Hadapi Masalah dengan Salaama
Kamis, 03 Desember 2020 - 16:08 WIB
loading...
A
A
A
Di situlah kerap kita lihat orang-orang seperti ini selain akan menggunakan cara-cara panik dalam merespon setiap fenomena yang dianggap ancaman, juga akan banyak mengumbar ketidak jujuran dalam hidupnya. Maka kebohongan-kebohongan menjadi sesuatu yang seolah normal dalam hidupnya.
Bangsa Indonesia saat ini, layaknya semua bangsa di dunia, sedang mengalami dinamika-dinamika yang seharusnya perlu disikapi dengan "Salaama" tadi. Bukan dengan kepanikan yang terbangun di atas berbagai kekhawatiran dan ketakutan.
Jadikan bekal "Salaama" dalam menyikapi semua dinamika dan hiruk pikuk yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Biarkan rakyat di negeri ini merasakan keamanan, kenyamanan dan kedamaaian itu.
Jika kepanikan yang menjadi modal dalam menyikapi semua dinamika yang ada maka bangsa ini hanya akan bergerak dari satu kepanikan ke kepanikan yang lain. Akhirnya bangsa ini hanya hidup dalam kepanikan yang berkepanjangan.
Apalagi jika kepanikan itu dibangun di atas kecurigaan politis yang tiada ujung. Seolah beda pandangan politik adalah ancaman. Dan pada akhirnya semua pandangan atau ide yang tidak sejalan dengannya juga dianggak ancaman.
Jika itu terjadi maka sesungguhnya pengakuan sebagai sosok demokratis dengan demokrasi sebagai madzhab politiknya menjadi sebuah kepalsuan. Demokrasi menjunjung tinggi perbedaan itu selama masih dalam kerangka batas-batas hukum yang disepakati bersama.
Jika anda terganggu atau tidak nyaman, apalagi khawatir dan ketakutan dengan perbedaan politik, berarti anda salah kaprah dengan demokrasi. Karena merasa terancam dengan perbedaan-perbedaan yang ada, termasuk perbedaan pendangan politik, dengan sendirinya anda telah melukai makna demokrasi itu sendiri.
New York, 2 Desember 2020
(Baca Juga: Dunia Merindukan Nabi Muhammad SAW )
Bangsa Indonesia saat ini, layaknya semua bangsa di dunia, sedang mengalami dinamika-dinamika yang seharusnya perlu disikapi dengan "Salaama" tadi. Bukan dengan kepanikan yang terbangun di atas berbagai kekhawatiran dan ketakutan.
Jadikan bekal "Salaama" dalam menyikapi semua dinamika dan hiruk pikuk yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Biarkan rakyat di negeri ini merasakan keamanan, kenyamanan dan kedamaaian itu.
Jika kepanikan yang menjadi modal dalam menyikapi semua dinamika yang ada maka bangsa ini hanya akan bergerak dari satu kepanikan ke kepanikan yang lain. Akhirnya bangsa ini hanya hidup dalam kepanikan yang berkepanjangan.
Apalagi jika kepanikan itu dibangun di atas kecurigaan politis yang tiada ujung. Seolah beda pandangan politik adalah ancaman. Dan pada akhirnya semua pandangan atau ide yang tidak sejalan dengannya juga dianggak ancaman.
Jika itu terjadi maka sesungguhnya pengakuan sebagai sosok demokratis dengan demokrasi sebagai madzhab politiknya menjadi sebuah kepalsuan. Demokrasi menjunjung tinggi perbedaan itu selama masih dalam kerangka batas-batas hukum yang disepakati bersama.
Jika anda terganggu atau tidak nyaman, apalagi khawatir dan ketakutan dengan perbedaan politik, berarti anda salah kaprah dengan demokrasi. Karena merasa terancam dengan perbedaan-perbedaan yang ada, termasuk perbedaan pendangan politik, dengan sendirinya anda telah melukai makna demokrasi itu sendiri.
New York, 2 Desember 2020
(Baca Juga: Dunia Merindukan Nabi Muhammad SAW )
(rhs)
Lihat Juga :