Gus Baha Tentang Tarawih Kilat, 20 Rakaat 7 Menit Itu Terlalu!
Kamis, 15 April 2021 - 17:42 WIB
loading...
Salah satu ulama NU, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha memberi tanggapannya terhadap pelaksanaan sholat tarawih kilat. Foto/dok Islami.co
A
A
A
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha menjelaskan tentang fenomena sholat Tarawih kilat dalam suatu pengajian bersama para santri. Pendapat Gus Baha ini disiarkan oleh Channel Ngaji Gus Baha melalui saluran Youtube.
Gus Baha mengatakan, sholat Tarawih 20 rakaat dikerjakan selama 7 menit itu terlalu. Berikut penjelasan Gus Baha dilansir dari iqra.id: "Saya kalau Tarawih itu milih jadi makmum. Masalahnya, nanti kalau ada salahnya dan ditanya Allah: "Ha', sujud kok cepete ngono!? (Ha', sujud kok cepat begitu!?)"
Baca Juga: Gus Baha: Kalau Masih Miskin Berbahagialah!
"Lah imame cepet ngoten Gusti (Allah). Jarene makmum ken anut imam!? (kan imamnya cepat, Gusti. Katanya makmum harus ikut imam!?)."
Makanya, kelak yang "diburu" (dimintai pertanggungjawaban) adalah imam. Menurut ilmu Fikih, "wa yajibu alal-makmuumi mutaaba’atul imaam" (makmum wajib mengikuti imam).
Kelak kalau ditanyai Allah, "Ha, sholatmu kok cepet ora thuma’ninah?" "Imame, Gusti. Kulo kan wajib anut imam (imamnya, Gusti. Saya kan wajib mengikuti imam)."
Ketika si imam ditanyai, "Imam, kenapa kok sholatmu cepet!?"
"Permintaan pasar," jawab imam.
Bebas hisab! Imam melakukan itu karena tahu, konsumennya minta seperti itu. Sebab kalau mencoba Tarawih lama, musholla-nya sepi.
Wong cah enom kalau Tarawih takok, "Seng cepet endi?" Ora, "Seng apik endi?" (anak muda kalau Tarawih tanya, "Yang cepat mana?" Bukan, "Yang baik mana?".
Saya pernah di Lasem (daerah di Kabupaten Rembang), ada imam sepuh (tua renta) sedang berjalan ke tempat pengimaman (mihrab masjid). Lalu ada orang di belakang ngomong, "Waduh kok Mbah iku, suwi iki!" Ojo-ojo Gus! Pindah-pindah!" (Waduh, kok Mbah itu, lama ini. Jangan Gus! Pindah-pindah!)
Gus Baha mengatakan, sholat Tarawih 20 rakaat dikerjakan selama 7 menit itu terlalu. Berikut penjelasan Gus Baha dilansir dari iqra.id: "Saya kalau Tarawih itu milih jadi makmum. Masalahnya, nanti kalau ada salahnya dan ditanya Allah: "Ha', sujud kok cepete ngono!? (Ha', sujud kok cepat begitu!?)"
Baca Juga: Gus Baha: Kalau Masih Miskin Berbahagialah!
"Lah imame cepet ngoten Gusti (Allah). Jarene makmum ken anut imam!? (kan imamnya cepat, Gusti. Katanya makmum harus ikut imam!?)."
Makanya, kelak yang "diburu" (dimintai pertanggungjawaban) adalah imam. Menurut ilmu Fikih, "wa yajibu alal-makmuumi mutaaba’atul imaam" (makmum wajib mengikuti imam).
Kelak kalau ditanyai Allah, "Ha, sholatmu kok cepet ora thuma’ninah?" "Imame, Gusti. Kulo kan wajib anut imam (imamnya, Gusti. Saya kan wajib mengikuti imam)."
Ketika si imam ditanyai, "Imam, kenapa kok sholatmu cepet!?"
"Permintaan pasar," jawab imam.
Bebas hisab! Imam melakukan itu karena tahu, konsumennya minta seperti itu. Sebab kalau mencoba Tarawih lama, musholla-nya sepi.
Wong cah enom kalau Tarawih takok, "Seng cepet endi?" Ora, "Seng apik endi?" (anak muda kalau Tarawih tanya, "Yang cepat mana?" Bukan, "Yang baik mana?".
Saya pernah di Lasem (daerah di Kabupaten Rembang), ada imam sepuh (tua renta) sedang berjalan ke tempat pengimaman (mihrab masjid). Lalu ada orang di belakang ngomong, "Waduh kok Mbah iku, suwi iki!" Ojo-ojo Gus! Pindah-pindah!" (Waduh, kok Mbah itu, lama ini. Jangan Gus! Pindah-pindah!)
Lihat Juga :