Renungan: Menghabiskan Umur untuk Perut, Sesekali Lapar Itu Baik
Sabtu, 17 April 2021 - 04:57 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Renungan: Meraih Suksesi, Belajar dari Pohon Jati
Jika kita menebang pohon sudah barang tentu kita tidak bisa mencabut pohon itu berikut akar-akarnya sekaligus. Kita harus memotong pohon itu dari pangkal.
Selanjutnya kita menggali tanah untuk memotong akar-akarnya. Dengan cara yang sama, untuk mengakhiri jiwa yang kelaparan, kita harus memutuskan akar karma kita dengan hikmah.
Jika waktu terlalu lama untuk mencabut karma kita, maka setidaknya kita harus mencoba untuk memotong keinginan. Setidaknya memisahkan pohon pikiran dan keinginan dari hubungan mereka dengan bumi.
Ini akan memakan waktu lama bagi mereka untuk tumbuh lagi, dan sementara itu kita dapat melakukan apapun yang perlu dilakukan.
Tapi kita tentu tidak pernah berhenti berusaha mencabut koneksi yang lebih dalam. Jika kita menghapus hanya cabang dan membiarkan akar tetap bertahan dalam bumi, kita tidak akan pernah mampu menyelesaikan tugas kita. Akhirnya, agar karma benar-benar tumbang maka hanya dapat dilakukan dengan hikmah.
Kita harus mempertimbangkan alasan rasa lapar dan kemudian mengendalikannya dengan kebijaksanaan. Kita harus memahami rasa lapar dengan cara mengontrol perasaan itu, sebelum kita dibebani rasa lapar lagi. Itulah satu-satunya cara untuk mencapai kedamaian dalam hidup kita.
Jadikan lapar sebagai kebutuhan. Ihya ulumuddin, buah karya monumental Imam Abu Hamid Al Ghazali , berisi wejangan bahwa untuk menjadi manusia yang unggul dan dekat dengan Tuhan adalah dengan lapar. Dengan lapar, maka mata hati akan terbuka menerima kehadirat Tuhan.
Jadi sesekali lapar itu baik.
Baca juga: Renungan: Mengupas Keburukan, Belajar dari Kisah Kaki Merak
Jika kita menebang pohon sudah barang tentu kita tidak bisa mencabut pohon itu berikut akar-akarnya sekaligus. Kita harus memotong pohon itu dari pangkal.
Selanjutnya kita menggali tanah untuk memotong akar-akarnya. Dengan cara yang sama, untuk mengakhiri jiwa yang kelaparan, kita harus memutuskan akar karma kita dengan hikmah.
Jika waktu terlalu lama untuk mencabut karma kita, maka setidaknya kita harus mencoba untuk memotong keinginan. Setidaknya memisahkan pohon pikiran dan keinginan dari hubungan mereka dengan bumi.
Ini akan memakan waktu lama bagi mereka untuk tumbuh lagi, dan sementara itu kita dapat melakukan apapun yang perlu dilakukan.
Tapi kita tentu tidak pernah berhenti berusaha mencabut koneksi yang lebih dalam. Jika kita menghapus hanya cabang dan membiarkan akar tetap bertahan dalam bumi, kita tidak akan pernah mampu menyelesaikan tugas kita. Akhirnya, agar karma benar-benar tumbang maka hanya dapat dilakukan dengan hikmah.
Kita harus mempertimbangkan alasan rasa lapar dan kemudian mengendalikannya dengan kebijaksanaan. Kita harus memahami rasa lapar dengan cara mengontrol perasaan itu, sebelum kita dibebani rasa lapar lagi. Itulah satu-satunya cara untuk mencapai kedamaian dalam hidup kita.
Jadikan lapar sebagai kebutuhan. Ihya ulumuddin, buah karya monumental Imam Abu Hamid Al Ghazali , berisi wejangan bahwa untuk menjadi manusia yang unggul dan dekat dengan Tuhan adalah dengan lapar. Dengan lapar, maka mata hati akan terbuka menerima kehadirat Tuhan.
Jadi sesekali lapar itu baik.
Baca juga: Renungan: Mengupas Keburukan, Belajar dari Kisah Kaki Merak
(mhy)
Lihat Juga :