Berikut Ini Hal-hal yang Menyebabkan Su'ul Khatimah
Rabu, 17 Februari 2021 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Begini Keinginan dan Kondisi Manusia Saat Sakaratul Maut Datang
3. Tidak istikamah. Sungguh seorang yang istikamah pada awalnya, lalu berubah dan menyimpang dari awalnya bisa menjadi penyebab ia mendapat su'ul khatimah, seperti iblis yang pada mulanya merupakan pemimpin dan guru malaikat serta malaikat yang paling giat beribadah, tapi kemudian tatkala ia diperintahkan sujud kepada Adam, ia membangkang dan menyombongkan diri, sehingga ia termasuk golongan kafir. Juga seperti Bal'am ibn Ba'ur yang telah sampai kepadanya ayat-ayat Allah lalu Allah menurunkannya ke dunia. Ia menuruti hawa nafsunya dan termasuk orang-orang yang sesat.
Juga sepeati Barsisha, seorang abid yang setan berkata kepadanya, “Kafirlah”, dan tatkala ia kafir, setan berkata, “Aku bebas darimu, Aku sungguh takut kepada Allah Tuhan Penguasa alam”.
Setan memperdayai dirinya agar kufur dan tatkala ia kafir, setan lepas tangan khawatir ikut diazab bersamanya, padahal itu sia-sia.
Allah berfirman, “Maka akibat bagi keduanya, adalah bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang lalim." (QS Al-Hasyr : 17)
Baca juga: Kisah Sakaratul Maut, Amr Ibn Al-Ash: Seakan Aku Bernafas dari Jarum Beracun
4. Iman yang lemah. Iman yang lemah dapat melemahkan cinta kepada Allah dan menguatkan cinta dunia dalam hatinya, dan bahkan lemahnya iman itu dapat menguasai dan mendominasi dirinya sehingga tidak tersisa dalam hatinya tempat untuk cinta kepada Allah kecuali sedikit bisikan jiwa, sehingga pengaruhnya tidak tampak dalam melawan jiwa dan menahan maksiat serta menganjurkan berbuat baik.
Akibatnya ia terperosok ke dalam lembah nafsu syahwat dan perbuatan maksiat, sehingga noda hitam dosa menumpuk di dalam hati dan akhirnya memadamkan cahaya iman yang lemah dalam hati. Dan ketika sakaratul maut datang, cinta Allah semakin melemah manakala ia melihat ia akan berpisah dengan dunia yang dicintainya. Kecintaannya pada dunia sangat kuat, sehingga ia tidak rela meninggalkannya dan tak kuasa berpisah dengannya.
Pada saat yang sama timbul rasa khawair dalam dirinya bahwa Allah murka dan tidak mencintainya. Cina Allah ia mati dalam kondisi iman yang seperti ini, maka ua mendapat su'ul khatimah dan sengsara selamanya.
Sebab yang melahirkan su'ul khatimah ini adalah cinta dan cenderung kepada dunia disertai iman yang lemah yang pada gilirannya mengakibatkan lemahnya cinta kepada Allah. Cinta dunia adalah penyakit yang umumnya menimpa kebanyakan manusia. Jadi, orang yang pada saat mati, hatinya didominasi oleh urusan dunia, maka hal itu mengisi seluruh ruangan dalam hatinya.
Selanjutnya, bila dalam kondisi seperti itu roh keluar dari jasadnya maka hainya tunduk pada dunia, dan terhijab dari tuhannya.
Dihikayatkan bahwa Khalifah Sulaiman ibn Abdul Malik , saat memasuki kota Madinah untuk berziarah, berkata: "Apakah di Madinah masih ada tokoh yang pernah bertemu sahabat?”
Mereka menjawab, “Ya, masih. Namanya Abu Hazim.”
Lalu ia minta diantar ke tempat Abu Hazim. Sesampainya di depan Abu Hazim, Sulaiman berkata, “Hai Abu Hazim, kenapa kami tak suka mati?”
Abu Hazim menjawab, “Kalian memakmurkan dunia dan menghancurkan akhirat. Maka, kalian tak sudi keluar dari kemakmuran menuju kehancuran.”
Sulaiman berkata, “Benar engkau! Lalu bagaimana posisi kami di sisi Allah?”
Abu Hazim menjawab, “Cocokkan amalmu dengan Kitabullah.”
3. Tidak istikamah. Sungguh seorang yang istikamah pada awalnya, lalu berubah dan menyimpang dari awalnya bisa menjadi penyebab ia mendapat su'ul khatimah, seperti iblis yang pada mulanya merupakan pemimpin dan guru malaikat serta malaikat yang paling giat beribadah, tapi kemudian tatkala ia diperintahkan sujud kepada Adam, ia membangkang dan menyombongkan diri, sehingga ia termasuk golongan kafir. Juga seperti Bal'am ibn Ba'ur yang telah sampai kepadanya ayat-ayat Allah lalu Allah menurunkannya ke dunia. Ia menuruti hawa nafsunya dan termasuk orang-orang yang sesat.
Juga sepeati Barsisha, seorang abid yang setan berkata kepadanya, “Kafirlah”, dan tatkala ia kafir, setan berkata, “Aku bebas darimu, Aku sungguh takut kepada Allah Tuhan Penguasa alam”.
Setan memperdayai dirinya agar kufur dan tatkala ia kafir, setan lepas tangan khawatir ikut diazab bersamanya, padahal itu sia-sia.
Allah berfirman, “Maka akibat bagi keduanya, adalah bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang lalim." (QS Al-Hasyr : 17)
Baca juga: Kisah Sakaratul Maut, Amr Ibn Al-Ash: Seakan Aku Bernafas dari Jarum Beracun
4. Iman yang lemah. Iman yang lemah dapat melemahkan cinta kepada Allah dan menguatkan cinta dunia dalam hatinya, dan bahkan lemahnya iman itu dapat menguasai dan mendominasi dirinya sehingga tidak tersisa dalam hatinya tempat untuk cinta kepada Allah kecuali sedikit bisikan jiwa, sehingga pengaruhnya tidak tampak dalam melawan jiwa dan menahan maksiat serta menganjurkan berbuat baik.
Akibatnya ia terperosok ke dalam lembah nafsu syahwat dan perbuatan maksiat, sehingga noda hitam dosa menumpuk di dalam hati dan akhirnya memadamkan cahaya iman yang lemah dalam hati. Dan ketika sakaratul maut datang, cinta Allah semakin melemah manakala ia melihat ia akan berpisah dengan dunia yang dicintainya. Kecintaannya pada dunia sangat kuat, sehingga ia tidak rela meninggalkannya dan tak kuasa berpisah dengannya.
Pada saat yang sama timbul rasa khawair dalam dirinya bahwa Allah murka dan tidak mencintainya. Cina Allah ia mati dalam kondisi iman yang seperti ini, maka ua mendapat su'ul khatimah dan sengsara selamanya.
Sebab yang melahirkan su'ul khatimah ini adalah cinta dan cenderung kepada dunia disertai iman yang lemah yang pada gilirannya mengakibatkan lemahnya cinta kepada Allah. Cinta dunia adalah penyakit yang umumnya menimpa kebanyakan manusia. Jadi, orang yang pada saat mati, hatinya didominasi oleh urusan dunia, maka hal itu mengisi seluruh ruangan dalam hatinya.
Selanjutnya, bila dalam kondisi seperti itu roh keluar dari jasadnya maka hainya tunduk pada dunia, dan terhijab dari tuhannya.
Dihikayatkan bahwa Khalifah Sulaiman ibn Abdul Malik , saat memasuki kota Madinah untuk berziarah, berkata: "Apakah di Madinah masih ada tokoh yang pernah bertemu sahabat?”
Mereka menjawab, “Ya, masih. Namanya Abu Hazim.”
Lalu ia minta diantar ke tempat Abu Hazim. Sesampainya di depan Abu Hazim, Sulaiman berkata, “Hai Abu Hazim, kenapa kami tak suka mati?”
Abu Hazim menjawab, “Kalian memakmurkan dunia dan menghancurkan akhirat. Maka, kalian tak sudi keluar dari kemakmuran menuju kehancuran.”
Sulaiman berkata, “Benar engkau! Lalu bagaimana posisi kami di sisi Allah?”
Abu Hazim menjawab, “Cocokkan amalmu dengan Kitabullah.”
Lihat Juga :