Manat, Tuhan yang Dibuang ke Comberan Bersama Tulang Anjing
Kamis, 29 April 2021 - 16:09 WIB
loading...
A
A
A
Ketika Mu’adz hadir di hadapan ayahnya, Amr berkata, “Coba baca kata-kata yang pernah diucapkan orang itu. Bapak ingin mendengarkannya. Mu’adz membacakan surat Al-Fatihah kepada bapaknya.
“Alangkah bagus dan indahnya kalimat itu,” kata Amr. “Apakah setiap ucapannya seperti itu?” tanya Armr kemudian.
“Bahkan lebih bagus dari itu. Bersediakah Bapak bai’at dengannya? Rakyat Bapak telah bai’at semuanya dengan dia,” kata Mu’adz.
Orang tua itu diam sebentar. Kemudian dia berkata, “Saya tidak akan melakukannya sebelum musyawarah lebih dahulu dengan ‘Manat’. Saya menunggu apa yang dikatakan Manat.”
“Bagaimana Manat bisa menjawab? Bukankah itu benda mati tidak bisa berpikir dan tidak bisa berbicara?” kata Mu’adz.
“Saya katakan kepadamu, saya tidak akan mengambil keputusan tanpa dia!” kata ‘Amr menegaskan.
Amr bin Jamuh menyembah Manat di altar tempat dia biasa memuja. Dipujinya patung itu dengan puji-pujian setinggi-tingginya.
Baca juga: Kisah Abdullah bin Hudzafah Mencium Kepala Kaisar Romawi
Kemudian dia berkata, “Hai, Manat! Saya tidak ragu, engkau tentu tahu mengenai seorang dai yang datang dari Makkah. Dia tidak bermaksud jahat kepada siapa pun, melainkan kepada engkau sendiri. Dia datang kemari, melarang kami menyembah engkau. Sekalipun saya terpesona mendengarkan kalimat-kalimatnya yang indah, saya tidak mau melakukan bai’at dengannya sebelum bermusyawarah denganmu. Karena itu berilah saya petunjukmu.”
Sudah barang tentu Manat tidak menjawab apa-apa. Dia diam seribu bahasa seperti biasa, dan akan terus diam.
Kata Amr, “Mungkin engkau marah kepada saya. Padahal saya tidak pernah menyakitimu selama ini. Tetapi tidak apalah. Engkau akan saya tinggalkan beberapa hari sampai marahmu hilang.”
Putra-putra Amr tahu benar kapan waktunya ayah mereka memuja berhala itu. Mereka juga tahu iman bapaknya telah goyang terhadap Manat. Karena itu mereka berusaha hendak mencabut Manat dari hati yang telah goyang itu sampai tuntas. Itulah jalan satu-satunya menuju iman yang benar.
Pada suatu malam putera-putera Amr dan kawan mereka Mu’adz bin Jabal pergi ke altar tempat Manat berada. Manat mereka ambil, lalu mereka bawa ke lobang kotoran Bani Salamah dan mereka lemparkan ke sana. Tidak seorang pun yang mengetahui dan melihat perbuatan mereka.
Baca juga: Lima Sahabat Nabi Paling Tajir: Hidup Kaya Raya, Mati Masuk Surga
“Alangkah bagus dan indahnya kalimat itu,” kata Amr. “Apakah setiap ucapannya seperti itu?” tanya Armr kemudian.
“Bahkan lebih bagus dari itu. Bersediakah Bapak bai’at dengannya? Rakyat Bapak telah bai’at semuanya dengan dia,” kata Mu’adz.
Orang tua itu diam sebentar. Kemudian dia berkata, “Saya tidak akan melakukannya sebelum musyawarah lebih dahulu dengan ‘Manat’. Saya menunggu apa yang dikatakan Manat.”
“Bagaimana Manat bisa menjawab? Bukankah itu benda mati tidak bisa berpikir dan tidak bisa berbicara?” kata Mu’adz.
“Saya katakan kepadamu, saya tidak akan mengambil keputusan tanpa dia!” kata ‘Amr menegaskan.
Amr bin Jamuh menyembah Manat di altar tempat dia biasa memuja. Dipujinya patung itu dengan puji-pujian setinggi-tingginya.
Baca juga: Kisah Abdullah bin Hudzafah Mencium Kepala Kaisar Romawi
Kemudian dia berkata, “Hai, Manat! Saya tidak ragu, engkau tentu tahu mengenai seorang dai yang datang dari Makkah. Dia tidak bermaksud jahat kepada siapa pun, melainkan kepada engkau sendiri. Dia datang kemari, melarang kami menyembah engkau. Sekalipun saya terpesona mendengarkan kalimat-kalimatnya yang indah, saya tidak mau melakukan bai’at dengannya sebelum bermusyawarah denganmu. Karena itu berilah saya petunjukmu.”
Sudah barang tentu Manat tidak menjawab apa-apa. Dia diam seribu bahasa seperti biasa, dan akan terus diam.
Kata Amr, “Mungkin engkau marah kepada saya. Padahal saya tidak pernah menyakitimu selama ini. Tetapi tidak apalah. Engkau akan saya tinggalkan beberapa hari sampai marahmu hilang.”
Putra-putra Amr tahu benar kapan waktunya ayah mereka memuja berhala itu. Mereka juga tahu iman bapaknya telah goyang terhadap Manat. Karena itu mereka berusaha hendak mencabut Manat dari hati yang telah goyang itu sampai tuntas. Itulah jalan satu-satunya menuju iman yang benar.
Pada suatu malam putera-putera Amr dan kawan mereka Mu’adz bin Jabal pergi ke altar tempat Manat berada. Manat mereka ambil, lalu mereka bawa ke lobang kotoran Bani Salamah dan mereka lemparkan ke sana. Tidak seorang pun yang mengetahui dan melihat perbuatan mereka.
Baca juga: Lima Sahabat Nabi Paling Tajir: Hidup Kaya Raya, Mati Masuk Surga
Lihat Juga :