.
Disebutkan di dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah, ketika dikurung di penjara, Imam Ahmad sempat menyampaikan bahwa yang ditakuti bukan hukuman bunuh atau penjara, namun hukuman cambukan. Beliau khawatir tidak sabar menghadapi hukuman jenis ini.
Lihat Juga :