Malu Bagian dari Iman, Begini Penjelasan Habib Quraisy
Kamis, 07 Januari 2021 - 22:21 WIB
loading...
A
A
A
Padahal, Allah berfirman, "Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu kendati kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh." (QS an-Nisa [4]: 78)
"Dengan rasa malu kepada Allah, insya Allah kita akan mendapatkan kebahagiaan hakiki di akhirat," jelas Habib Quraisy yang juga salah satu murid ulama besar Hadramaut Yaman, Habib Umar bin Hafidz.
Islam mengajarkan bahwa rasa malu merupakan bagian dari iman. Nabi bersabda: Al-hayâu' min al-îmân, bahwa perasaan malu adalah sebagian dari iman. Malah, dalam hadis lain, Rasulullah menegaskan, iman dan rasa malu merupakan sesuatu yang tak terpisahkan.
الحياءُ و الإيمانُ قُرِنا جميعًا ، فإذا رُفِعَ أحدُهما رُفِعَ الآخَرُ
Al-îmanu wa al- hayâu' quranâu' jamî'an, faidzâ rufi'a ahaduhuma rufi'a al-âkharu (Iman dan rasa malu senantiasa bersama, apabila salah satunya hilang maka hilanglah yang lainnya). (HR Hakim dan Thabrani).
Ini artinya, ekspresi malu dalam keseharian itu merupakan cermin kualitas keimanan kita. Ekspresi rasa malu ditujukan kepada sesama manusia dan Allah. Dari dua ekspresi rasa malu ini, tentu saja nilai ekspresi rasa malu tertinggi adalah ekspresi rasa malu kepada Allah.
Ekspresi malu kepada-Nya membuat ekspresi rasa malu kita, kepada sesama menjadi bermakna. Bagaimanapun besarnya ekspresi rasa malu kepada sesama, jika tidak dibarengi dengan ekspresi rasa malu kepada-Nya, ekspresi itu tidak memiliki arti apa-apa di hadapan Allah.
(Baca Juga: Habib Quraisy Baharun: 2 Perhiasan Paling Baik Bagi Manusia)
Wallahu A'lam
"Dengan rasa malu kepada Allah, insya Allah kita akan mendapatkan kebahagiaan hakiki di akhirat," jelas Habib Quraisy yang juga salah satu murid ulama besar Hadramaut Yaman, Habib Umar bin Hafidz.
Islam mengajarkan bahwa rasa malu merupakan bagian dari iman. Nabi bersabda: Al-hayâu' min al-îmân, bahwa perasaan malu adalah sebagian dari iman. Malah, dalam hadis lain, Rasulullah menegaskan, iman dan rasa malu merupakan sesuatu yang tak terpisahkan.
الحياءُ و الإيمانُ قُرِنا جميعًا ، فإذا رُفِعَ أحدُهما رُفِعَ الآخَرُ
Al-îmanu wa al- hayâu' quranâu' jamî'an, faidzâ rufi'a ahaduhuma rufi'a al-âkharu (Iman dan rasa malu senantiasa bersama, apabila salah satunya hilang maka hilanglah yang lainnya). (HR Hakim dan Thabrani).
Ini artinya, ekspresi malu dalam keseharian itu merupakan cermin kualitas keimanan kita. Ekspresi rasa malu ditujukan kepada sesama manusia dan Allah. Dari dua ekspresi rasa malu ini, tentu saja nilai ekspresi rasa malu tertinggi adalah ekspresi rasa malu kepada Allah.
Ekspresi malu kepada-Nya membuat ekspresi rasa malu kita, kepada sesama menjadi bermakna. Bagaimanapun besarnya ekspresi rasa malu kepada sesama, jika tidak dibarengi dengan ekspresi rasa malu kepada-Nya, ekspresi itu tidak memiliki arti apa-apa di hadapan Allah.
(Baca Juga: Habib Quraisy Baharun: 2 Perhiasan Paling Baik Bagi Manusia)
Wallahu A'lam
(rhs)
Lihat Juga :