Kisah Tragis Santri Penghafal Kitab Tuhfatul Muhtaj Jadi Penjual Arang
Sabtu, 13 Februari 2021 - 12:03 WIB
loading...
A
A
A
Keluar Tanpa Izin Gurunya
Kesombongan itupun berlanjut, si Fulan pada suatu hari akan keluar dari Rubath Tarim untuk menuju Kota Mukalla untuk berdakwah. Ia pun keluar dari pesantren begitu saja tanpa izin kepada Al-Habib Abdullah As-Syatiri, hingga pada saat “Madras Ribath” sebutan untuk pengajian rutinan di Rubath Tarim, Habib Abdullah menanyakan perihal keberadaan si Fulan yang biasanya duduk di depan namun tidak kelihatan.
"Kemanakah si Fulan?" Sebagian murid yang mengetahui menjawab "Si Fulan sedang berdakwah ke Kota Mukalla." Habib berkata, "Apakah dia izin kepadaku?" Sontak murid yang lain diam saja. Dan Habib Abdullah kemudian berkata "Baiklah, kalau begitu biarkan si Fulan pergi akan tetapi ilmunya tetap di sini."
Di Kota Mukalla Yaman, para ahli ilmu dan para pecinta Habib Abdullah Syatiri yang mendengar bahwa si Fulan santri senior Rubath Tarim akan mengisi ceramah di Masjid Baumar Mukalla, merekapun berbondong-bondong datang, mereka pun mempersilakan si Fulan untuk memberikan ceramahnya.
Si Fulan naik ke mimbar dan memulai isi ceramahnya, ia memulai dengan basmalah, hamdalah, hkepada Nabi, amma ba'du. Kemudian ia membaca sebuah ayat:
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون(٥٦) وما أريد منهم من رزق وما أريد أن يطعمون (٥٧) إن الله هو الرزاق ذو القوت المتين (٥٨) سورة الذاريات
Ketika ingin menjelaskan ayat ini, si Fulan tiba-tiba terdiam seperti kayu yang berdiri tegak dan kebingungan. Ia tak mampu berbicara menjelaskan ayat tersebut. Hingga dia duduk lima menit dan hanya terdiam di hadapan jamaah. Hingga akhirnya dia duduk menangis karena semua ilmu yang pernah ia hafal hilang seketika.
Bahkan kitab kecil Safinatun Najah tak hafal satu kalimat pun apa lagi kitab Tuhfah yang awalnya telah dihafal. Ketika di Ribat bagaikan unta yang sangat bagus mahal hargaya karena mempunyai keistimewaan dan kelebihan sendiri.
Jamaah yang melihatnya kaget melihat hal itu. Salah satu ahli ilmu di Kota Mukalla yaitu Habib Abdullah Sodiq Al Habsyi yang pernah mondok mencari di Ribat Tarim selama 9 tahun mengerti bahwa pasti ada sesuatu yang tidak beres dari si Fulan.
Kemudian datanglah kabar bahwasanya si Fulan telah isa'atul adab (berbuat kurang baik terhadab gurunya). Ia pun bertanya pada si Fulan, setelah mendengar penjelasannya, si ahli ilmu menasehati agar ia (si Fulan) minta maaf pada sang maha guru.
Memang sudah dikuasai oleh setan, iapun enggan untuk tawadhu’ dan minta maaf pada sang guru. Hidupnya pun bertambah tragis, ilmunya sudah hilang dan tanpa ada keluarga yang mau menerimanya tanpa teman yang peduli pada nasibnya. Hingga akhirnya ia hidup dalam keadaan sangat miskin di pinggiran Kota Mukalla dan sehari-hari menjadi penjual Arang di toko area pasar.
Kesombongan itupun berlanjut, si Fulan pada suatu hari akan keluar dari Rubath Tarim untuk menuju Kota Mukalla untuk berdakwah. Ia pun keluar dari pesantren begitu saja tanpa izin kepada Al-Habib Abdullah As-Syatiri, hingga pada saat “Madras Ribath” sebutan untuk pengajian rutinan di Rubath Tarim, Habib Abdullah menanyakan perihal keberadaan si Fulan yang biasanya duduk di depan namun tidak kelihatan.
"Kemanakah si Fulan?" Sebagian murid yang mengetahui menjawab "Si Fulan sedang berdakwah ke Kota Mukalla." Habib berkata, "Apakah dia izin kepadaku?" Sontak murid yang lain diam saja. Dan Habib Abdullah kemudian berkata "Baiklah, kalau begitu biarkan si Fulan pergi akan tetapi ilmunya tetap di sini."
Di Kota Mukalla Yaman, para ahli ilmu dan para pecinta Habib Abdullah Syatiri yang mendengar bahwa si Fulan santri senior Rubath Tarim akan mengisi ceramah di Masjid Baumar Mukalla, merekapun berbondong-bondong datang, mereka pun mempersilakan si Fulan untuk memberikan ceramahnya.
Si Fulan naik ke mimbar dan memulai isi ceramahnya, ia memulai dengan basmalah, hamdalah, hkepada Nabi, amma ba'du. Kemudian ia membaca sebuah ayat:
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون(٥٦) وما أريد منهم من رزق وما أريد أن يطعمون (٥٧) إن الله هو الرزاق ذو القوت المتين (٥٨) سورة الذاريات
Ketika ingin menjelaskan ayat ini, si Fulan tiba-tiba terdiam seperti kayu yang berdiri tegak dan kebingungan. Ia tak mampu berbicara menjelaskan ayat tersebut. Hingga dia duduk lima menit dan hanya terdiam di hadapan jamaah. Hingga akhirnya dia duduk menangis karena semua ilmu yang pernah ia hafal hilang seketika.
Bahkan kitab kecil Safinatun Najah tak hafal satu kalimat pun apa lagi kitab Tuhfah yang awalnya telah dihafal. Ketika di Ribat bagaikan unta yang sangat bagus mahal hargaya karena mempunyai keistimewaan dan kelebihan sendiri.
Jamaah yang melihatnya kaget melihat hal itu. Salah satu ahli ilmu di Kota Mukalla yaitu Habib Abdullah Sodiq Al Habsyi yang pernah mondok mencari di Ribat Tarim selama 9 tahun mengerti bahwa pasti ada sesuatu yang tidak beres dari si Fulan.
Kemudian datanglah kabar bahwasanya si Fulan telah isa'atul adab (berbuat kurang baik terhadab gurunya). Ia pun bertanya pada si Fulan, setelah mendengar penjelasannya, si ahli ilmu menasehati agar ia (si Fulan) minta maaf pada sang maha guru.
Memang sudah dikuasai oleh setan, iapun enggan untuk tawadhu’ dan minta maaf pada sang guru. Hidupnya pun bertambah tragis, ilmunya sudah hilang dan tanpa ada keluarga yang mau menerimanya tanpa teman yang peduli pada nasibnya. Hingga akhirnya ia hidup dalam keadaan sangat miskin di pinggiran Kota Mukalla dan sehari-hari menjadi penjual Arang di toko area pasar.
Lihat Juga :