Puasa Menjauhi Diri dari Allah? Begini Penjelasan Quraish Shihab
Minggu, 25 April 2021 - 18:23 WIB
loading...
A
A
A
Pertama, siksa di dunia akibat pelanggaran terhadap hukum-hukum Tuhan yang ditetapkan-Nya berlaku di alam raya ini, seperti misalnya: makan berlebihan dapat menimbulkan penyakit; tidak mengendalikan diri dapat menjerumuskan kepada bencana; atau "api panas, dan membakar", dan hukum-hukum alam dan masyarakat lainnya.
Baca juga: Kunci Meraih Derajat Takwa di Bulan Ramadhan, Rajin Baca Al-Qur'an
Kedua, siksa di akhirat, akibat pelanggaran terhadap hukum syariat, seperti tidak salat, puasa, mencuri, melanggar hak-hak manusia, dan lain-lain yang dapat mengakibatkan siksa neraka.
Syaikh Muhammad Abduh menulis, "Menghindari siksa atau hukuman Allah, diperoleh dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa yang diperintahkan-Nya.
Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah SWT). Rasa takut ini, pada mulanya timbul karena adanya siksaan, tetapi seharusnya ia timbul karena adanya Allah SWT (yang menyiksa)."
Dengan demikian yang bertakwa adalah orang yang merasakan kehadiran Allah SWT setiap saat, "bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak, menyadari bahwa Allah melihatnya," sebagaimana bunyi sebuah hadis.
Tentu banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencapai hal tersebut, antara lain dengan jalan berpuasa. Puasa seperti yang dikemukakan di atas adalah satu ibadah yang unik. Keunikannya antara lain karena ia merupakan upaya manusia meneladani Allah SWT.
Baca juga: Usai Puasa Kembali ke Titik Nol, Haedar: Takwa Itu Bukan Pangkat
Baca juga: Kunci Meraih Derajat Takwa di Bulan Ramadhan, Rajin Baca Al-Qur'an
Kedua, siksa di akhirat, akibat pelanggaran terhadap hukum syariat, seperti tidak salat, puasa, mencuri, melanggar hak-hak manusia, dan lain-lain yang dapat mengakibatkan siksa neraka.
Syaikh Muhammad Abduh menulis, "Menghindari siksa atau hukuman Allah, diperoleh dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa yang diperintahkan-Nya.
Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah SWT). Rasa takut ini, pada mulanya timbul karena adanya siksaan, tetapi seharusnya ia timbul karena adanya Allah SWT (yang menyiksa)."
Dengan demikian yang bertakwa adalah orang yang merasakan kehadiran Allah SWT setiap saat, "bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak, menyadari bahwa Allah melihatnya," sebagaimana bunyi sebuah hadis.
Tentu banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencapai hal tersebut, antara lain dengan jalan berpuasa. Puasa seperti yang dikemukakan di atas adalah satu ibadah yang unik. Keunikannya antara lain karena ia merupakan upaya manusia meneladani Allah SWT.
Baca juga: Usai Puasa Kembali ke Titik Nol, Haedar: Takwa Itu Bukan Pangkat
(mhy)
Lihat Juga :