Hari ke-7 Ramadhan, Jamaah Sholat Tarawih Mulai Menyusut
Senin, 19 April 2021 - 18:17 WIB
loading...
A
A
A
وَعَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ
Dari Ibnu Syihab dari 'Urwah bin Az Zubair dari 'Abdurrahman bin 'Abdul Qariy bahwa dia berkata; "Aku keluar bersama 'Umar bin Al Khaththob radliallahu 'anhu pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang shalat sendiri dan ada seorang yang shalat diikuti oleh ma'mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Maka 'Umar berkata: "Aku pikir seandainya mereka semuanya shalat berjama'ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik". Kemudian Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jama'ah yang dipimpin oleh Ubbay bin Ka'ab.
Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama'ah dengan dipimpin seorang imam, lalu 'Umar berkata: "Sebaik-baiknya bid'ah adalah ini. Dan shalat yang mereka lakukan dengan tidur terlebih dahulu (pent. tahajjud) itu lebih baik daripada yang shalat awal malam, yang ia (Umar) maksudkan adalah shalat di akhir malam, sedangkan orang-orang secara umum melakukan shalat pada awal malam. (HR. Al-Bukhari)
Ketiga, husnuzhon kita adalah mereka akan balik sholat ke masjid nanti 10 malam terakhir Ramadhan dalam rangka menjemput Lailatul Qadar.
Tapi selain mengetahui alasan mereka tidak datang ke masjid lagi untuk shalat tarawih setelah hari ke-7, ada yang lebih penting lagi, yaitu kriteria kebaikan.
Jika kita sedang dalam kebaikan, jangan sampai kebaikan itu menjadikan kita merasa lebih banyak pahalanya dan memandang rendah mereka yang tidak ikut tarawih seperti kita.
Tak sholat tarawih di masjid itu tidak selalu dimaknai kejelekan. Bisa jadi mereka sedang makan-makan bersama anggota keluarganya di luar. Membahagiakan anak istrinya juga kebaikan.
Ada pula yang tidak tarawih karena sedang tugas jaga shift malam. Dia bekerja dalam rangka mencari nafkah keluarganya, itu juga kebaikan. Semoga kita bisa Istiqomah dalam kebaikan.
Baca Juga: Gus Baha Tentang Tarawih Kilat, 20 Rakaat 7 Menit Itu Terlalu!
Dari Ibnu Syihab dari 'Urwah bin Az Zubair dari 'Abdurrahman bin 'Abdul Qariy bahwa dia berkata; "Aku keluar bersama 'Umar bin Al Khaththob radliallahu 'anhu pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang shalat sendiri dan ada seorang yang shalat diikuti oleh ma'mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Maka 'Umar berkata: "Aku pikir seandainya mereka semuanya shalat berjama'ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik". Kemudian Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jama'ah yang dipimpin oleh Ubbay bin Ka'ab.
Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama'ah dengan dipimpin seorang imam, lalu 'Umar berkata: "Sebaik-baiknya bid'ah adalah ini. Dan shalat yang mereka lakukan dengan tidur terlebih dahulu (pent. tahajjud) itu lebih baik daripada yang shalat awal malam, yang ia (Umar) maksudkan adalah shalat di akhir malam, sedangkan orang-orang secara umum melakukan shalat pada awal malam. (HR. Al-Bukhari)
Ketiga, husnuzhon kita adalah mereka akan balik sholat ke masjid nanti 10 malam terakhir Ramadhan dalam rangka menjemput Lailatul Qadar.
Tapi selain mengetahui alasan mereka tidak datang ke masjid lagi untuk shalat tarawih setelah hari ke-7, ada yang lebih penting lagi, yaitu kriteria kebaikan.
Jika kita sedang dalam kebaikan, jangan sampai kebaikan itu menjadikan kita merasa lebih banyak pahalanya dan memandang rendah mereka yang tidak ikut tarawih seperti kita.
Tak sholat tarawih di masjid itu tidak selalu dimaknai kejelekan. Bisa jadi mereka sedang makan-makan bersama anggota keluarganya di luar. Membahagiakan anak istrinya juga kebaikan.
Ada pula yang tidak tarawih karena sedang tugas jaga shift malam. Dia bekerja dalam rangka mencari nafkah keluarganya, itu juga kebaikan. Semoga kita bisa Istiqomah dalam kebaikan.
Baca Juga: Gus Baha Tentang Tarawih Kilat, 20 Rakaat 7 Menit Itu Terlalu!
(rhs)
Lihat Juga :