Manat, Tuhan yang Dibuang ke Comberan Bersama Tulang Anjing
Kamis, 29 April 2021 - 16:09 WIB
loading...
A
A
A
Setelah hari fajar, Amr pergi ke altar hendak memuja. Tetapi alangkah terkejutnya Amr ketika dilihatnya Manat tidak ada di tempatnya. “Celaka ke mana Tuhan kita? Siapa yang mengambilnya tadi malam?” tanya Amr penasaran.
Tidak seorang pun yang menjawab. Amr mencari Manat ke mana-mana. Dia marah-marah. Akhirnya patung itu ditemukannya ke comberan dalam keadaan terbalik, kepalanya ke bawah dan kakinya di atas. Manat diambilnya, lalu dimandikan dan diminyaki dengan minyak wangi. Sesudah itu diletakkannya kembali ke tempat semula.
“Demi Allah! Seandainya saya tahu siapa yang menganiaya engkau, niscaya saya hukum dia!” kata Amr kepada Manat.
Malam kedua anak-anak remaja itu bertindak pula seperti yang dilakukan mereka kemarin. Setelah fajar menyingsing, Amr mencari Manat dan menemukannya dalam lubang comberan bergelimang kotoran.
Amr mengambil Manat, lalu dibersihkannya, kemudian diminyakinya dengan harum-haruman. Sesudah itu diletakkannya kembali ke tempat pemujaan.
Begitulah remaja-remaja itu memperlakukan Manat setiap malam. Akhirnya habislah kesabaran Amr. Maka diambilnya pedang, kemudian digantungkannya di leher patung Manat.
Kata Amr, “Hai, Manat! Demi Allah! Sesungguhnya saya tidak tahu siapa yang menganiaya engkau. Seandainya engkau memang sanggup, cobalah lawan orang yang menganiayamu itu. Ini pedang untukmu.”
Baca juga: Kisah Sahabat Nabi, Kisah Umar Bin Abdul Aziz dan Baju Usang Putranya
Kemudian orang tua itu pergi tidur. Setelah putera-putera Amr yakin ayahnya telah tidur pula, mereka pergi ke tempat Manat. Mereka ambil pedang yang tergantung di leher Manat, kemudian Manat mereka bawa ke luar. Sesudah itu Manat mereka ikat jadi satu dengan bangkai anjing lalu mereka lemparkan ke comberan Bani Salamah.
Setelah orang tua itu bangun, dilihatnya Manat tidak ditempatnya. Amr pergi mencari-cari dan ditemukan dalam comberan. Muka Manat menghadap ke tanah bersatu dengan bangkai anjing. Pedangnya tidak ada. Sekarang Manat tidak diambilnya, tetapi dibiarkannya tercampak dalam comberan.
Kata Amr, “Kalau benar engkau Tuhan, niscaya engkau tidak mau masuk comberan bersama dengan bangkai anjing.”
Tidak lama kemudian Amr masuk Islam. Amr bin Jamuh merasakan bagaimana manisnya iman. Dia menyesali dosa-dosanya selama dalam kemusyrikan. Maka setelah Islam, diarahkannya seluruh hidupnya, hartanya, dan anak-anaknya dalam menta’ati Allah dan Rasul-Nya.
Tidak seorang pun yang menjawab. Amr mencari Manat ke mana-mana. Dia marah-marah. Akhirnya patung itu ditemukannya ke comberan dalam keadaan terbalik, kepalanya ke bawah dan kakinya di atas. Manat diambilnya, lalu dimandikan dan diminyaki dengan minyak wangi. Sesudah itu diletakkannya kembali ke tempat semula.
“Demi Allah! Seandainya saya tahu siapa yang menganiaya engkau, niscaya saya hukum dia!” kata Amr kepada Manat.
Malam kedua anak-anak remaja itu bertindak pula seperti yang dilakukan mereka kemarin. Setelah fajar menyingsing, Amr mencari Manat dan menemukannya dalam lubang comberan bergelimang kotoran.
Amr mengambil Manat, lalu dibersihkannya, kemudian diminyakinya dengan harum-haruman. Sesudah itu diletakkannya kembali ke tempat pemujaan.
Begitulah remaja-remaja itu memperlakukan Manat setiap malam. Akhirnya habislah kesabaran Amr. Maka diambilnya pedang, kemudian digantungkannya di leher patung Manat.
Kata Amr, “Hai, Manat! Demi Allah! Sesungguhnya saya tidak tahu siapa yang menganiaya engkau. Seandainya engkau memang sanggup, cobalah lawan orang yang menganiayamu itu. Ini pedang untukmu.”
Baca juga: Kisah Sahabat Nabi, Kisah Umar Bin Abdul Aziz dan Baju Usang Putranya
Kemudian orang tua itu pergi tidur. Setelah putera-putera Amr yakin ayahnya telah tidur pula, mereka pergi ke tempat Manat. Mereka ambil pedang yang tergantung di leher Manat, kemudian Manat mereka bawa ke luar. Sesudah itu Manat mereka ikat jadi satu dengan bangkai anjing lalu mereka lemparkan ke comberan Bani Salamah.
Setelah orang tua itu bangun, dilihatnya Manat tidak ditempatnya. Amr pergi mencari-cari dan ditemukan dalam comberan. Muka Manat menghadap ke tanah bersatu dengan bangkai anjing. Pedangnya tidak ada. Sekarang Manat tidak diambilnya, tetapi dibiarkannya tercampak dalam comberan.
Kata Amr, “Kalau benar engkau Tuhan, niscaya engkau tidak mau masuk comberan bersama dengan bangkai anjing.”
Tidak lama kemudian Amr masuk Islam. Amr bin Jamuh merasakan bagaimana manisnya iman. Dia menyesali dosa-dosanya selama dalam kemusyrikan. Maka setelah Islam, diarahkannya seluruh hidupnya, hartanya, dan anak-anaknya dalam menta’ati Allah dan Rasul-Nya.
(mhy)
Lihat Juga :