Runtuhnya Logika Matematika, Pelajaran dari Perang Hunain
Sabtu, 26 Desember 2020 - 21:40 WIB
loading...
Ustaz Muhammad Syafiie el-Bantanie, Dai yang juga Founder Ekselensia Tahfizh School. Foto/Ist
A
A
A
Ustaz Muhammad Syafi'ie el-Bantanie
Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan,
Founder Ekselensia Tahfizh School
"Sungguh, Allah telah menolong kamu (mukminin) di banyak medan perang, dan (ingatlah) Perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu, tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang dan lari tunggang langgang." (QS. At-Taubah [9]: 25)
Sebakda Fathul Makkah pada 10 Ramadhan 8 Hijriyah, sekira 15 hari berikutnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم memperoleh kabar dari teliksandi bahwa Bani Tsaqif dan Hawazin di Thaif (sekira 70 km dari Makkah) telah menghimpun kekuatan dan pasukan untuk menyerang Mekah. Maka, Rasulullah menyambutnya dengan menghimpun pasukan muslimin. Terkumpullah pasukan muslimin sejumlah 12.000 orang. Jumlah terbesar yang pernah dimiliki muslimin. Terdiri dari 10.000 pasukan muslimin Madinah untuk misi Fathul Mekah sebelumnya dan 2.000 pasukan muslimin Makkah yang baru masuk Islam pada peristiwa Fathul Makkah.
Berangkatlah pasukan muslimin dipimpin langsung oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Ini adalah perang terakhir muslimin yang dipimpin langsung oleh Rasulullah. Dan, perang Badar adalah perang pertama yang dipimpin langsung oleh Rasulullah. Nanti kita akan analisis pelajaran penting dari kedua perang ini. Karena, para ulama ketika membahas perang Hunain mesti mengaitkannya dengan perang Badar. Dan, untuk perang Hunain sendiri, memang mesti kita saksamai dan renungkan. Pada ayat 25 surat At-Taubah di atas, mulanya Al-Qur’an menggunakan redaksi umum (fi mawathin: banyak peperangan), namun kemudian menyebutkan Hunain secara khusus (wa yauma hunain).
(Baca Juga: Inilah Hikmah Besar dari Perang Badar)
Para ulama Tafsir menerangkan bahwa jika sesuatu yang khusus disebutkan kembali setelah sesuatu yang umum, padahal sesuatu yang khusus itu telah terangkum dalam sesuatu umum, itu artinya Allah menginginkan kita memberikan perhatian lebih dan mendalam pada sesuatu yang khusus itu. Maka, mari kita seksamai pelajaran apa yang ingin Allah sampaikan dari perang Hunain.
Pasukan muslimin bergerak menuju arah Thaif dan bertemu dengan pasukan Bani Tsaqif dan Hawazin pimpinan Malik bin Auf di lembah Hunain atau disebut juga lembah Atos. Di sinilah terdapat pelajaran penting dari Allah bagi muslimin, yang sejatinya pelajaran juga bagi kita di masa kini. Muslimin yang baru masuk Islam sekira 2.000 orang itu takjub dengan besarnya jumlah pasukan muslimin. Bergeserlah sandaran mereka yang semula hanya bersandar kepada Allah menjadi bersandar pada logika matematika, yaitu besarnya jumlah pasukan muslimin.
"Hari ini kita tidak mungkin kalah karena jumlah pasukan kita yang besar," seru mereka membanggakan pasukan muslimin.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم mendengar ungkapan ini, seketika bersedih. Dan, betul saja tunai Allah berikan pelajaran kepada pasukan muslimin. *Ketika sandaran telah berubah, dari bersandar kepada Allah menjadi kepada jumlah pasukan yang besar, maka Allah berlepas tangan dari pasukan muslimin.*
Apa yang terjadi? Rupanya pasukan Tsaqif dan Hawazin telah siap menyambut pasukan muslimin dengan serangan panah. Maka, pasukan muslimin dihujani oleh panah-panah yang tiada putus. Sedang, pasukan Tsaqif dan Hawazin terkenal dengan pasukan pemanah jitu. Kontan pasukan muslimin lari kocar-kacir. Semula sebagian kecil, lalu bertambah, bertambah, dan akhirnya sebagian besar pasukan muslimin lari berbalik mundur. Tersisa Rasulullah dan sahabat-sahabat utama.
Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan,
Founder Ekselensia Tahfizh School
"Sungguh, Allah telah menolong kamu (mukminin) di banyak medan perang, dan (ingatlah) Perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu, tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang dan lari tunggang langgang." (QS. At-Taubah [9]: 25)
Sebakda Fathul Makkah pada 10 Ramadhan 8 Hijriyah, sekira 15 hari berikutnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم memperoleh kabar dari teliksandi bahwa Bani Tsaqif dan Hawazin di Thaif (sekira 70 km dari Makkah) telah menghimpun kekuatan dan pasukan untuk menyerang Mekah. Maka, Rasulullah menyambutnya dengan menghimpun pasukan muslimin. Terkumpullah pasukan muslimin sejumlah 12.000 orang. Jumlah terbesar yang pernah dimiliki muslimin. Terdiri dari 10.000 pasukan muslimin Madinah untuk misi Fathul Mekah sebelumnya dan 2.000 pasukan muslimin Makkah yang baru masuk Islam pada peristiwa Fathul Makkah.
Berangkatlah pasukan muslimin dipimpin langsung oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Ini adalah perang terakhir muslimin yang dipimpin langsung oleh Rasulullah. Dan, perang Badar adalah perang pertama yang dipimpin langsung oleh Rasulullah. Nanti kita akan analisis pelajaran penting dari kedua perang ini. Karena, para ulama ketika membahas perang Hunain mesti mengaitkannya dengan perang Badar. Dan, untuk perang Hunain sendiri, memang mesti kita saksamai dan renungkan. Pada ayat 25 surat At-Taubah di atas, mulanya Al-Qur’an menggunakan redaksi umum (fi mawathin: banyak peperangan), namun kemudian menyebutkan Hunain secara khusus (wa yauma hunain).
(Baca Juga: Inilah Hikmah Besar dari Perang Badar)
Para ulama Tafsir menerangkan bahwa jika sesuatu yang khusus disebutkan kembali setelah sesuatu yang umum, padahal sesuatu yang khusus itu telah terangkum dalam sesuatu umum, itu artinya Allah menginginkan kita memberikan perhatian lebih dan mendalam pada sesuatu yang khusus itu. Maka, mari kita seksamai pelajaran apa yang ingin Allah sampaikan dari perang Hunain.
Pasukan muslimin bergerak menuju arah Thaif dan bertemu dengan pasukan Bani Tsaqif dan Hawazin pimpinan Malik bin Auf di lembah Hunain atau disebut juga lembah Atos. Di sinilah terdapat pelajaran penting dari Allah bagi muslimin, yang sejatinya pelajaran juga bagi kita di masa kini. Muslimin yang baru masuk Islam sekira 2.000 orang itu takjub dengan besarnya jumlah pasukan muslimin. Bergeserlah sandaran mereka yang semula hanya bersandar kepada Allah menjadi bersandar pada logika matematika, yaitu besarnya jumlah pasukan muslimin.
"Hari ini kita tidak mungkin kalah karena jumlah pasukan kita yang besar," seru mereka membanggakan pasukan muslimin.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم mendengar ungkapan ini, seketika bersedih. Dan, betul saja tunai Allah berikan pelajaran kepada pasukan muslimin. *Ketika sandaran telah berubah, dari bersandar kepada Allah menjadi kepada jumlah pasukan yang besar, maka Allah berlepas tangan dari pasukan muslimin.*
Apa yang terjadi? Rupanya pasukan Tsaqif dan Hawazin telah siap menyambut pasukan muslimin dengan serangan panah. Maka, pasukan muslimin dihujani oleh panah-panah yang tiada putus. Sedang, pasukan Tsaqif dan Hawazin terkenal dengan pasukan pemanah jitu. Kontan pasukan muslimin lari kocar-kacir. Semula sebagian kecil, lalu bertambah, bertambah, dan akhirnya sebagian besar pasukan muslimin lari berbalik mundur. Tersisa Rasulullah dan sahabat-sahabat utama.
Lihat Juga :