Isra Miraj (8/Tamat): Perjalanan Pulang Rasulullah Sedih karena Abu Jahal Mendustakannya
Senin, 15 Maret 2021 - 10:40 WIB
loading...
A
A
A
Berkatalah Al-Muth'im bin Adiy: "Setiap perkara dan kasus mengenaimu sebelum hari ini begitu mudah dan kecil, namun hari ini lain". Wahai Muhammad! Aku bersaksi bahwasanya engkau adalah pembohong. Kami bersusah payah menuju Baitul Maqdis satu bulan perjalanan dan kembali dari Baitul Maqdis satu bulan perjalanan, lalu engkau mendatanginya dan kembali ke Makkah dalam satu malam? Demi latta dan uzza aku tidak mempercayaimu."
Abu Bakar Benarkan Rasulullah
Maka Sayyidina Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata: "Wahai Al- Muth'im alangkah buruknya perkataanmu kepada keponakanmu (Nabi Muhammad). Engkau menanggapinya dengan kebencian hingga engkau mendustainya. Aku bersaksi bahwasannya dia telah berkata jujur". Maka mereka berkata: "Wahai Muhammad! sifatkanlah kepada kami tentang Baitul Maqdis, bagaimana bangunannya, bagaimana keadaannya, dan bagaimana dekatnya dari gunung? Karena sesungguhnya banyak di sini saat ini yang telah mengunjunginya".
Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم mensifatkan kepada mereka. "Bangunannya begini, keadaannya seperti ini, dan dekatnya dari gunung seperti ini". Ketika Nabi sedang menjelaskan kepada mereka dengan sejelas jelasnya, tiba-tiba ada bagian dari Baitul Maqdis yang luput dari perhatian beliau saat Isra dan Mi'raj, maka Nabi ketakutan dan kebingungan yang amat sangat besar.
Di saat itulah Allah menampakkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم Masjid Al-Aqsha hingga beliau menyaksikannya seakan diletakkan dekat rumah Aqil atau Uqal. Orang-orang ketika melihat Nabi kebingungan, mereka mendesaknya dengan berbagai pertanyaan. "Berapa pintu pada masjid tersebut?" Padahal Nabi صلى الله عليه وسلم datang ke Masjid Al-Aqsho bukan untuk menghitung pintunya. Namun, setelah Allah menampakkan masjid Al-Aqsha kepadanya, beliau menjawab pertanyaan mereka dengan lengkap dan tepat.
Abu Bakar tiada henti berkata: "Engkau benar, engkau benar, aku bersaksi bahwasannya engkau adalah utusan Allah." Maka orang-orang berkata, "Adapun gambarannya tentang Masjid Al-Aqsha itu, demi Allah semua itu benar".
Kemudian mereka berkata kepada Abu Bakar : "Apakah kamu mempercayainya bahwa dia telah berjalan semalam ke Baitul Maqdis dan kembali ke Makkah sebelum Subuh?". Abu Bakar menjawab: "Iya, sungguh aku mempercayai apa yang lebih hebat dari itu semua. Aku mempercayainya dengan segala kabar langit yang dia kabarkan setiap pagi maupun sore hari". Oleh sebab itulah Abu Bakar dijuluki Ash Shiddiq.
Nabi صلى الله عليه وسلم berkata: "Di perjalanan aku melalui Kafilah Bani fulan di daerah Rouha' dan mereka semua sedang mencari unta mereka yang hilang, maka aku berhenti dan menghapiri tempat peristirahatan mereka. Aku tidak menjumpai satupun dari mereka karena mereka sedang mencari unta yang hilang. Saat itu aku sempat meminum dari air mereka yang di letakkan di sana. Kemudian aku melewati kafilah Bani Fulan di tempat tertentu.
Di kafilah itu ada seekor unta yang membawa dua buah karung dagangan, satu karung berwarna hitam dan satu karung berwarna putih. Pada saat berpapasan dengan mereka tiba-tiba unta itu menjadi liar ketakutan dan berlari berputar putar hingga akhirnya pingsan dan tersungkur. Kemudian aku melewati kafilah Bani fulan di Tan’im. Kafilah itu dipimpin oleh unta yang berwarna abu-abu dengan pelana hitam dan dua tali kekang yang berwarna hitam, dan kafilah itu akan datang kepada kalian dari Bukit Tsaniyah dipimpin oleh unta tersebut.
Mereka berkata: "Kapan mereka datang?" Nabi menjawab: "Pada hari Rabu". Maka pada hari itu para pembesar Quraisy menunggu kafilah tersebut, hingga matahari hampir tenggelam pada hari itu dan kafilah tak kunjung datang.
Nabi صلى الله عليه وسلم berdoa agar dipanjangkan hari itu sesaat. Pada hari itu matahari ditahan, hingga datanglah kafilah tersebut. Saat itu orang-orang kafir Quraisy bertanya kepada rombongan kafilah, "Apakah unta kalian hilang?". Mereka berkata, "Benar". Mereka bertanya kepada kafilah yang lain: "Apakah unta berwarna merah milik kalian tersungkur hingga pingsan?".
Mereka berkata, "Iya". Mereka bertanya kembali: "Apakah kalian memiliki tempat air?". Maka seorang lelaki berkata: "Demi Allah aku telah meletakannya dan tidak seorangpun dari kami meminumnya dan tidak juga tumpah ke tanah." Kemudian mereka semua menuduh Nabi صلى الله عليه وسلم sebagai seorang penyihir.
Maka Allah menurunkan wahyu-Nya:
Abu Bakar Benarkan Rasulullah
Maka Sayyidina Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata: "Wahai Al- Muth'im alangkah buruknya perkataanmu kepada keponakanmu (Nabi Muhammad). Engkau menanggapinya dengan kebencian hingga engkau mendustainya. Aku bersaksi bahwasannya dia telah berkata jujur". Maka mereka berkata: "Wahai Muhammad! sifatkanlah kepada kami tentang Baitul Maqdis, bagaimana bangunannya, bagaimana keadaannya, dan bagaimana dekatnya dari gunung? Karena sesungguhnya banyak di sini saat ini yang telah mengunjunginya".
Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم mensifatkan kepada mereka. "Bangunannya begini, keadaannya seperti ini, dan dekatnya dari gunung seperti ini". Ketika Nabi sedang menjelaskan kepada mereka dengan sejelas jelasnya, tiba-tiba ada bagian dari Baitul Maqdis yang luput dari perhatian beliau saat Isra dan Mi'raj, maka Nabi ketakutan dan kebingungan yang amat sangat besar.
Di saat itulah Allah menampakkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم Masjid Al-Aqsha hingga beliau menyaksikannya seakan diletakkan dekat rumah Aqil atau Uqal. Orang-orang ketika melihat Nabi kebingungan, mereka mendesaknya dengan berbagai pertanyaan. "Berapa pintu pada masjid tersebut?" Padahal Nabi صلى الله عليه وسلم datang ke Masjid Al-Aqsho bukan untuk menghitung pintunya. Namun, setelah Allah menampakkan masjid Al-Aqsha kepadanya, beliau menjawab pertanyaan mereka dengan lengkap dan tepat.
Abu Bakar tiada henti berkata: "Engkau benar, engkau benar, aku bersaksi bahwasannya engkau adalah utusan Allah." Maka orang-orang berkata, "Adapun gambarannya tentang Masjid Al-Aqsha itu, demi Allah semua itu benar".
Kemudian mereka berkata kepada Abu Bakar : "Apakah kamu mempercayainya bahwa dia telah berjalan semalam ke Baitul Maqdis dan kembali ke Makkah sebelum Subuh?". Abu Bakar menjawab: "Iya, sungguh aku mempercayai apa yang lebih hebat dari itu semua. Aku mempercayainya dengan segala kabar langit yang dia kabarkan setiap pagi maupun sore hari". Oleh sebab itulah Abu Bakar dijuluki Ash Shiddiq.
Nabi صلى الله عليه وسلم berkata: "Di perjalanan aku melalui Kafilah Bani fulan di daerah Rouha' dan mereka semua sedang mencari unta mereka yang hilang, maka aku berhenti dan menghapiri tempat peristirahatan mereka. Aku tidak menjumpai satupun dari mereka karena mereka sedang mencari unta yang hilang. Saat itu aku sempat meminum dari air mereka yang di letakkan di sana. Kemudian aku melewati kafilah Bani Fulan di tempat tertentu.
Di kafilah itu ada seekor unta yang membawa dua buah karung dagangan, satu karung berwarna hitam dan satu karung berwarna putih. Pada saat berpapasan dengan mereka tiba-tiba unta itu menjadi liar ketakutan dan berlari berputar putar hingga akhirnya pingsan dan tersungkur. Kemudian aku melewati kafilah Bani fulan di Tan’im. Kafilah itu dipimpin oleh unta yang berwarna abu-abu dengan pelana hitam dan dua tali kekang yang berwarna hitam, dan kafilah itu akan datang kepada kalian dari Bukit Tsaniyah dipimpin oleh unta tersebut.
Mereka berkata: "Kapan mereka datang?" Nabi menjawab: "Pada hari Rabu". Maka pada hari itu para pembesar Quraisy menunggu kafilah tersebut, hingga matahari hampir tenggelam pada hari itu dan kafilah tak kunjung datang.
Nabi صلى الله عليه وسلم berdoa agar dipanjangkan hari itu sesaat. Pada hari itu matahari ditahan, hingga datanglah kafilah tersebut. Saat itu orang-orang kafir Quraisy bertanya kepada rombongan kafilah, "Apakah unta kalian hilang?". Mereka berkata, "Benar". Mereka bertanya kepada kafilah yang lain: "Apakah unta berwarna merah milik kalian tersungkur hingga pingsan?".
Mereka berkata, "Iya". Mereka bertanya kembali: "Apakah kalian memiliki tempat air?". Maka seorang lelaki berkata: "Demi Allah aku telah meletakannya dan tidak seorangpun dari kami meminumnya dan tidak juga tumpah ke tanah." Kemudian mereka semua menuduh Nabi صلى الله عليه وسلم sebagai seorang penyihir.
Maka Allah menurunkan wahyu-Nya:
Lihat Juga :