Ulama NU Ini Ingatkan Para Dai Belajar Cara Dakwah Islam dari Sunan Ampel
Kamis, 06 Mei 2021 - 10:39 WIB
loading...
Ulama Nahdatul Ulama (NU) KH Taufik Damas saat mengisi Ngabuburit Bersama BKNP PDIP, Rabu (5/5) sore. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Meskipun Islam datang dari tanah Arab, namun para Walisongo tidak mentah-mentah mengajarkan Islam sebagaimana Islam di Arab.
Menurut Ulama Nahdatul Ulama (NU) KH Taufik Damas, pada abad 15 dan 16, Walisongo menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa. Caranya adalah denga lebih mengedepankan unsur budaya dan tradisi yang berkembang di masyarakat. Inilah yang justru dijadikan sebagai piranti dalam menyebarkan Islam.
Baca juga: Hukum Memasuki Gereja Menurut Mazhab Syafi'iyah
“Islam hadir memang dari tanah Arab. Namun dalam penyebaran agama Islam di Tanah Jawa, Walisongo termasuk Sunan Ampel, selalu beradaptasi dengan kebudayaan lokal sesuai dengan kondisi sosial politik masyarakat setempat,” kata Kiai Taufik, Rabu (5/5/2021).
Dia mengatakan itu saat mengisi Ngabuburit Bersama Badan Kebudayaan Nasional Pusat (BKNP) PDI Perjuangan (PDIP), yang dilaksanakan jelang berbuka puasa, Rabu (5/5/2021) sore. Acara itu dipandu host Sekretaris BKNP PDIP, Rano Karno, yang juga Anggota DPR RI.
![Ulama NU Ini Ingatkan Para Dai Belajar Cara Dakwah Islam dari Sunan Ampel]()
Menurut Wakil Khatib Syuriah PWNU DKI Jakarta itu, pemahaman soal hal tersebut penting dan kontekstual pada saat ini. Metode dakwah seperti yang yang digunakan Sunan Ampel perlu ditiru. Kalaupun dimodifikasi sesuai kekinian, namun substansi pendekatan budayanya, seharusnya tak berubah.
Baca juga: KH Ahmad Baso: Nasionalisme Merupakah Strategi Jitu Walisongo Merangkul Semua Kalangan
Bahwa dalam berdakwah itu tidak hanya mengajarkan masyarakat untuk mengerti betul tentang agama Islam. Tetapi juga harus memiliki sikap kebijaksanaan. "Karena kebijaksanaan merupakan proses berdakwah dengan penuh santun dan lebih mengedepankan ketenangan hati kepada masyarakat," urainya.
"Sikap inilah yang penting untuk dikembangkan seorang da’i dalam berdakwah, sebagaimana halnya yang telah dilakukan oleh Sunan Ampel," tambah Kiai Taufik.
Berdasarkan pendalaman ilmu yang dilakukannya, diketahui bahwa Walisongo datang ke Indonesia dengan kesadaran bahwa Nusantara memiliki banyak kebudayaan yang beragam. Maka ketika berdakwah, para Walisongo menyesuaikan metodenya dengan fakta yang ada dan tengah berkembang saat itu.
"Para Walisongo sangat mengerti betul bahwa karakter dan budaya orang Arab sangat jauh berbeda dengan kondisi masyarakat Indonesia. Pola-pola ajaran keislaman yang berkembang di Arab berdasarkan budayanya, ini tidak bisa serta merta diajarkan mentah-mentah kepada masyarakat Indonesia," jelasnya.
Menurut Ulama Nahdatul Ulama (NU) KH Taufik Damas, pada abad 15 dan 16, Walisongo menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa. Caranya adalah denga lebih mengedepankan unsur budaya dan tradisi yang berkembang di masyarakat. Inilah yang justru dijadikan sebagai piranti dalam menyebarkan Islam.
Baca juga: Hukum Memasuki Gereja Menurut Mazhab Syafi'iyah
“Islam hadir memang dari tanah Arab. Namun dalam penyebaran agama Islam di Tanah Jawa, Walisongo termasuk Sunan Ampel, selalu beradaptasi dengan kebudayaan lokal sesuai dengan kondisi sosial politik masyarakat setempat,” kata Kiai Taufik, Rabu (5/5/2021).
Dia mengatakan itu saat mengisi Ngabuburit Bersama Badan Kebudayaan Nasional Pusat (BKNP) PDI Perjuangan (PDIP), yang dilaksanakan jelang berbuka puasa, Rabu (5/5/2021) sore. Acara itu dipandu host Sekretaris BKNP PDIP, Rano Karno, yang juga Anggota DPR RI.

Menurut Wakil Khatib Syuriah PWNU DKI Jakarta itu, pemahaman soal hal tersebut penting dan kontekstual pada saat ini. Metode dakwah seperti yang yang digunakan Sunan Ampel perlu ditiru. Kalaupun dimodifikasi sesuai kekinian, namun substansi pendekatan budayanya, seharusnya tak berubah.
Baca juga: KH Ahmad Baso: Nasionalisme Merupakah Strategi Jitu Walisongo Merangkul Semua Kalangan
Bahwa dalam berdakwah itu tidak hanya mengajarkan masyarakat untuk mengerti betul tentang agama Islam. Tetapi juga harus memiliki sikap kebijaksanaan. "Karena kebijaksanaan merupakan proses berdakwah dengan penuh santun dan lebih mengedepankan ketenangan hati kepada masyarakat," urainya.
"Sikap inilah yang penting untuk dikembangkan seorang da’i dalam berdakwah, sebagaimana halnya yang telah dilakukan oleh Sunan Ampel," tambah Kiai Taufik.
Berdasarkan pendalaman ilmu yang dilakukannya, diketahui bahwa Walisongo datang ke Indonesia dengan kesadaran bahwa Nusantara memiliki banyak kebudayaan yang beragam. Maka ketika berdakwah, para Walisongo menyesuaikan metodenya dengan fakta yang ada dan tengah berkembang saat itu.
"Para Walisongo sangat mengerti betul bahwa karakter dan budaya orang Arab sangat jauh berbeda dengan kondisi masyarakat Indonesia. Pola-pola ajaran keislaman yang berkembang di Arab berdasarkan budayanya, ini tidak bisa serta merta diajarkan mentah-mentah kepada masyarakat Indonesia," jelasnya.
Lihat Juga :