Kisruh Pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib: Soal Unta, Siti Aisyah Dibohongi
Selasa, 26 Januari 2021 - 20:07 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
UNTUK melaksanakan rencana kelompok Makkah , yaitu menuntut balas atas kematian Khalifah Utsman bin Affan r.a. dan menggulingkan Khalifah Ali bin Abi Thalib ra dari kedudukannya sebagai Khalifah , Sitti Aisyah r.a. berangkat ke Bashrah bersama Thalhah dan Zubair .
Baca juga: Kisah Penuntutan Balas Kematian Utsman untuk Gulingkan Khalifah Ali bin Abi Thalib
Buku Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a . karya H.M.H. Al Hamid Al Husaini menceritakan pada saat Sitti Aisyah r.a. hendak berangkat, orang-orang mencarikan seekor unta yang kuat guna mengangkut haudaj (rumah kecil yang terpasang di punggung unta) milik Sitti Aisyah.
Ya'laa bin Ummayyah menyerahkan unta kepunyaannya yang sangat besar, bernama Askar . Sitti Aisyah kagum sekali melihat unta itu. Akan tetapi ketika serati atau penggembala memanggil-manggil untanya dengan berulang-ulang menyebut "Askar", Sitti Aisyah mundur dan berkata kepada serati unta itu: "Kembalikan dia. Aku tidak membutuhkan unta itu!"
Sewaktu ditanya apakah sebabnya Ummul Mukminin menyuruh unta Askar dikembalikan, Sitti Aisyah menjawab, bahwa Rasulullah SAW pernah menyebut-nyebut nama unta itu dan ia dilarang mengendarainya.
Ummul Mukminin minta dicarikan unta lain. Namun orang tak berhasil mencarikan unta seperti Askar. Agar jangan diketahui oleh Ummul Mukminin, bahwa unta yang akan dikendarainya adalah tetap unta Askar, maka jilal-nya (kulit yang ditaruh di punggung unta untuk melindungi diri dari dingin) Askar diganti dengan jilal lain, tanpa sepengetahuan Sitti Aisyah r.a.
Ummul Mukminin merasa puas dengan unta yang dikatakan bukan Askar itu.
Baca juga: Ini Penyebab Retaknya Hubungan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Siti Aisyah
Surat dari Malik Al-Asyar
Sementara itu, Malik Al-Asytar, sepupu Rasulullah SAW, dari Madinah mengirim sepucuk surat kepada Sitti Aisyah r.a.
Tulis Al-Asytar: "Ibu adalah isteri Rasulullah SAW. Beliau telah memerintahkan Ibu supaya tetap tinggal di rumah. Jika Ibu menuruti perintah beliau, bagi Ibu itu lebih baik. Tetapi jika Ibu tetap tidak mau selain hendak memegang pentung, menanggalkan baju kerudung dan menampakkan kesucian diri di depan mata orang banyak, Ibu akan kami perangi, sampai kami dapat memulangkan Ibu kembali ke rumah, tempat yang sudah diridhai Allah bagi Ibu."
Baca juga: Kisah Penuntutan Balas Kematian Utsman untuk Gulingkan Khalifah Ali bin Abi Thalib
Buku Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a . karya H.M.H. Al Hamid Al Husaini menceritakan pada saat Sitti Aisyah r.a. hendak berangkat, orang-orang mencarikan seekor unta yang kuat guna mengangkut haudaj (rumah kecil yang terpasang di punggung unta) milik Sitti Aisyah.
Ya'laa bin Ummayyah menyerahkan unta kepunyaannya yang sangat besar, bernama Askar . Sitti Aisyah kagum sekali melihat unta itu. Akan tetapi ketika serati atau penggembala memanggil-manggil untanya dengan berulang-ulang menyebut "Askar", Sitti Aisyah mundur dan berkata kepada serati unta itu: "Kembalikan dia. Aku tidak membutuhkan unta itu!"
Sewaktu ditanya apakah sebabnya Ummul Mukminin menyuruh unta Askar dikembalikan, Sitti Aisyah menjawab, bahwa Rasulullah SAW pernah menyebut-nyebut nama unta itu dan ia dilarang mengendarainya.
Ummul Mukminin minta dicarikan unta lain. Namun orang tak berhasil mencarikan unta seperti Askar. Agar jangan diketahui oleh Ummul Mukminin, bahwa unta yang akan dikendarainya adalah tetap unta Askar, maka jilal-nya (kulit yang ditaruh di punggung unta untuk melindungi diri dari dingin) Askar diganti dengan jilal lain, tanpa sepengetahuan Sitti Aisyah r.a.
Ummul Mukminin merasa puas dengan unta yang dikatakan bukan Askar itu.
Baca juga: Ini Penyebab Retaknya Hubungan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Siti Aisyah
Surat dari Malik Al-Asyar
Sementara itu, Malik Al-Asytar, sepupu Rasulullah SAW, dari Madinah mengirim sepucuk surat kepada Sitti Aisyah r.a.
Tulis Al-Asytar: "Ibu adalah isteri Rasulullah SAW. Beliau telah memerintahkan Ibu supaya tetap tinggal di rumah. Jika Ibu menuruti perintah beliau, bagi Ibu itu lebih baik. Tetapi jika Ibu tetap tidak mau selain hendak memegang pentung, menanggalkan baju kerudung dan menampakkan kesucian diri di depan mata orang banyak, Ibu akan kami perangi, sampai kami dapat memulangkan Ibu kembali ke rumah, tempat yang sudah diridhai Allah bagi Ibu."
Lihat Juga :