Begini Ulasan Quraish Shihab Mengenai Esensi Perayaan Idul Fitri
Sabtu, 15 Mei 2021 - 14:44 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
Al-Quran adalah kitab rujukan untuk memperoleh petunjuk dan bimbingan agama. M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul Wawasan Al-Quran , Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, (Penerbit Mizan), menyebut ada tiga cara yang diperkenalkan ulama untuk memperoleh pesan-pesan kitab suci itu.
Baca juga: Armand Maulana Jadi Imam Salat Idul Fitri di Inggris
Pertama, melalui penjelasan Nabi SAW, para sahabat beliau, dan murid-murid mereka. Hal ini dinamai tafsir bir-riwayah. Kedua, melalui analisis kebahasaan dengan menggunakan nalar yang didukung oleh kaidah-kaidah ilmu tafsir. Ini, dinamai tafsir bid-dinyah. Ketiga, melalui kesan yang diperoleh dari penggunaan kosa kata ayat atau bilangannya, yang dinamai tafsir bir-riwayah.
Quraish Shihab mengkaji substansi halal bihalal melalui Al-Quran dengan menitikberatkan pandangan pada cara yang ketiga. Ia pun berpangkal tolak pada beberapa istilah yang lumrah digunakan dalam konteks halal bihalal, yaitu Idul Fitri, halal bihalal, dan Minal 'Aidin wal-Faizin.
Idul Fitri
Kata 'Id terambil dari akar kata yang berarti kembali, yakni kembali ke tempat atau ke keadaan semula. Ini berarti bahwa sesuatu yang "kembali" pada mulanya berada pada suatu keadaan atau tempat, kemudian meninggalkan tempat atau keadaan itu, lalu kembali dalam arti ke tempat dan keadaan semula.
Nah, apakah keadaan atau tempat semula itu?
Baca juga: Viral, Anak Gaza Abaikan Bom Israel dan Melompat Kegirangan Rayakan Idul Fitri
Menurut Quraish, hal ini dijelaskan oleh kata fithr, yang antara lain berarti asal kejadian, agama yang benar, atau kesucian.
Dalam pandangan Al-Quran, katanya, asal kejadian manusia bebas dari dosa dan suci, sehingga 'idul fithr antara lain berarti kembalinya manusia kepada keadaan sucinya, atau keterbebasannya dari segala dosa dan noda, sehingga dengan demikian ia berada dalam kesucian.
Dosa memang mengakibatkan manusia menjauh dari posisinya semula. Baik kedekatan posisinya terhadap Allah maupun sesame manusia. Demikianlah salah satu kesan yang diperoleh dari sekian banyak ayat Al-Quran.
Baca juga: Armand Maulana Jadi Imam Salat Idul Fitri di Inggris
Pertama, melalui penjelasan Nabi SAW, para sahabat beliau, dan murid-murid mereka. Hal ini dinamai tafsir bir-riwayah. Kedua, melalui analisis kebahasaan dengan menggunakan nalar yang didukung oleh kaidah-kaidah ilmu tafsir. Ini, dinamai tafsir bid-dinyah. Ketiga, melalui kesan yang diperoleh dari penggunaan kosa kata ayat atau bilangannya, yang dinamai tafsir bir-riwayah.
Quraish Shihab mengkaji substansi halal bihalal melalui Al-Quran dengan menitikberatkan pandangan pada cara yang ketiga. Ia pun berpangkal tolak pada beberapa istilah yang lumrah digunakan dalam konteks halal bihalal, yaitu Idul Fitri, halal bihalal, dan Minal 'Aidin wal-Faizin.
Idul Fitri
Kata 'Id terambil dari akar kata yang berarti kembali, yakni kembali ke tempat atau ke keadaan semula. Ini berarti bahwa sesuatu yang "kembali" pada mulanya berada pada suatu keadaan atau tempat, kemudian meninggalkan tempat atau keadaan itu, lalu kembali dalam arti ke tempat dan keadaan semula.
Nah, apakah keadaan atau tempat semula itu?
Baca juga: Viral, Anak Gaza Abaikan Bom Israel dan Melompat Kegirangan Rayakan Idul Fitri
Menurut Quraish, hal ini dijelaskan oleh kata fithr, yang antara lain berarti asal kejadian, agama yang benar, atau kesucian.
Dalam pandangan Al-Quran, katanya, asal kejadian manusia bebas dari dosa dan suci, sehingga 'idul fithr antara lain berarti kembalinya manusia kepada keadaan sucinya, atau keterbebasannya dari segala dosa dan noda, sehingga dengan demikian ia berada dalam kesucian.
Dosa memang mengakibatkan manusia menjauh dari posisinya semula. Baik kedekatan posisinya terhadap Allah maupun sesame manusia. Demikianlah salah satu kesan yang diperoleh dari sekian banyak ayat Al-Quran.
Lihat Juga :