Pergi Haji di Zaman Dulu: Biar Repot, Tetap Banyak Peminat
Selasa, 08 Juni 2021 - 09:18 WIB
loading...
A
A
A
“Dan para haji berhadapan dengan bermacam-macam bahaya. Tidak jarang perahu yang mereka tumpangi karam dan penumpangnya tenggelam atau terdampar di pantai tak dikenal," tulis Martin.
Ada haji yang semua harta bendanya dirampok bajak laut atau, malah, awak perahu sendiri. Musafir yang sudah sampai ke tanah Arab pun belum aman juga, karena di sana suku-suku Badui sering merampok rombongan yang menuju Makkah.
Tidak jarang juga wabah penyakit melanda jemaah haji, di perjalanan maupun di tanah Arab. Naik haji, pada zaman itu, memang bukan persoalan enteng.
Dalam catatan sejarah haji abad 18 yang ditulis oleh Johan Eisenberger dalam disertasinya yang berjudul Indie and de Bedevaart naar Mekka, dituliskan ada sekelompok orang yang tiba ke Batavia usai menunaikan ibadah haji di Makkah.
Dalam disertasi itu, dilaporkan 10 orang jemaah haji telah kembali ke Hindia-Belanda dan tiba di Batavia pada 21 April 1716.
Berhaji pada zaman dahulu merupakan ibadah istimewa karena disertai perjuangan dengan perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan. Sebuah perjalanan antara hidup dan mati.
Baca juga: Haji 2021 Batal, FKDT Nilai Pemerintah Sudah dengan Pertimbangan Matang
Saat Indonesia mulai dijajah Belanda, jumlah jemaah haji semakin bertambah. Pemerintah Hindia-Belanda pun ikut serta memberangkatkan jemaah haji ke Tanah Suci.
Namun saat itu Pemerintah Hindia-Belanda mengurangi jumlah kuota calon jamaah haji sebab mereka khawatir akan muncul pemberontakan.
Selain itu, Belanda khawatir akan dampak politis dari ibadah haji. Sebab kepulangan orang yang telah melaksanakan haji akan mudah diterima, yakni sebagai orang suci khususnya di Jawa dan akan lebih didengarkan oleh penduduk awam.
Ada haji yang semua harta bendanya dirampok bajak laut atau, malah, awak perahu sendiri. Musafir yang sudah sampai ke tanah Arab pun belum aman juga, karena di sana suku-suku Badui sering merampok rombongan yang menuju Makkah.
Tidak jarang juga wabah penyakit melanda jemaah haji, di perjalanan maupun di tanah Arab. Naik haji, pada zaman itu, memang bukan persoalan enteng.
Dalam catatan sejarah haji abad 18 yang ditulis oleh Johan Eisenberger dalam disertasinya yang berjudul Indie and de Bedevaart naar Mekka, dituliskan ada sekelompok orang yang tiba ke Batavia usai menunaikan ibadah haji di Makkah.
Dalam disertasi itu, dilaporkan 10 orang jemaah haji telah kembali ke Hindia-Belanda dan tiba di Batavia pada 21 April 1716.
Berhaji pada zaman dahulu merupakan ibadah istimewa karena disertai perjuangan dengan perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan. Sebuah perjalanan antara hidup dan mati.
Baca juga: Haji 2021 Batal, FKDT Nilai Pemerintah Sudah dengan Pertimbangan Matang
Saat Indonesia mulai dijajah Belanda, jumlah jemaah haji semakin bertambah. Pemerintah Hindia-Belanda pun ikut serta memberangkatkan jemaah haji ke Tanah Suci.
Namun saat itu Pemerintah Hindia-Belanda mengurangi jumlah kuota calon jamaah haji sebab mereka khawatir akan muncul pemberontakan.
Selain itu, Belanda khawatir akan dampak politis dari ibadah haji. Sebab kepulangan orang yang telah melaksanakan haji akan mudah diterima, yakni sebagai orang suci khususnya di Jawa dan akan lebih didengarkan oleh penduduk awam.
Lihat Juga :