Usai Puasa Kembali ke Titik Nol, Haedar: Takwa Itu Bukan Pangkat

Selasa, 20 April 2021 - 15:10 WIB
loading...
Usai Puasa Kembali ke...
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir/Foto/Muhammadiyah
A A A
JAKARTA - Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menjelaskan tujuan utama disyariatkan ibadah pada bulan Ramadan adalah untuk meningkatkan ketakwaan orang-orang yang beriman ( QS Al-Baqarah: 183 ). Takwa adalah predikat yang paling mulia di sisi Allah, bekal hidup yang diperlukan agar dapat hidup bahagia di dunia dan di akhirat. “Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”, demikian kutipan arti surah al-Baqarah ayat 197 .

Baca juga: Haedar Nashir: Sesuai Kebijakan Pemerintah, Sebaiknya Warga Tidak Mudik

Kata “tattaqun”, menurut Haedar, cenderung dipahami sebagai hadiah yang akan didapatkan oleh orang yang telah berpuasa. "Seringkali takwa dijelaskan sebagai pangkat, gelar, dan identitas yang melekat pada diri orang yang berpuasa. Padahal ungkapan tattaqun adalah proses berkelanjutan dari perilaku takwa," ujarnya.

Menurutnya, yang hendak dicapai dari puasa supaya kita menjadi orang-orang yang bertakwa. Jadi bukan al-muttaqun tapi tattaqun, sebuah proses untuk menjadi bertakwa. Bukan identitas tapi agar kita terus membentuk diri orang yang bertakwa dengan penuh kesadaran. "Kesadaran yang terus menerus itulah yang sesungguhnya sebagai transformasi kita berpuasa,” terang Haedar dalam Pengajian Ramadan bersama civitas akademik UMSU, Medan, sebagaimana disiarkan laman resmi Muhammadiyah, pada Senin (19/04).

Penjelasan Haedar ini ingin menjabarkan bahwa “tattaqun” adalah fiil mudlari, salah satu turunan kata bendanya adalah “muttaqun”. Kedua kelas kata ini mengindikasikan makna yang berbeda. Fiil mudlari menginginkan konteks aktual sebuah pekerjaan, sementara ism atau kata benda mengindikasikan makna kemapanan.

Baca juga: Jadi Pusat Islah, Haedar: Perbedaan Pilihan Politik Jangan Dibawa ke Masjid

Dengan demikian, “tattaqun” bukanlah pangkat, gelar, atau identitas, yang mungkin lebih dekat kepada kata “muttaqun”. Sementara “tattaqun” mensyaratkan aktualitas riil dari sebuah perbuatan takwa. Karenanya, bila selepas Ramadan tindak takwa tidak dilanjutkan, maka “la’allakum tattaqun” tidak akan didapat; sepadan dengan kembali ke kondisi sebelum Ramadan.

Inilah yang disayangkan Haedar, di mana banyak yang berbuat baik di bulan Ramadan, tetapi setelah bulan suci itu berakhir, tidak sedikit dari kaum muslimin kembali ke titik nol. Akan tetapi di alam media sosial, Haedar mencontohkan, banyak sekali pagelaran keburukan yang dipertontonkan, di samping juga banyak konten-konten yang positif.

“Contohnya hoax atau dusta. Dusta itu tidak diperbolehkan atau disebarkan. Tapi sudah tahu itu hoax, masih kita posting juga. Mestinya kalau sudah tahu itu hoax, jangan dikirim. Aib orang jangan dikirim. Ketika mengirim hoax dengan penuh kesadaran, berarti kita setuju dengan isi hoax tersebut,” Haedar mencontohkan.

Baca juga: Prof Haedar Tanggapi Anggapan Shaf Berjarak Sebagai Mazhab WHO
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Ketum Muhammadiyah Prof...
Ketum Muhammadiyah Prof Haedar Nashir Terpilih Menjadi Tokoh Perbukuan Islam 2025
Ibadah Kurban Momentum...
Ibadah Kurban Momentum Membebaskan Diri dari Pesona Duniawi
Ramadan sebagai Madrasah...
Ramadan sebagai Madrasah Pembentuk Pribadi Wasatiyah
Mengembalikan Kemuliaan...
Mengembalikan Kemuliaan Nuzulul Qur'an dengan Kesalehan Ritual dan Sosial
Haedar Nashir Berharap...
Haedar Nashir Berharap Tanwir Muhammadiyah Hasilkan Dokumen Strategis Baru
Maknai Maulid Nabi,...
Maknai Maulid Nabi, PP Muhammadiyah: Islam Ajarkan Kebaikan dan Kedamaian
Rekomendasi
Selain 1.972 Sungai...
Selain 1.972 Sungai Mengering, Ini Fakta Paling Nyata Bahwa Bumi Bocor
Fosil Laut Ungkap Kekuatan...
Fosil Laut Ungkap Kekuatan Arus Teluk yang Mengkhawatirkan
Dekat dengan Indonesia,...
Dekat dengan Indonesia, Ini yang Akan Picu Lempeng Raksasa Samudra Hindia Pecah
Artikel Terkini
Asal-usul Nama Suro...
Asal-usul Nama Suro Asyura? Simak Penjelasannya di Sini!
Benarkah Muharram atau...
Benarkah Muharram atau Suro Bulan Keramat? Begini Pandangan Islam
Malam 1 Suro dan Muharram:...
Malam 1 Suro dan Muharram: Sejarah, Tradisi, serta Keutamaannya dalam Islam
Samakah 1 Muharram dengan...
Samakah 1 Muharram dengan 1 Suro? Simak Penjelasannya di Sini!
3 Puasa Sunnah Muharram...
3 Puasa Sunnah Muharram yang Pahala Tidak Main-main!
Ini Amalan Terbaik bagi...
Ini Amalan Terbaik bagi Wanita Haid dan Nifas di Bulan Muharram
Infografis
Penemuan-penemuan Ilmuwan...
Penemuan-penemuan Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved