Kisah Cucu Raja Blambangan Setelah Dibuang ke Laut karena Dianggap Bawa Sial
Jum'at, 08 Januari 2021 - 18:05 WIB
loading...
A
A
A
Dalam beberapa minggu saja Sunan Ampel telah dapat mengetahui bahwa Joko Samodra bukanlah anak sembarangan. Muridnya yang satu ini memiliki kecerdasan luar biasa. Semua pelajaran yang diberikan mampu dicerna dan dihafal dalam tempo yang tidak terlalu lama.
Baca juga: Musik sebagai Alat Dakwah Syaikh Maulana Makdum Ibrahim (1)
Pada suatu malam, seperti biasa Raden Rahmat hendak mengambil air wudhu guna melaksanakan salat tahajud, Sebelum berwudlu Raden Rahmat menyempatkan diri melihat-lihat para santri yang tidur di asrama. Tiba-tiba Raden Rahmat terkejut. Ada sinar terang memancar dari salah seorang santrinya.
Selama beberapa saat beliau tertegun, sinar terang itu menyilaukan mata, untuk mengetahui siapakah murid yang wajahnya bersinar itu maka Sunan Ampel memberi ikatan pada pada sarung murid itu.
Esok harinya, sesudah shalat subuh, Sunan Ampel memanggil murid-muridnya itu. “Siapakah di antara kalian yang waktu bangun tidur kain sarungnya ada ikatan ?” tanya Sunan Ampel.
“Saya Kanjeng Sunan…“ jawab Joko Samodra mengacungkan tangannya.
Sunan Ampel makin yakin bahwa anak itu pastilah bukan anak sembarangan. Kala Nyai Ageng Pinatih datang menengok Joko Samodra, kesempatan ini digunakan Sunan Ampel untuk bertanya lebih jauh tentang asal usul santrinya itu.
Nyai Ageng Pinatih menjawab sejujur-jujurnya. Bahwa Joko Samodra ditemukan di tengah Selat Bali ketika masih bayi. Peti yang digunakan untuk membuang bayi itu hingga sekarang masih tersimpan rapi di rumah Nyai Ageng Pinatih.
Sunan Ampel kemudian menyempatkan diri datang ke Gresik untuk melihat peti yang masih tersimpan rapi itu.
Baca juga: Kisah Sunan Gresik: Ketika Kakek Bantal Menaklukkan Dewa Hujan
Berdasarkan pengamatan Sunan Ampel peti itu memang berasal dari kalangan istana Blambangan, hal itu diketahui dari ciri-ciri ukiran dan tanda khusus pada peti itu. Yakinlah Sunan Ampel bahwa Joko Samodra adalah putra Syaikh Maulana Ishaq yang dibuang ke tengah samodra.
Teringat pada pesan Syaikh Maulana Ishaq sebelum berangkat ke negeri Pasai maka Sunan Ampel kemudian mengusulkan pada Nyai Ageng Pinatih agar nama anak itu diganti dengan nama Raden Paku .
Nyai Ageng Pinatih menurut saja apa kata Sunan Ampel, dia pergaya penuh kepada Wali besar yang sangat dihormati masyarakat bahkan juga masih terhitung seorang Pangeran Majapahit itu. (Bersambung)
Baca juga: Musik sebagai Alat Dakwah Syaikh Maulana Makdum Ibrahim (1)
Pada suatu malam, seperti biasa Raden Rahmat hendak mengambil air wudhu guna melaksanakan salat tahajud, Sebelum berwudlu Raden Rahmat menyempatkan diri melihat-lihat para santri yang tidur di asrama. Tiba-tiba Raden Rahmat terkejut. Ada sinar terang memancar dari salah seorang santrinya.
Selama beberapa saat beliau tertegun, sinar terang itu menyilaukan mata, untuk mengetahui siapakah murid yang wajahnya bersinar itu maka Sunan Ampel memberi ikatan pada pada sarung murid itu.
Esok harinya, sesudah shalat subuh, Sunan Ampel memanggil murid-muridnya itu. “Siapakah di antara kalian yang waktu bangun tidur kain sarungnya ada ikatan ?” tanya Sunan Ampel.
“Saya Kanjeng Sunan…“ jawab Joko Samodra mengacungkan tangannya.
Sunan Ampel makin yakin bahwa anak itu pastilah bukan anak sembarangan. Kala Nyai Ageng Pinatih datang menengok Joko Samodra, kesempatan ini digunakan Sunan Ampel untuk bertanya lebih jauh tentang asal usul santrinya itu.
Nyai Ageng Pinatih menjawab sejujur-jujurnya. Bahwa Joko Samodra ditemukan di tengah Selat Bali ketika masih bayi. Peti yang digunakan untuk membuang bayi itu hingga sekarang masih tersimpan rapi di rumah Nyai Ageng Pinatih.
Sunan Ampel kemudian menyempatkan diri datang ke Gresik untuk melihat peti yang masih tersimpan rapi itu.
Baca juga: Kisah Sunan Gresik: Ketika Kakek Bantal Menaklukkan Dewa Hujan
Berdasarkan pengamatan Sunan Ampel peti itu memang berasal dari kalangan istana Blambangan, hal itu diketahui dari ciri-ciri ukiran dan tanda khusus pada peti itu. Yakinlah Sunan Ampel bahwa Joko Samodra adalah putra Syaikh Maulana Ishaq yang dibuang ke tengah samodra.
Teringat pada pesan Syaikh Maulana Ishaq sebelum berangkat ke negeri Pasai maka Sunan Ampel kemudian mengusulkan pada Nyai Ageng Pinatih agar nama anak itu diganti dengan nama Raden Paku .
Nyai Ageng Pinatih menurut saja apa kata Sunan Ampel, dia pergaya penuh kepada Wali besar yang sangat dihormati masyarakat bahkan juga masih terhitung seorang Pangeran Majapahit itu. (Bersambung)
(mhy)
Lihat Juga :