Begini Cara Syekh Maulana Ishak Mengislamkan Raja Blambangan
Rabu, 06 Januari 2021 - 06:47 WIB
loading...
A
A
A
Belum lagi hilang rasa terkejutnya Sang Patih, dilihatnya batang pohon sawo itu mengeluarkan asap dan kulit pohon itu menjadi hitam. Tak lama kemudian buah dan pohon sawo itu rontok, berguguran ke tanah. Serta merta Patih Bajul Sengara menjatuhkan diri, berlutut di depan sang Resi.
Baca juga: Kisah Sunan Gresik: Ketika Kakek Bantal Menaklukkan Dewa Hujan
Resi Kandabaya masih dalam sikap semula. Duduk bersila dengan mata terpejam. Seperti tak pernah terjadi suatu apa.
“Ampun …… ampunilah kekurangajaran hamba,” ujar Patih Bajul Sengara dengan terbata-bata. Tak ada reaksi dari sang Resi.
Tiba-tiba ada seekor merpati putih hinggap di depan sang Resi. Merpati itu meletakkan selembar daun lontar yang dijepit di paruhnya. Dan sesaat kemudian merpati itu mengeluarkan bunyi.
Aneh, sang Resi kemudian membuka sepasang matanya setelah mendengar suara si merpati. Sang Resi tersenyum dan segera mengelus-elus sayap merpati.
“Terima kasih Pethak ………” ujar sang Resi.” Sekarang kau boleh bermain-main atau beristirahat sesukamu.”
Merpati itu mengangguk-anggukkan kepala, seolah mengerti apa yang diucapkan sang Resi. Kemudian dia mengepakkan sayapnya, terbang ke sebuah pohon kenari tak jauh dari Padepokan Resi Kandabaya.
Sang Resi segera mengambil daun lontar yang diletakkan merpati tadi. Dia seperti tak menghiraukan adanya Patih Bajul Sangara yang membenturkan kepalanya berkali-kali ke lantai Padepokan.
“Ampun ......... ampunilah kekurangajaran dan kelancangan hamba menganggu ketenangan Bapa Resi ......... “
Demikian ucap Patih Bajul Sengara. Resi Kandabaya masih tak menghiraukan sang patih. Dia sedang asyik membaca gurat-gurat berbentuk tulisan di daun lontar yang dipegangnya. (Baca juga: Kisah Sunan Gresik: Ketika Raja Gedah Membujuk Raja Brawijaya Memeluk Islam )
Sesudah membaca tulisan di daun lontar, sang Resi bangkit berdiri. Berjalan ke arah sepuluh prajurit yang menggeletak kesakitan tanpa dapat bergerak.
Hanya dengan beberapa kali tepukan pada bagian-bagian tertentu di tubuh para prajurit itu maka kesepuluh anak buah Patih Bajul Sengara dapat bergerak lagi dan rasa sakit di sekujur tubuh mereka telah hilang.
Serta merta sepuluh orang itu menjatuhkan diri berlutut di depan sang Resi. Tapi Resi itu tidak menghiraukan mereka lagi. Dia berjalan ke arah Padepokan tempatnya bersemedi tadi. Tapi kali ini dia tidak duduk bersemedi melainkan tegak di depan Patih Bajul Sengara.
“Memang hebat dan sopan caramu bertamu ke mari hai Patih Bajul Sengara !” tegur sang Resi.
“Ampun bapa Resi ......... hamba harus yakin bahwa orang yang hendak mintai pertolongan memang benar-benar mumpunim,” ujar Patih Bajul Sengara.
“Ya, aku sudah tahu hal itu,” tukas sang resi. “Kau hendak memintaku mengobati penyakit sang putri Dewi Sekardadu dan mengusir wabah pagebluk dari Blambangan atas perintah Prabu Menak Sembuyu!”
“Mohon ampun Bapa Resi, memang demikianlah adanya kedatangan hamba kemari.”
“Tapi kau salah alamat Patih! Wabah penyakit itu sudah dikehendaki Dewata Agung. Aku tak mampu mengusirnya, juga tak mampu menyembuhkan Dewi Sekardadu. (Baca juga: Takluknya Brandal Lokajaya kepada Sunan Bonang )
“Tapi … hamba mohon petunjuk …“ kata Patih Bajul Sengara, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Mumpung bisa bertemu dengan tokoh seperti Resi Kandabaya dia harus memperoleh hasil, setidak-tidaknya dia harus mendapatkan keterangan bagaimana cara mengobati atau mendapatkan orang yang mampu mengobati Dewi Sekardadu.
Resi Kandabaya seperti mengerti apa yang tersirat di hati Patih Bajul Sengara. Sesudah menarik nafas panjang karena kesal melihat sikap sang Patih diapun berkata, “Baiklah Patih, aku akan memberimu petunjuk. Pada saat itu hanya ada satu orang yang mampu menyembuhkan penyakit Dewi Sekardadu sekaligus mengusir wabah penyakit dari seluruh wilayah Blambangan. Tapi...”, Resi Kandabaya tidak meneruskan ucapannya. Ditatapnya tajam-tajam wajah Patih Bajul Sengara. Sang Patih makin menundukkan mukanya, tak ada keberanian baginya untuk bertatap muka dengan Resi yang terbukti sangat sakti itu.
“Apapun yang terjadi, hamba … juga Gusti Prabu Menak Sembayu takkan peduli asal Dewi Sekardadu sembuh dari sakitnya.” ujar Patih Bajul Sengara untuk menghapus keraguan Resi Kandabaya.
“Benarkah? Tapi aku tidak yakin,” sahut sang Resi.” Akan terjadi sesuatu di luar perhitunganmu dan hal itu akan membakar hatimu. Tapi baiklah, kalau kau ingin mengetahui orang yang hendak menyembuhkan Dewi Sekardadu. Ikutilah merpati putih itu terbang. Tapi kuperingatkan, jangan kau mencoba bersikap kurang ajar kepada orang yang hendak menyembuhkan Dewi Sekardadu itu. Dan apapun syaratnya yang diajukannya hendaknyan kau dan Prabu Menak Sembuyu meluluskannya.”
“Segala pesan Bapa Resi akan hamba perhatikan baik-baik.” Sekarang sudah hampir malam, beristirahatlah di Padepokan ini. Besok pagi kalian boleh berangkat menuju gunung Selangu. Merpati putih akan mengantarmu hingga ke tempat tujuan.”
Demikianlah, Patih Bajul Sengara dan anak buahnya malam itu bermalam di Padepokan Resi Kandabaya. Esok harinya mereka sudah bersiap-siap berangkat ke gunung Selangu. “Sampaikan salam perdamaian kepada pertapa di gunung Selangu itu.”
Pesan Resi Kandabaya sebelum Patih Bajul Sengara meninggalkan Padepokan. “Pesan Bapa Resi akan hamba sampaikan,” jawab Patih Bajul Sengara penuh hormat.
Baca juga: Kisah Sunan Gresik: Ketika Kakek Bantal Menaklukkan Dewa Hujan
Resi Kandabaya masih dalam sikap semula. Duduk bersila dengan mata terpejam. Seperti tak pernah terjadi suatu apa.
“Ampun …… ampunilah kekurangajaran hamba,” ujar Patih Bajul Sengara dengan terbata-bata. Tak ada reaksi dari sang Resi.
Tiba-tiba ada seekor merpati putih hinggap di depan sang Resi. Merpati itu meletakkan selembar daun lontar yang dijepit di paruhnya. Dan sesaat kemudian merpati itu mengeluarkan bunyi.
Aneh, sang Resi kemudian membuka sepasang matanya setelah mendengar suara si merpati. Sang Resi tersenyum dan segera mengelus-elus sayap merpati.
“Terima kasih Pethak ………” ujar sang Resi.” Sekarang kau boleh bermain-main atau beristirahat sesukamu.”
Merpati itu mengangguk-anggukkan kepala, seolah mengerti apa yang diucapkan sang Resi. Kemudian dia mengepakkan sayapnya, terbang ke sebuah pohon kenari tak jauh dari Padepokan Resi Kandabaya.
Sang Resi segera mengambil daun lontar yang diletakkan merpati tadi. Dia seperti tak menghiraukan adanya Patih Bajul Sangara yang membenturkan kepalanya berkali-kali ke lantai Padepokan.
“Ampun ......... ampunilah kekurangajaran dan kelancangan hamba menganggu ketenangan Bapa Resi ......... “
Demikian ucap Patih Bajul Sengara. Resi Kandabaya masih tak menghiraukan sang patih. Dia sedang asyik membaca gurat-gurat berbentuk tulisan di daun lontar yang dipegangnya. (Baca juga: Kisah Sunan Gresik: Ketika Raja Gedah Membujuk Raja Brawijaya Memeluk Islam )
Sesudah membaca tulisan di daun lontar, sang Resi bangkit berdiri. Berjalan ke arah sepuluh prajurit yang menggeletak kesakitan tanpa dapat bergerak.
Hanya dengan beberapa kali tepukan pada bagian-bagian tertentu di tubuh para prajurit itu maka kesepuluh anak buah Patih Bajul Sengara dapat bergerak lagi dan rasa sakit di sekujur tubuh mereka telah hilang.
Serta merta sepuluh orang itu menjatuhkan diri berlutut di depan sang Resi. Tapi Resi itu tidak menghiraukan mereka lagi. Dia berjalan ke arah Padepokan tempatnya bersemedi tadi. Tapi kali ini dia tidak duduk bersemedi melainkan tegak di depan Patih Bajul Sengara.
“Memang hebat dan sopan caramu bertamu ke mari hai Patih Bajul Sengara !” tegur sang Resi.
“Ampun bapa Resi ......... hamba harus yakin bahwa orang yang hendak mintai pertolongan memang benar-benar mumpunim,” ujar Patih Bajul Sengara.
“Ya, aku sudah tahu hal itu,” tukas sang resi. “Kau hendak memintaku mengobati penyakit sang putri Dewi Sekardadu dan mengusir wabah pagebluk dari Blambangan atas perintah Prabu Menak Sembuyu!”
“Mohon ampun Bapa Resi, memang demikianlah adanya kedatangan hamba kemari.”
“Tapi kau salah alamat Patih! Wabah penyakit itu sudah dikehendaki Dewata Agung. Aku tak mampu mengusirnya, juga tak mampu menyembuhkan Dewi Sekardadu. (Baca juga: Takluknya Brandal Lokajaya kepada Sunan Bonang )
“Tapi … hamba mohon petunjuk …“ kata Patih Bajul Sengara, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Mumpung bisa bertemu dengan tokoh seperti Resi Kandabaya dia harus memperoleh hasil, setidak-tidaknya dia harus mendapatkan keterangan bagaimana cara mengobati atau mendapatkan orang yang mampu mengobati Dewi Sekardadu.
Resi Kandabaya seperti mengerti apa yang tersirat di hati Patih Bajul Sengara. Sesudah menarik nafas panjang karena kesal melihat sikap sang Patih diapun berkata, “Baiklah Patih, aku akan memberimu petunjuk. Pada saat itu hanya ada satu orang yang mampu menyembuhkan penyakit Dewi Sekardadu sekaligus mengusir wabah penyakit dari seluruh wilayah Blambangan. Tapi...”, Resi Kandabaya tidak meneruskan ucapannya. Ditatapnya tajam-tajam wajah Patih Bajul Sengara. Sang Patih makin menundukkan mukanya, tak ada keberanian baginya untuk bertatap muka dengan Resi yang terbukti sangat sakti itu.
“Apapun yang terjadi, hamba … juga Gusti Prabu Menak Sembayu takkan peduli asal Dewi Sekardadu sembuh dari sakitnya.” ujar Patih Bajul Sengara untuk menghapus keraguan Resi Kandabaya.
“Benarkah? Tapi aku tidak yakin,” sahut sang Resi.” Akan terjadi sesuatu di luar perhitunganmu dan hal itu akan membakar hatimu. Tapi baiklah, kalau kau ingin mengetahui orang yang hendak menyembuhkan Dewi Sekardadu. Ikutilah merpati putih itu terbang. Tapi kuperingatkan, jangan kau mencoba bersikap kurang ajar kepada orang yang hendak menyembuhkan Dewi Sekardadu itu. Dan apapun syaratnya yang diajukannya hendaknyan kau dan Prabu Menak Sembuyu meluluskannya.”
“Segala pesan Bapa Resi akan hamba perhatikan baik-baik.” Sekarang sudah hampir malam, beristirahatlah di Padepokan ini. Besok pagi kalian boleh berangkat menuju gunung Selangu. Merpati putih akan mengantarmu hingga ke tempat tujuan.”
Demikianlah, Patih Bajul Sengara dan anak buahnya malam itu bermalam di Padepokan Resi Kandabaya. Esok harinya mereka sudah bersiap-siap berangkat ke gunung Selangu. “Sampaikan salam perdamaian kepada pertapa di gunung Selangu itu.”
Pesan Resi Kandabaya sebelum Patih Bajul Sengara meninggalkan Padepokan. “Pesan Bapa Resi akan hamba sampaikan,” jawab Patih Bajul Sengara penuh hormat.
Lihat Juga :