Al-Qur'an Mulia (2): Kandungannya Bak Lautan Tinta yang Tak Pernah Kering
Sabtu, 29 Mei 2021 - 14:50 WIB
loading...
A
A
A
Sekarang, tidak ada lagi penjajahan secara fisik, yang ada penjajahan gagasan, budaya dan lain sebagainya, makanya Nabi mengatakan jihad yang paling besar nilai pahalanya saat ini adalah melawan hawa nafsu sendiri. Disinlah alasan mengapa Allah menyejajarkan para penuntut ilmu sebagai syuhada.
Namun, tidak ada perang bukan berarti ayat tersebut tidak relevan dan harus dihapus, pendapat ini sangat zalim. Salah satu pemaknaan yang sangat tepat atas ayat-ayat jihad pernah dilakukan oleh KH Mohammad Hasjim Asy'arie, pendiri Nahdlatul Ulama, saat Indonesia dijajah kompeni Belanda. Beliau menyerukan jihat melawan Belanda dengan asumsi bahwa, bila Belanda menang, maka Islam di Indonesia akan punah.
Kita tidak tahu, apakah akan ada perang agama ke depan, tetapi sejauh ini menurut saya yang ada baru sebatas perang atas dasar hawa nafsu politik, atau kekuasaan semata, belum betul betul panggilan Allah.
Untuk itu, diperlukan mufassir yang bisa mengerti apa maksud Allah dalam konteks ruang dan waktu tertentu. Bila saat ini zaman artificial intelligent, bio-teknologi, zaman cyber, maka mufassirnya juga harus memiliki kemampuan memahami keadaan, sehingga tidak ada jarak antara pemaknaan Al-Qur'an dan kebutuhan umat.
Jangan sampai mufassir keteteran dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang semakin pintar. Bekal keahlian mantiq, kepiawaian bahasa Arab saja tidak cukup, meski itu adalah alat utama, sebab Qur'an sudah dengan sangat baik diterjemahkan dalam segala bahasa, namun masih sedikit ditemukan tafsir yang memadai sesuai zaman.
Qur'an harus terus ditarfsirkan, bila tidak ia akan mati. Mufassir adalah manusia-manusia pilihan Allah untuk bisa menjelaskan makna Qur'an, salah benar itu biasa dalam tafsir karena ia adalah olah pikiran manusia. Enak sekali pahalanya, salah dapat satu, benar dapat dua.
Hanya mufassir dengan pendengaran, penglihatan dan mata batin yang telah disucikan Allah-lah yang bisa menjelaskan Quran secara terang, seterang sinar matahari. Kata kuncinya adalah haqqul yakin, tidak ada keraguan bagi si pembaca sebagaimana dikatakan Allah dalam ayat ini.
Baca Juga: Al-Qur'an Kitab Mulia (1): Makna Alif Lam Mim yang Jarang Diketahui
Namun, tidak ada perang bukan berarti ayat tersebut tidak relevan dan harus dihapus, pendapat ini sangat zalim. Salah satu pemaknaan yang sangat tepat atas ayat-ayat jihad pernah dilakukan oleh KH Mohammad Hasjim Asy'arie, pendiri Nahdlatul Ulama, saat Indonesia dijajah kompeni Belanda. Beliau menyerukan jihat melawan Belanda dengan asumsi bahwa, bila Belanda menang, maka Islam di Indonesia akan punah.
Kita tidak tahu, apakah akan ada perang agama ke depan, tetapi sejauh ini menurut saya yang ada baru sebatas perang atas dasar hawa nafsu politik, atau kekuasaan semata, belum betul betul panggilan Allah.
Untuk itu, diperlukan mufassir yang bisa mengerti apa maksud Allah dalam konteks ruang dan waktu tertentu. Bila saat ini zaman artificial intelligent, bio-teknologi, zaman cyber, maka mufassirnya juga harus memiliki kemampuan memahami keadaan, sehingga tidak ada jarak antara pemaknaan Al-Qur'an dan kebutuhan umat.
Jangan sampai mufassir keteteran dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang semakin pintar. Bekal keahlian mantiq, kepiawaian bahasa Arab saja tidak cukup, meski itu adalah alat utama, sebab Qur'an sudah dengan sangat baik diterjemahkan dalam segala bahasa, namun masih sedikit ditemukan tafsir yang memadai sesuai zaman.
Qur'an harus terus ditarfsirkan, bila tidak ia akan mati. Mufassir adalah manusia-manusia pilihan Allah untuk bisa menjelaskan makna Qur'an, salah benar itu biasa dalam tafsir karena ia adalah olah pikiran manusia. Enak sekali pahalanya, salah dapat satu, benar dapat dua.
Hanya mufassir dengan pendengaran, penglihatan dan mata batin yang telah disucikan Allah-lah yang bisa menjelaskan Quran secara terang, seterang sinar matahari. Kata kuncinya adalah haqqul yakin, tidak ada keraguan bagi si pembaca sebagaimana dikatakan Allah dalam ayat ini.
Baca Juga: Al-Qur'an Kitab Mulia (1): Makna Alif Lam Mim yang Jarang Diketahui
(rhs)
Lihat Juga :