Renungan: Memeluk Dunia, Belajar dari Burung Pelatuk
Kamis, 15 April 2021 - 04:59 WIB
loading...
A
A
A
Kecepatan burung pelatuk mengebor sebuah pohon kurang lebih mencapai 40 km/jam. Satu kecepatan luar biasa yang dapat mencederai dirinya. Sekalipun begitu, terdapat sebuah sistem penguncian istimewa pada paruh pelatuk sehingga paruh tersebut tidak terluka.
Jika sistem yang istimewa ini tidak ada, paruh burung pelatuk akan terbelah dua karena kecepatan tinggi saat mematuk.
Baca juga: Renungan: Ramadhan Semoga Saja Tanpa Luka Amarah
Selain itu, dampak dari patukan yang cepat itu akan langsung mengenai otak, sehingga burung akan kehilangan kesadaran. Namun, hal semacam itu tidak pernah terjadi karena Allah menciptakan burung sekaligus dengan kebutuhannya.
Otak burung pelatuk ditempatkan pada ketinggian yang sama dengan paruh burung. Otot-otot paruh bagian bawah bertindak seperti "peredam goncangan" dan mengurangi goncangan yang terjadi ketika burung pelatuk mengebor pohon.
Tidak seperti burung lainnya, burung pelatuk dapat berjalan lurus ke atas pohon. Ia dapat berjalan dari atas atau dari bawah, ke satu sisi atau berputar-putar.
Sedangkan kita jika ingin memanjat pohon, kita harus merangkul pohon dan harus berpegang erat-erat.
Burung pelatuk dapat berjalan tegak, hampir tidak menyentuh kulit. Jika burung pelatuk harus memeluk pohon, ia tidak akan bisa mematuk dan takkan memperoleh makanan dalam kayu. Tidak ada burung lain yang mampu melakukan pekerjaan, seperti burung pelatuk.
"Guru mengaji saya, di saat saya masih kecil, memberi perumpamaan; orang bijak adalah bak burung pelatuk dan dunia adalah bak pohon besar," ujar lelaki bijak ini kepada teman-temannya yang mulai serius mendengarkan ocehannya.
"Dengan iman, kepastian, dan penetapan, seorang bijaksana, seorang insan kamil, dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan orang lain," jelasnya.
Seperti burung pelatuk, dengan mudah dia dapat naik ke atas, mematuk pada setiap titik. Pada saat itu sejatinya ia telah meraih dunia. Ia mematuk dengan sifat-sifat Allah dan ia mendapatkan kebenaran yang diperlukan untuk makanannya. Dia adalah makanan cinta, kebijaksanaan, belas kasih, ketenangan, dan Tuhan.
Jika sistem yang istimewa ini tidak ada, paruh burung pelatuk akan terbelah dua karena kecepatan tinggi saat mematuk.
Baca juga: Renungan: Ramadhan Semoga Saja Tanpa Luka Amarah
Selain itu, dampak dari patukan yang cepat itu akan langsung mengenai otak, sehingga burung akan kehilangan kesadaran. Namun, hal semacam itu tidak pernah terjadi karena Allah menciptakan burung sekaligus dengan kebutuhannya.
Otak burung pelatuk ditempatkan pada ketinggian yang sama dengan paruh burung. Otot-otot paruh bagian bawah bertindak seperti "peredam goncangan" dan mengurangi goncangan yang terjadi ketika burung pelatuk mengebor pohon.
Tidak seperti burung lainnya, burung pelatuk dapat berjalan lurus ke atas pohon. Ia dapat berjalan dari atas atau dari bawah, ke satu sisi atau berputar-putar.
Sedangkan kita jika ingin memanjat pohon, kita harus merangkul pohon dan harus berpegang erat-erat.
Burung pelatuk dapat berjalan tegak, hampir tidak menyentuh kulit. Jika burung pelatuk harus memeluk pohon, ia tidak akan bisa mematuk dan takkan memperoleh makanan dalam kayu. Tidak ada burung lain yang mampu melakukan pekerjaan, seperti burung pelatuk.
"Guru mengaji saya, di saat saya masih kecil, memberi perumpamaan; orang bijak adalah bak burung pelatuk dan dunia adalah bak pohon besar," ujar lelaki bijak ini kepada teman-temannya yang mulai serius mendengarkan ocehannya.
"Dengan iman, kepastian, dan penetapan, seorang bijaksana, seorang insan kamil, dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan orang lain," jelasnya.
Seperti burung pelatuk, dengan mudah dia dapat naik ke atas, mematuk pada setiap titik. Pada saat itu sejatinya ia telah meraih dunia. Ia mematuk dengan sifat-sifat Allah dan ia mendapatkan kebenaran yang diperlukan untuk makanannya. Dia adalah makanan cinta, kebijaksanaan, belas kasih, ketenangan, dan Tuhan.
Lihat Juga :