Ketika Abu Nawas dengan Sukarela Masuk ke Penjara
Senin, 31 Mei 2021 - 08:48 WIB
loading...
A
A
A
"Yang sangat menyakitkan ia telah berani mencemooh syair karyaku, ayahanda," kata Al Amin.
“Tentu saja karena memang karya syairmu jelek," balas Raja.
"Dia itu kan memang seorang penyair hebat. Jadi bisa menilai mana karya syair yang bagus dan yang tidak bagus. Lagi pula apa yang ia katakan itu jangan kamu anggap sebagai ejekan, melainkan sebuah kritikan yang harus kamu terima dengan lapang dada," lanjut sang Raja menasihati.
"Baik. Kalau begitu beri lagi aku kesempatan waktu untuk memperbaiki karya syairku," kata Al Amin sambil beranjak pergi.
Untuk kedua kalinya Al Amin pergi ke tempat yang sepi guna mengasah pikiran dan mendalami ilmu sastra agar bisa menulis syair yang benar benar bagus, tidak seperti sebelumnya. Dan beberapa pekan kemudian ia sudah pulang ke istana.
Esoknya pagi pagi sekali baginda Raja Harun Al Rasyid, Abu Nawas, dan beberapa penyair sudah berada di istana. Rupanya pertemuan itu sudah diatur oleh sang permaisuri. Beliau ingin mereka mendengarkan syair karya putranya yang baru saja pulang mendalami ilmu sastra.
"Dengarkan karya syair putraku Al Amin,” kata sang perrnaisun.
"Baik, silahkan," sahut Abu Nawas.
Al Amin pun mulai membaca syair karyanya:
Hai binatang yang duduk bersimpuh
Rasanya tidak ada yang setolol kamu
Kamu seperti hidangan kinafah
Yang diolesi dengan rninyak biji hardal dan minyak sapi yang kental.
Seperti warna seekor kuda belang.
Begitu selesai mendengar syair tersebut Abu Nawas langsung bangkit dan hendak berlalu dari tempatnya.
“Kemana kamu, Abu Nawas?" tanya sang Raja Harun Al Rasyid.
"Saya lebih suka balik ke penjara saja, daripada mendengar syair macam ini. Toh, sebentar lagi putramu ini pasti akan menyuruh polisi membawaku ke sana," jawab Abu Nawas.
Raja tertawa terpingkal-pingkal rnendengar jawaban dari Abu Nawas itu. Sementara sang permaisuri hanya bisa duduk bengong. Kini ia sadar dan yakin bahwa putranya Al Amin memang tak pandai membuat syair.
“Tentu saja karena memang karya syairmu jelek," balas Raja.
"Dia itu kan memang seorang penyair hebat. Jadi bisa menilai mana karya syair yang bagus dan yang tidak bagus. Lagi pula apa yang ia katakan itu jangan kamu anggap sebagai ejekan, melainkan sebuah kritikan yang harus kamu terima dengan lapang dada," lanjut sang Raja menasihati.
"Baik. Kalau begitu beri lagi aku kesempatan waktu untuk memperbaiki karya syairku," kata Al Amin sambil beranjak pergi.
Untuk kedua kalinya Al Amin pergi ke tempat yang sepi guna mengasah pikiran dan mendalami ilmu sastra agar bisa menulis syair yang benar benar bagus, tidak seperti sebelumnya. Dan beberapa pekan kemudian ia sudah pulang ke istana.
Esoknya pagi pagi sekali baginda Raja Harun Al Rasyid, Abu Nawas, dan beberapa penyair sudah berada di istana. Rupanya pertemuan itu sudah diatur oleh sang permaisuri. Beliau ingin mereka mendengarkan syair karya putranya yang baru saja pulang mendalami ilmu sastra.
"Dengarkan karya syair putraku Al Amin,” kata sang perrnaisun.
"Baik, silahkan," sahut Abu Nawas.
Al Amin pun mulai membaca syair karyanya:
Hai binatang yang duduk bersimpuh
Rasanya tidak ada yang setolol kamu
Kamu seperti hidangan kinafah
Yang diolesi dengan rninyak biji hardal dan minyak sapi yang kental.
Seperti warna seekor kuda belang.
Begitu selesai mendengar syair tersebut Abu Nawas langsung bangkit dan hendak berlalu dari tempatnya.
“Kemana kamu, Abu Nawas?" tanya sang Raja Harun Al Rasyid.
"Saya lebih suka balik ke penjara saja, daripada mendengar syair macam ini. Toh, sebentar lagi putramu ini pasti akan menyuruh polisi membawaku ke sana," jawab Abu Nawas.
Raja tertawa terpingkal-pingkal rnendengar jawaban dari Abu Nawas itu. Sementara sang permaisuri hanya bisa duduk bengong. Kini ia sadar dan yakin bahwa putranya Al Amin memang tak pandai membuat syair.
(mhy)
Lihat Juga :