Menjelang Sakaratul Maut, Khalifah Umar Memanggil Calon Penggantinya
Kamis, 31 Desember 2020 - 19:12 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
KEPEMIMPINAN Khalifah Umar bin Khattab r.a . atas ummat Islam benar-benar memberikan ciri khusus kepada pertumbuhan Islam. Sumbangan yang diberikan bagi kemantapan hidup kenegaraan dan kemasyarakatan ummat, sungguh tidak kecil. (Baca juga: Kisah Teladan Umar bin Khattab, Sang Musuh Koruptor yang Anti-Nepotisme )
Umar bin Khattab r.a. wafat, setelah menderita sakit parah akibat luka-luka tikaman senjata tajam yang dilakukan secara gelap oleh seorang majusi bernama Abu Lu'lu-ah. Dalam keadaan kritis di atas pembaringan pemimpin ummat Islam ini masih sempat meletakkan dasar prosedur bagi pemilihan Khalifah penggantinya.
(Baca Juga : Canda Ala Sufi: Perintah Itu Mudah, Tetapi Pelaksanaannya Sulit )
Rasa tanggung jawabnya yang besar atas kesinambungan kepemimpinan ummat Islam masih tetap merisaukan hatinya, walaupun maut sudah berada di ambang kehidupannya.
Pada saat yang gawat itulah ia meminta pendapat para penasehatnya yang dalam catatan sejarah terkenal dengan sebutan "Ahlu Syuro", tentang siapa yang layak menduduki atau memegang pimpinan tertinggi ummat Islam.(Baca juga: Pembangunan Irak di Era Umar bin Khattab dan Fitnah Atas Saad bin Abi Waqqash )
Umar bin Khattab r.a. memang terkenal sebagai tokoh besar yang memiliki jiwa kerakyatan. Sehingga ketika di antara penasehatnya ada yang mengusulkan supaya Abdullah bin Umar , putera sulungnya, ditetapkan sebagai Khalifah pengganti, dengan cepat Umar r.a menolak.
Ia mengatakan: "Tak seorang pun dari dua orang anak lelakiku yang bakal meneruskan tugas itu. Cukuplah sudah apa yang sudah dibebankan kepadaku. Cukup Umar saja yang menanggung risiko. Tidak. Aku tidak sanggup lagi memikul tugas itu, baik hidup ataupun mati!"
Demikian kata Umar r.a. dengan suara berpacu mengejar tarikan nafas yang berat.
Sehabis mengucapkan kata-kata seperti di atas, Umar r.a. lalu mengungkapkan, bahwa sebelum wafat, Rasulullah SAW . telah merestui 6 orang sahabat dari kalangan Quraiys. Yaitu Ali bin Abi Thalib , Utsman bin Affan , Thalhah bin 'Ubaidillah , Zubair bin Al 'Awwam , Sa'ad bin Abi Waqqash dan Abdurrahman bin 'Auf .
"Aku berpendapat", kata Umar r.a. lebih jauh, "Sebaiknya kuserahkan kepada mereka sendiri supaya berunding, siapa di antara mereka yang akan dipilih."
Kemudian seperti berkata kepada diri sendiri, ia berucap: "Jika aku menunjuk siapa orangnya yang akan menggantikan aku, hal seperti itu pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dari aku, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq . Kalau aku tidak menunjuk siapa pun, hal itu pun pernah dilakukan oleh orang yang lebih afdhal daripada diriku, yakni Nabi Muhammad s.a.w."
Umar bin Khattab r.a. wafat, setelah menderita sakit parah akibat luka-luka tikaman senjata tajam yang dilakukan secara gelap oleh seorang majusi bernama Abu Lu'lu-ah. Dalam keadaan kritis di atas pembaringan pemimpin ummat Islam ini masih sempat meletakkan dasar prosedur bagi pemilihan Khalifah penggantinya.
(Baca Juga : Canda Ala Sufi: Perintah Itu Mudah, Tetapi Pelaksanaannya Sulit )
Rasa tanggung jawabnya yang besar atas kesinambungan kepemimpinan ummat Islam masih tetap merisaukan hatinya, walaupun maut sudah berada di ambang kehidupannya.
Pada saat yang gawat itulah ia meminta pendapat para penasehatnya yang dalam catatan sejarah terkenal dengan sebutan "Ahlu Syuro", tentang siapa yang layak menduduki atau memegang pimpinan tertinggi ummat Islam.(Baca juga: Pembangunan Irak di Era Umar bin Khattab dan Fitnah Atas Saad bin Abi Waqqash )
Umar bin Khattab r.a. memang terkenal sebagai tokoh besar yang memiliki jiwa kerakyatan. Sehingga ketika di antara penasehatnya ada yang mengusulkan supaya Abdullah bin Umar , putera sulungnya, ditetapkan sebagai Khalifah pengganti, dengan cepat Umar r.a menolak.
Ia mengatakan: "Tak seorang pun dari dua orang anak lelakiku yang bakal meneruskan tugas itu. Cukuplah sudah apa yang sudah dibebankan kepadaku. Cukup Umar saja yang menanggung risiko. Tidak. Aku tidak sanggup lagi memikul tugas itu, baik hidup ataupun mati!"
Demikian kata Umar r.a. dengan suara berpacu mengejar tarikan nafas yang berat.
Sehabis mengucapkan kata-kata seperti di atas, Umar r.a. lalu mengungkapkan, bahwa sebelum wafat, Rasulullah SAW . telah merestui 6 orang sahabat dari kalangan Quraiys. Yaitu Ali bin Abi Thalib , Utsman bin Affan , Thalhah bin 'Ubaidillah , Zubair bin Al 'Awwam , Sa'ad bin Abi Waqqash dan Abdurrahman bin 'Auf .
"Aku berpendapat", kata Umar r.a. lebih jauh, "Sebaiknya kuserahkan kepada mereka sendiri supaya berunding, siapa di antara mereka yang akan dipilih."
Kemudian seperti berkata kepada diri sendiri, ia berucap: "Jika aku menunjuk siapa orangnya yang akan menggantikan aku, hal seperti itu pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dari aku, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq . Kalau aku tidak menunjuk siapa pun, hal itu pun pernah dilakukan oleh orang yang lebih afdhal daripada diriku, yakni Nabi Muhammad s.a.w."
Lihat Juga :