Rasulullah Pernah Ditanya, Siapa Orang Paling Cerdas?
Sabtu, 20 Maret 2021 - 21:16 WIB
loading...
A
A
A
Ada anak muda, setiap hari nongkrong di kafe, hobinya main game online, kadang joget-joget tik tok, beberapa hari sakit pun langsung meninggal dunia. Jangankan dia mampu menghabiskan masa mudanya, menyelesaikan game online saja belum selesai. Itulah dunia, Ghurur alias menipu kata Al-Qur'an.
Di media sosial kita akan temui banyak sekali perilaku orang-orang yang tidak paham makna hakikat hidup ini seperti apa sesungguhnya. Kita bisa perhatikan dari status-status yang mereka tuliskan atau konten yang mereka posting.
Kadang ada yang hanya suka bercanda-canda, lebai, narsis, mereka paling pintar, merasa hebat, merasa cantik, merasa kaya, kadang pula status-status keluhan atau ratapan kesedihan dan keputus-asaan.
Sekiranya paham hakikat kehidupan ini, mau kemana sesungguhnya hidup yang singkat ini. Bekal apa yang harus dipersiapkan, tentu tak akan ada waktu untuk bersenang-senang secara berlebihan atau bersedih terlampau berlebihan.
Sebab, dunia ini bukan tujuannya untuk bersenang-senang dan mengejar kenikmatan hakiki. Dunia juga sifatnya Darul Balwa; tempat musibah, petaka, fitnah dan kesedihan. Jadi, memang seperti itulah fitrahnya, jadi tak perlu juga berlebihan meratapinya.
Kembali pada pembicaraan di atas bahwa ukuran kecerdasan itu bukan lagi soal pendidikan. Bukan soal materi, bukan pula soal pencapaian seberapa banyak yang sudah dikumpulkan. Akan tetapi, kecerdasan adalah kemampuan melihat masa depan.
Baca Juga: Tanda-tanda Kematian Akan Menghampiri Seseorang
Di media sosial kita akan temui banyak sekali perilaku orang-orang yang tidak paham makna hakikat hidup ini seperti apa sesungguhnya. Kita bisa perhatikan dari status-status yang mereka tuliskan atau konten yang mereka posting.
Kadang ada yang hanya suka bercanda-canda, lebai, narsis, mereka paling pintar, merasa hebat, merasa cantik, merasa kaya, kadang pula status-status keluhan atau ratapan kesedihan dan keputus-asaan.
Sekiranya paham hakikat kehidupan ini, mau kemana sesungguhnya hidup yang singkat ini. Bekal apa yang harus dipersiapkan, tentu tak akan ada waktu untuk bersenang-senang secara berlebihan atau bersedih terlampau berlebihan.
Sebab, dunia ini bukan tujuannya untuk bersenang-senang dan mengejar kenikmatan hakiki. Dunia juga sifatnya Darul Balwa; tempat musibah, petaka, fitnah dan kesedihan. Jadi, memang seperti itulah fitrahnya, jadi tak perlu juga berlebihan meratapinya.
Kembali pada pembicaraan di atas bahwa ukuran kecerdasan itu bukan lagi soal pendidikan. Bukan soal materi, bukan pula soal pencapaian seberapa banyak yang sudah dikumpulkan. Akan tetapi, kecerdasan adalah kemampuan melihat masa depan.
Baca Juga: Tanda-tanda Kematian Akan Menghampiri Seseorang
(rhs)
Lihat Juga :