Penaklukan Persia (35)

Pembangunan Irak di Era Umar bin Khattab dan Fitnah Atas Saad bin Abi Waqqash

loading...
Pembangunan Irak di Era Umar bin Khattab dan Fitnah Atas Saad bin Abi Waqqash
Ilustrasi/Ist
KHALIFAH Umar bin Khattab tetap bersikeras dengan pendapatnya bahwa buat dia cukup hanya sampai di Irak dan ia akan mengusir Persia dari perbatasannya. Ketika itu Persia sudah tidak memperhatikan Irak karena sedang sibuk dengan pergolakan yang terjadi di Istananya, di samping segalanya memang sudah tidak terurus dan keserakahan pribadi-pribadi yang hanya mementingkan diri sendiri. (Baca juga: Membangun Kota Basrah dan Kebijakan Umar bin Khattab Terhadap Petani )

Keadaan di Irak juga menjadi kacau, semua fasilitas umum rusak, produksi dan hasil bumi terlantar. Sekarang Umar ingin mencurahkan perhatiannya pada usaha perbaikannya. la mengerahkan pembantu-pembantunya untuk memperbaiki prasarana jalan, mengatur pengairan (irigasi) supaya air dapat mencapai setiap sudut tanah pertanian yang produktif. Jembatan-jembatan besar kecil diperbaiki.

Semua bangunan yang roboh atau rusak akibat perang di segenap penjuru negeri diperbaiki kembali. Ahli-ahli bangunan orang Persia yang tinggal di Irak merupakan tenaga yang paling tepat untuk melaksanakan pekerjaan ini.

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul " Umar bin Khattab " memaparkan sesudah mereka melihat pemerintahan Muslimin di negeri ini stabil, dan Kisra sendiri sudah tidak mampu mengembalikan kekuasaannya, ditambah lagi keamanan, ketenteraman dan keadilan yang begitu merata, maka mereka pun merasa lebih baik bekerja sama dengan penguasa sekarang demi kebaikan Irak dan rakyatnya. (Baca juga: Membangun Kota Kufah, Khalifah Umar Tegur Keras Sa'ad Bin Abi Waqqash )

Dengan selesainya semua perbaikan ini pemerintah baru terasa sudah makin mantap. Pembesar-pembesar Persia sendiri yang tinggal di Irak sebagai kaum zimmi dan melihat harta kekayaan mereka sudah dikembalikan kepada mereka akibat pembangunan ini, justru membuat mereka bertambah kaya. Para petani juga merasakan kemakmuran itu telah membuat mereka hidup lebih aman dan lebih senang.

Orang-orang Arab dari kabilah-kabilah yang tinggal di sekitarnya melihat pemerintahan bangsanya ternyata lebih baik daripada Persia, dan keadilan lebih merata. Semua pihak merasa puas dengan sistem yang oleh Amirulmukminin diperkenalkan sebagai dasar pemerintahannya itu. Mereka lebih tekun mengembangkan harta mereka, lebih rajin mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Untuk apa mereka memusatkan pikiran ke soal yang lain padahal mereka tahu kekuatan Musiimin di setiap tempat di dekat mereka selalu siap menumpas segala macam usaha yang hendak mengobarkan pemberontakan. (Baca juga: Di Persia, Orang-Orang Arab Menjadi Kurus dan Loyo )

Usaha mencari rezeki dan kekayaan memang menjadi pendorong semua orang Irak. Sebaliknya para prajurit yang datang itu merasa sudah cukup senang dengan pemberian yang mereka terima. Tetapi mereka satu sama lain masih saling iri dan bersaing.

Kita sudah melihat bagaimana orang Basrah iri hati terhadap penduduk Kufah karena letak dan besarnya kekayaan kota itu. Kabilah-kabilah yang tinggal di kedua kota ini saling bersaing dan saling berbangga-bangga, karena watak dasar kabilah memang mendorong mereka ke arah yang demikian.
Ditambah lagi kesenjangan yang ada makin memperkuat semangat mereka. Mereka melihat Umar membeda-bedakan mereka dan lebih mengutamakan Quraisy daripada yang lain, mengangkat kedudukan kaum Muhajirin dan Ansar melebihi yang lain.

Ini juga yang mendorong mereka melakukan tipu muslihat terhadap orang-orang yang lebih mendapat tempat dalam hati Khalifah. Muslihat itulah pula yang sampai mengaitkan Sa’ad bin Abi Waqqas kepada hal-hal yang memang tak pernah dikatakannya ketika ia membuat pintu gedung itu.

Ada lagi golongan yang melaporkan Sa’ad kepada Umar, bahwa salatnya tidak becus. Umar mengutus orang untuk menanyakan kepada penduduk tentang kebenaran berita tersebut. (Baca juga: Penyerangan Delta Furat dan Tigris Tanpa Izin Khalifah Umar bin Khattab )

Setelah diketahui bahwa ia mengimami salat seperti dilakukan oleh Rasulullah , ia berkata: Abu Ishaq (panggilan Sa'ad bin Abi Waqqash), itu hanya tuduhan orang kepada Anda! Demikian rupa muslihat penduduk Kufah itu kepada Sa’ad bahwa katanya pada suatu hari ia berkata di hadapan mereka: "Ya Allah, janganlah ada seorang amir pun yang menyenangi mereka, dan janganlah pula ada amir yang mereka senangi."

Tetapi seolah-olah Allah telah mengabulkan doa Sa’ad. Setiap ada pemimpin di Kufah pasti oleh penduduk difitnah kepada Khalifah. Soalnya karena pemimpin itu memandang mereka saling menipu dan saling mengobarkan permusuhan. Maka ia berusaha menumpas fitnah mereka itu, lalu berbalik, merekalah yang mengadukannya kepada Amirulmukminin.

Haekal mengatakan pengaruh persaingan antara penduduk Kufah dengan penduduk Basrah dan Muslimin yang lain di Irak tak ada yang perlu dikhawatirkan akan membawa akibat pada pemerintahan Umar. Semua Muslimin sebenarnya tentara yang siap dipanggil ke medan perang setiap saat.
Ketika itulah persaingan mereka akan mereda. Lalu rakyat hanya menantikan berita-berita, apa yang terjadi, menguntungkankah atau merugikan.

Segala kegiatan pembangunan yang sudah begitu membahana di seluruh Irak membuat semua orang sudah begitu sibuk sehingga tidak mau lagi mereka mendengarkan berita-berita tentang persaingan itu. Di samping itu, Umar yang begitu tegas dan keras, adalah juga orang yang sangat bijaksana dan penuh kasih.

Sikap kerasnya itu tidak akan membiarkan timbulnya kerusuhan, sikap bijaksana dan kasih sayangnya tidak akan membiarkan orang yang merasa dirugikan mengeluh.

Dengan demikian, keadaan di Irak.tetap berjalan tenang dan menyenangkan, tidak sampai mengganggu Khaiifah, juga tidak mengganggu kaum Muslimin yang lain. (Baca juga: Penyerangan Delta Furat dan Tigris Tanpa Izin Khalifah Umar bin Khattab )
(mhy)
preload video