Runtuhnya Logika Matematika, Pelajaran dari Perang Hunain
Sabtu, 26 Desember 2020 - 21:40 WIB
loading...
A
A
A
Al-Qur'an menggambarkan peristiwa itu, "Sungguh, Allah telah menolong kamu (mukminin) di banyak medan perang, dan (ingatlah) Perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu, tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang dan lari tunggang langgang." (QS. At-Taubah [9]: 25)
Menyadari situasi genting, Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan kepada pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib yang bersuara keras, untuk menyeru pasukan muslimin yang lari dan mundur agar kembali. Abbas paham maksud Rasulullah. Muslimin lari dari peperangan karena bergeser niat dan sandarannya. Maka, cara untuk mengembalikan mereka adalah dengan panggilan iman. Panggilan yang mengembalikan memori muslimin pada masa-masa perjuangan karena iman. Maka, diserulah, "Ya ayyuhal Muhajirin, wa ya ayyuhal Anshar, ya ashabal Hudaibiyah, ya ashaba Suratil Baqarah."
Maka, segera muslimin yang lari mundur itu teringatkan dengan komitmen iman itu. Panggilan dengan kata Muhajirin dan Anshar mengingatkan mereka pada sumpah setia mendukung perjuangan dakwah Rasulullah. Hingga pada peristiwa Hudaibiyah sekalipun, mereka taat kepada keputusan Rasulullah صلى الله عليه وسلم meski secara sepintas perjanjian itu merugikan muslimin. Adapun surat Al-Baqarah, para sahabat teringat masa-masa indah belajar surat Al-Baqarah kepada Rasulullah.
Inilah surat yang paling lama dipelajari oleh para sahabat. Bahkan, Sayidina Umar bin Khathab saja perlu waktu 12 tahun untuk mempelajari hingga menghayati surat Al-Baqarah. Dan, inilah karakter orang beriman. Mereka mungkin terkhilaf, namun mereka mudah sekali diingatkan dan dikembalikan kepada kebenaran.
Hingga ketika telah nyata kesadaran pasukan muslimin, maka Allah pun memberikan pertolongan-Nya dan memaafkan mereka, "Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Dia menurunkan bala tentara (para malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menimpakan azab kepada orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir. Setelah itu Allah menerima tobat orang yang Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. At-Taubah [9]: 26 - 27).
Pasukan muslimin, dengan pertolongan Allah, berhasil memukul mudur pasukan Tsaqif dan Hawazin. Pasukan muslimin juga berhasil menawan Malik bin Auf, pimpinan besarnya, dan memperoleh ghanimah yang banyak sekali nominal jumlahnya.
Sebelum kita lanjutkan pembahasannya, sampai di sini mari kita kaji dulu pesan penting ayat-ayat tentang Hunain ini. Kita hubungkan dengan perang Badar untuk bisa lebih menginsyafi ayat tentang Hunain ini. Ketika terjadi perang Badar pada 17 Ramadhan 2 Hijriah, sedari awal, pada prosesnya, hingga akhir perang, niat dan sandaran muslimin dalam berperang murni Allah semata. Muslimin berniat berperang karena Allah dan bersandar total hanya kepada Allah. Maka, Allah pun menjanjikan pertolongan dan kemenangan. Dan, kemenangan itu pun diraih dengan gemilang meski jumlah pasukan muslimin sekira hanya 300 orang, sementara kafir Quraisy 1.000 orang.
Al-Qur'an merekam peristiwa ini, "(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, 'Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.' Dan tidaklah Allah menjadikannya melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tentram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Al-Anfal [8]: 9 – 10).
Hal berkebalikan terjadi pada perang Hunain. Niat dan sandaran muslimin yang semula bergantung kepada Allah semata bergeser menjadi bergantung pada jumlah pasukan yang banyak. Maka, Allah berikan pelajaran bagi muslimin dalam perang Hunain. Allah berlepas diri dari pasukan muslimin. Dampaknya, pasukan muslimin tercerai berai oleh serangan musuh. Pelajaran lainnya, meski yang bergeser sandarannya hanya sebagian pasukan muslimin, yaitu 2.000 orang yang baru masuk Islam, ternyata dampaknya bisa mengenai pasukan muslimin (tim) secara keseluruhan.
Maka, pada ayat lain, kita pun diingatkan, "Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya." (QS. Al-Anfal [8]: 25)
Menyadari situasi genting, Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan kepada pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib yang bersuara keras, untuk menyeru pasukan muslimin yang lari dan mundur agar kembali. Abbas paham maksud Rasulullah. Muslimin lari dari peperangan karena bergeser niat dan sandarannya. Maka, cara untuk mengembalikan mereka adalah dengan panggilan iman. Panggilan yang mengembalikan memori muslimin pada masa-masa perjuangan karena iman. Maka, diserulah, "Ya ayyuhal Muhajirin, wa ya ayyuhal Anshar, ya ashabal Hudaibiyah, ya ashaba Suratil Baqarah."
Maka, segera muslimin yang lari mundur itu teringatkan dengan komitmen iman itu. Panggilan dengan kata Muhajirin dan Anshar mengingatkan mereka pada sumpah setia mendukung perjuangan dakwah Rasulullah. Hingga pada peristiwa Hudaibiyah sekalipun, mereka taat kepada keputusan Rasulullah صلى الله عليه وسلم meski secara sepintas perjanjian itu merugikan muslimin. Adapun surat Al-Baqarah, para sahabat teringat masa-masa indah belajar surat Al-Baqarah kepada Rasulullah.
Inilah surat yang paling lama dipelajari oleh para sahabat. Bahkan, Sayidina Umar bin Khathab saja perlu waktu 12 tahun untuk mempelajari hingga menghayati surat Al-Baqarah. Dan, inilah karakter orang beriman. Mereka mungkin terkhilaf, namun mereka mudah sekali diingatkan dan dikembalikan kepada kebenaran.
Hingga ketika telah nyata kesadaran pasukan muslimin, maka Allah pun memberikan pertolongan-Nya dan memaafkan mereka, "Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Dia menurunkan bala tentara (para malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menimpakan azab kepada orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir. Setelah itu Allah menerima tobat orang yang Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. At-Taubah [9]: 26 - 27).
Pasukan muslimin, dengan pertolongan Allah, berhasil memukul mudur pasukan Tsaqif dan Hawazin. Pasukan muslimin juga berhasil menawan Malik bin Auf, pimpinan besarnya, dan memperoleh ghanimah yang banyak sekali nominal jumlahnya.
Sebelum kita lanjutkan pembahasannya, sampai di sini mari kita kaji dulu pesan penting ayat-ayat tentang Hunain ini. Kita hubungkan dengan perang Badar untuk bisa lebih menginsyafi ayat tentang Hunain ini. Ketika terjadi perang Badar pada 17 Ramadhan 2 Hijriah, sedari awal, pada prosesnya, hingga akhir perang, niat dan sandaran muslimin dalam berperang murni Allah semata. Muslimin berniat berperang karena Allah dan bersandar total hanya kepada Allah. Maka, Allah pun menjanjikan pertolongan dan kemenangan. Dan, kemenangan itu pun diraih dengan gemilang meski jumlah pasukan muslimin sekira hanya 300 orang, sementara kafir Quraisy 1.000 orang.
Al-Qur'an merekam peristiwa ini, "(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, 'Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.' Dan tidaklah Allah menjadikannya melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tentram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Al-Anfal [8]: 9 – 10).
Hal berkebalikan terjadi pada perang Hunain. Niat dan sandaran muslimin yang semula bergantung kepada Allah semata bergeser menjadi bergantung pada jumlah pasukan yang banyak. Maka, Allah berikan pelajaran bagi muslimin dalam perang Hunain. Allah berlepas diri dari pasukan muslimin. Dampaknya, pasukan muslimin tercerai berai oleh serangan musuh. Pelajaran lainnya, meski yang bergeser sandarannya hanya sebagian pasukan muslimin, yaitu 2.000 orang yang baru masuk Islam, ternyata dampaknya bisa mengenai pasukan muslimin (tim) secara keseluruhan.
Maka, pada ayat lain, kita pun diingatkan, "Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya." (QS. Al-Anfal [8]: 25)
Lihat Juga :