Perebutan Kursi Khalifah: Kisah Rekonsiliasi Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar Ash-Shiddiq
Rabu, 23 Desember 2020 - 08:51 WIB
loading...
A
A
A
Dalam masa 6 bulan ini muncullah berbagai macam peristiwa berbahaya yang mengancam kelestarian dan kesentosaan ummat.
Demi untuk memelihara kesentosaan Islam dan menjaga keutuhan ummat dari bahaya perpecahan, akhirnya Imam Ali r.a. secara ikhlas menyatakan kesediaan mengadakan kerjasama dengan khalifah Abu Bakar r.a. Terutama mengenai hal-hal yang olehnya dipandang menjadi kepentingan Islam dan kaum muslimin. (Baca juga: Mimpi Bertemu Nabi dan Kronologi Terbunuhnya Utsman bin Affan )
Sikap Imam Ali r.a. yang seperti itu tercermin dengan jelas sekali dalam sepucuk suratnya yang antara lain:
"Aku tetap berpangku-tangan sampai saat aku melihat banyak orang-orang yang meninggalkan Islam dan kembali kepada agama mereka semula. Mereka berseru untuk menghapuskan agama Muhammad SAW. Aku khawatir, jika tidak membela Islam dan pemeluknya, akan kusaksikan terjadinya perpecahan dan kehancuran. Bagiku hal itu merupakan bencana yang lebih besar dibanding dengan hilangnya kekuasaan.
Kekuasaan yang ada di tangan kalian, tidak lain hanyalah suatu kenikmatan sementara dan hanya selama beberapa waktu saja. Apa yang sudah ada pada kalian akan lenyap seperti lenyapnya bayangan fatamorgana atau seperti lenyapnya awan. Oleh karena itu, aku bangkit menghadapi kejadian itu, sampai semua kebatilan tersingkir musnah, dan sampai agama berada dalam suasana tenteram…"
Sejak saat itu suara Imam Ali r.a. berkumandang kembali di tengah-tengah kaum muslimin, terutama pada saat-saat ia dimintai pendapat-pendapat oleh Khalifah Abu Bakar r.a. Kesempatan-kesempatan semacam itu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memberi pengarahan kepada kehidupan Islam dan kaum muslimin, agar jangan sampai menyimpang dari ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya, baik di bidang legislatif (tasyri'iyyah), eksekutif (tanfidziyyah), maupun judikatif (qadha'iyyah).
Demi untuk memelihara kesentosaan Islam dan menjaga keutuhan ummat dari bahaya perpecahan, akhirnya Imam Ali r.a. secara ikhlas menyatakan kesediaan mengadakan kerjasama dengan khalifah Abu Bakar r.a. Terutama mengenai hal-hal yang olehnya dipandang menjadi kepentingan Islam dan kaum muslimin. (Baca juga: Mimpi Bertemu Nabi dan Kronologi Terbunuhnya Utsman bin Affan )
Sikap Imam Ali r.a. yang seperti itu tercermin dengan jelas sekali dalam sepucuk suratnya yang antara lain:
"Aku tetap berpangku-tangan sampai saat aku melihat banyak orang-orang yang meninggalkan Islam dan kembali kepada agama mereka semula. Mereka berseru untuk menghapuskan agama Muhammad SAW. Aku khawatir, jika tidak membela Islam dan pemeluknya, akan kusaksikan terjadinya perpecahan dan kehancuran. Bagiku hal itu merupakan bencana yang lebih besar dibanding dengan hilangnya kekuasaan.
Kekuasaan yang ada di tangan kalian, tidak lain hanyalah suatu kenikmatan sementara dan hanya selama beberapa waktu saja. Apa yang sudah ada pada kalian akan lenyap seperti lenyapnya bayangan fatamorgana atau seperti lenyapnya awan. Oleh karena itu, aku bangkit menghadapi kejadian itu, sampai semua kebatilan tersingkir musnah, dan sampai agama berada dalam suasana tenteram…"
Sejak saat itu suara Imam Ali r.a. berkumandang kembali di tengah-tengah kaum muslimin, terutama pada saat-saat ia dimintai pendapat-pendapat oleh Khalifah Abu Bakar r.a. Kesempatan-kesempatan semacam itu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memberi pengarahan kepada kehidupan Islam dan kaum muslimin, agar jangan sampai menyimpang dari ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya, baik di bidang legislatif (tasyri'iyyah), eksekutif (tanfidziyyah), maupun judikatif (qadha'iyyah).
(mhy)
Lihat Juga :