Al-Qur'an Kitab Mulia (1): Makna Alif Lam Mim yang Jarang Diketahui

loading...
Al-Quran Kitab Mulia (1): Makna Alif Lam Mim yang Jarang Diketahui
Muhammad Maruf Assyahid, santri jurnalis yang sedang menempuh studi MBA di University of the People, California, AS. Foto/ist
Muhammad Ma'ruf Assyahid
Alumnus Ponpes Baitul Mustaqim Lampung Tengah,
Lulusan FE Unila-Lampung dan Magister UIN Raden Intan Bandar Lampung,
Sekarang Sedang Menempuh Studi MBA di University of the People, California, AS.

Al-Baqarah 2:1 (Alif Lām Mīm) الۤمّۤ. Hanya Allah Ta'ala yang tahu makna ayat ini, karena itu sudah dikatakan-Nya berulang kali dalam Al-Qur'an. Namun, mengapa banyak mufassir tetap nekat memberi penafsiran?

Jawabannya ya tidak apa-apa, namanya juga tafsir bisa salah, yang tidak bisa salah itu ayat Qur'an. Saya lebih sreg dengan pendapat dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu bahwa huruf "Alif" itu bermakna Allah 'Azza wa Jalla, "Lam" itu bermakna Malaikat Jibril 'alaihissalam dan "Mim" adalah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Ketiganya terlibat aktif dalam proses menurunkan mukjizat agung ini ke dunia, dimana sumbernya dari Allah, kurirnya Jibril dan yang menghantarkan ke hati manusia-manusia di dunia adalah manusia paling mulia yang bahkan ruhnya, disebutkan sejumlah tafsir sudah ada sebelum Nabi Adam diciptakan, yakni junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Makanya, dalam tafsir-tafsir sufi disebutkan bahwa Al-Qur'an itu adalah simbol dari alam semesta atau makrokosmos, setiap ayat adalah planet-planet, dan setiap huruf adalah hakikat dari setiap insan manusia atau mikrokosmos. Maka, bagi siapa yang diberikan semacam pengetahuan jati dirinya dalam bentuk huruf, misalkan Mim, itu berarti bahwa yang bersangkutan diminta meneladani sifat-sifat Rasulullah SAW.

Al-Baqarah 2:2 (Kitab Al-Qur'an ini tidak ada keraguan di dalamnya). Artinya, bila si pembaca merasa ragu, maka keraguan itu bersumber dari pelaku bukan dari objek bacaanya, atau Qur'an. Hal ini disebabkan oleh masalah atau penyakit pada tiga organ ruhaninya, yaitu pendengaran, penglihatan, dan hatinya belum bersih.

Salah satu cara agar bersih adalah dengan membacanya berulang-ulang, karena menurut Allah, metode pengajaran Al-Qur'an paling mudah adalah dibaca berulang-ulang. Untuk mendapatkan barokah Qur'an, perlu niat baik, kesehatan indera, kecerdasan akal, dan kualifikasi sebagai mufassir saja tidak cukup.

Keraguan adalah pintu gerbang pengetahuan, karena itu bila anda ragu dengan ayat-ayat Qur'an, cobalah mengkajinya lebih dalam, jangan langsung ditinggalkan. Cara paling mudah adalah dengan bertafakur, atas apa yang ada di sekeliling anda. Saya sarankan menonton tayangan film dokumenter flora dan fauna, atau sejarah sejarah dunia kuno. Insya Allah akan ada moment of the truth atau kliknya. Bekali diri anda dengan beragam ilmu pengetahuan, baik ilmu sosial, maupun ilmu pasti.

Saya tidak sependapat dengan pengkategorian ilmu agama vs ilmu sains atau manusia, ini mengerdilkan keagungan Allah Ta'ala. Sebagai muslim kita harus yakin bahwa semua adalah ilmu itu milik Allah, baik itu ditemukan oleh muslim maupun oleh non-muslim.

Makanya yang disebut ulama itu orang yang memikiki ilmu, bukan saja ilmu agama, tetapi ilmu apa saja yang bermanfaat bagi manusia. Merenungkan isi Qur'an itu ibarat menjawab teka teki silang, saling terkait, melengkapi puzzle-puzzle yang berserakan diantara ayat Qur'an dan ayat alam semesta, keduanya ciptaan Allah.

Tidak mengherankan banyak sekali ayat-ayat yang diujung kalimat menantang pembacanya untuk berpikir, merenung dan sebagainya. Anda tidak perlu mondok puluhan tahun, atau belajar nahwu-sharaf —meskipun ini sangat diperlukan bagi tafsir untuk referensi umat, katakanlah seperti tafsir yang ditulis oleh mufassir berkualitas tinggi seperti, tafsir Al-Misbah, tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ibn Abbas dan lainnya— untuk bisa memaknai secara pribadi ayat-ayat Al-Qur'an.

Paling tidak, baca dan tafsirkanlah Qur'an untuk keperluan anda diri sendiri. Sebab Al-Qur'an ini bukan kitabnya orang Islam saja, ia juga disuguhkan Allah bagi manusia, jin, dan alam semesta, apapun agamanya. Disitulah nilai ibadahnya bagi muslim dan kita akan dihisab berdasarkan pemahaman kita masing-masing terhadap Qur'an kelak di hari pembalasan.

Jangan sampai kita taklid buta, minimal paham meskipun tidak bisa menemukan maknanya sendiri. Batasan paling aman untuk menafsirkan Quran secara mandiri menurut saya cuma satu; bila anda terkena penyakit setan "Ana khairun minhu", maka disitulah kesesatan akan muncul di kemudian hari.

Sebab prinsip anda lebih baik dari orang lain itulah pokok dari segala macam kejahatan di dunia, yang membuat Iblis dikutuk Allah. Artinya, bacalah juga tafsir-tafsir lain dan juga semua ilmu pengetahuan sebagai pembanding pemahaman anda.

Subhanallah, Anda bisa tiba-tiba menangis, bila memahami hakikat-hakikat yang tersembunyi di dalamnya, misalnya mengapa kucing bisa memiliki keahlian yang sama saat buang hajat, meski tidak pernah belajar atau bahkan dididik oleh induknya. Mereka pasti sebisa mungkin mencari tempat yang tersembunyi, mengais-ngais, dan menutup kotorannya. Itu namanya insting yang diberikan Allah satu paket dalam ruh kucing. Insting juga diberikan kepada manusia, namanya reflek].

(ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, [Hanya orang yang takut akan larangan dan taat perintah Allah yang bisa menjadikan Qur'an sebagai petunjuk dalam kehidupan, mencari dan bertemu dengan Allah di akhirat kelak. Karena itu tidak mengherankan bila sudah sangat banyak sarjana non-muslim di dunia barat yang mempelajari Quran tidak mendapat hidayah masuk Islam, karena memang tujuannya untuk pengetahuan semata.

Sebaliknya ada Muallaf yang masuk Islam hanya gara-gara mendengar lantunan ayat suci Al-Quran, itulah dahsyatnya Qur'an, maknanya bisa sangat personal sekaligus universal. Untuk itu, modal utama mempelajari Quran adalah niat yang luhur, untuk mendapatkan ilmu Allah, hanya ini yang dibutuhkan --dimana ada niat disitu ada jalan--.

(Bersambung)!

Baca Juga: Sejarah Ilmu Tafsir Al-Qur'an, Pengertian dan Jenisnya (2)
(rhs)
preload video