Apa Malam Kemuliaan Itu dan Apa Arti Malam Qadar?
Jum'at, 23 April 2021 - 04:02 WIB
loading...
A
A
A
وَمَاۤ اَدۡرٰٮكَ مَا الۡعَقَبَةُ
Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? ( QS Al-Balad [90]: 12 )
وَمَاۤ اَدۡرٰٮكَ مَا لَيۡلَةُ الۡقَدۡرِؕ
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS Al-Qadr [97]: 2)
“Pemakaian kata-kata ma adraka dalam Al-Quran berkaitan dengan objek pertanyaan yang menunjukkan hal-hal yang sangat hebat, dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia,” ujar Quraish Shihab.
Walaupun demikian, sementara ulama membedakan antara pertanyaan ma adraka dan ma yudrika yang juga digunakan Al-Quran dalam tiga ayat.
وَمَا يُدۡرِيۡكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوۡنُ قَرِيۡبًا
Dan tahukah kamu, boleh jadi hari berbangkit itu adalah dekat waktunya? ( QS Al-Ahzab [33]: 63 )
وَمَا يُدۡرِيۡكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيۡبٌ
Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat? ( QS Al-Syura [42]: 17 ).
وَمَا يُدۡرِيۡكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰٓ
Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan diri (dan dosa)? ( QS 'Abasa [80]: 3 ).
Dua ayat pertama di atas mempertanyakan dengan ma yudrika menyangkut waktu kedatangan kiamat, sedang ayat ketiga berkaitan dengan kesucian jiwa manusia. "Ketiga hal tersebut tidak mungkin diketahui manusia," jelas Quraish Shihab.
Secara gamblang Al-Quran --demikian pula As-Sunnah--menyatakan bahwa Nabi SAW tak mengetahui kapan datangnya hari kiamat, tidak pula mengetahui tentang-perkara yang gaib.
Ini berarti bahwa, kata Quraish, ma yudrika digunakan oleh Al-Quran untuk hal-hal yang tidak mungkin diketahui walau oleh Nabi SAW sendiri, sedang wa ma adraka, walau berupa pertanyaan namun pada akhirnya Allah SWT menyampaikannya kepada Nabi SAW sehingga informasi lanjutan dapat diperoleh dari beliau.
Demikian perbedaan kedua kalimat tersebut.
Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? ( QS Al-Balad [90]: 12 )
وَمَاۤ اَدۡرٰٮكَ مَا لَيۡلَةُ الۡقَدۡرِؕ
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS Al-Qadr [97]: 2)
“Pemakaian kata-kata ma adraka dalam Al-Quran berkaitan dengan objek pertanyaan yang menunjukkan hal-hal yang sangat hebat, dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia,” ujar Quraish Shihab.
Walaupun demikian, sementara ulama membedakan antara pertanyaan ma adraka dan ma yudrika yang juga digunakan Al-Quran dalam tiga ayat.
وَمَا يُدۡرِيۡكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوۡنُ قَرِيۡبًا
Dan tahukah kamu, boleh jadi hari berbangkit itu adalah dekat waktunya? ( QS Al-Ahzab [33]: 63 )
وَمَا يُدۡرِيۡكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيۡبٌ
Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat? ( QS Al-Syura [42]: 17 ).
وَمَا يُدۡرِيۡكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰٓ
Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan diri (dan dosa)? ( QS 'Abasa [80]: 3 ).
Dua ayat pertama di atas mempertanyakan dengan ma yudrika menyangkut waktu kedatangan kiamat, sedang ayat ketiga berkaitan dengan kesucian jiwa manusia. "Ketiga hal tersebut tidak mungkin diketahui manusia," jelas Quraish Shihab.
Secara gamblang Al-Quran --demikian pula As-Sunnah--menyatakan bahwa Nabi SAW tak mengetahui kapan datangnya hari kiamat, tidak pula mengetahui tentang-perkara yang gaib.
Ini berarti bahwa, kata Quraish, ma yudrika digunakan oleh Al-Quran untuk hal-hal yang tidak mungkin diketahui walau oleh Nabi SAW sendiri, sedang wa ma adraka, walau berupa pertanyaan namun pada akhirnya Allah SWT menyampaikannya kepada Nabi SAW sehingga informasi lanjutan dapat diperoleh dari beliau.
Demikian perbedaan kedua kalimat tersebut.
Lihat Juga :