Jadikan Rumah sebagai 'Majelis Ilmu' Terbaik Bagi Anak
Jum'at, 15 Januari 2021 - 16:18 WIB
loading...
A
A
A
Hadis ini mudah dipahami. Karena memang anak lebih banyak waktu dengan orang tua dibandingkan dengan di sekolah, lingkungan bermain, sepanjang malam mereka bersama orang tua. Pada hadis di atas, bukan hanya aktifitas keseharian, perkataan dan perbuatan, bahkan agama sekalipun orang tua mampu mengubah dan menggantinya.
Di rumah, anak menerima pembelajaran (riwayat) ilmu pertamanya. Aktifitas mereka pun sangat kompleks. Mereka melakukan aktivitas penuh pengulangan, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Hal ini dilakukan hari demi hari. Bulan demi bulan hingga berganti tahun. Bersama orang tua mereka anak melakukan aktifitas ruh, fisik, keterampilan, bahkan ibadah seperti salat, puasa dan ibadah lainnya.
Baca juga: LPSK Inisiasi Penerbitan Perpres Perlindungan Justice Collaborator
Anak-anak bisa mempraktikkan majelis ilmu, adab, tadabbur ayat-ayat Al-Qur’an, latihan sedekah, doa-doa harian, dan seterusnya. Karena itulah, semua aktifitas akan terekam kuat oleh anak (dhabit). Orang tua adalah guru utamanya saat di rumah.
Kemudian, mereka pun akan sangat menurut pada gurunya ketika dia sudah bersekolah. Banyak contoh, guru sebagai 'orang' yang sangat berperan dalam kehidupan keilmuan anak pula. Lihat betapa banyak ahli hadis meriwayatkan dari gurunya.
Tak sedikit anak-anak kita meniru bahkan lebih tunduk pada gurunya. Betapa banyak para ulama dalam biografi-biografinya juga terpengaruh oleh gurunya bahkan meneruskan bidang keilmuan gurunya.
Di dalam Kitab Ta’lim, Sultan Iskandar Dzulqarnain pernah ditanya, mengapa engkau lebih menghormati guru dibandingkan ayahmu?
Baca juga: Demi Sejarah, Erick Meminta Relief Sarinah Direstorasi
لان ابى انزلنى من السماء الى الارض واستاذى يرفعنى من الارض الى السماء
"Karena sesungguhnya ayahku adalah orang yang menurunkanku dari langit ke bumi, sedangkan guruku mengangkatku dari bumi ke langit."
Di rumah, anak menerima pembelajaran (riwayat) ilmu pertamanya. Aktifitas mereka pun sangat kompleks. Mereka melakukan aktivitas penuh pengulangan, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Hal ini dilakukan hari demi hari. Bulan demi bulan hingga berganti tahun. Bersama orang tua mereka anak melakukan aktifitas ruh, fisik, keterampilan, bahkan ibadah seperti salat, puasa dan ibadah lainnya.
Baca juga: LPSK Inisiasi Penerbitan Perpres Perlindungan Justice Collaborator
Anak-anak bisa mempraktikkan majelis ilmu, adab, tadabbur ayat-ayat Al-Qur’an, latihan sedekah, doa-doa harian, dan seterusnya. Karena itulah, semua aktifitas akan terekam kuat oleh anak (dhabit). Orang tua adalah guru utamanya saat di rumah.
Kemudian, mereka pun akan sangat menurut pada gurunya ketika dia sudah bersekolah. Banyak contoh, guru sebagai 'orang' yang sangat berperan dalam kehidupan keilmuan anak pula. Lihat betapa banyak ahli hadis meriwayatkan dari gurunya.
Tak sedikit anak-anak kita meniru bahkan lebih tunduk pada gurunya. Betapa banyak para ulama dalam biografi-biografinya juga terpengaruh oleh gurunya bahkan meneruskan bidang keilmuan gurunya.
Di dalam Kitab Ta’lim, Sultan Iskandar Dzulqarnain pernah ditanya, mengapa engkau lebih menghormati guru dibandingkan ayahmu?
Baca juga: Demi Sejarah, Erick Meminta Relief Sarinah Direstorasi
لان ابى انزلنى من السماء الى الارض واستاذى يرفعنى من الارض الى السماء
"Karena sesungguhnya ayahku adalah orang yang menurunkanku dari langit ke bumi, sedangkan guruku mengangkatku dari bumi ke langit."
Lihat Juga :