Pergi Haji di Zaman Dulu: Biar Repot, Tetap Banyak Peminat

loading...
Pergi Haji di Zaman Dulu: Biar Repot, Tetap Banyak Peminat
Calon jamaah haji zaman dulu naik kapal demi ke Tanah Suci/Foto YouTube
SEJAK ratusan tahun silam, orang Nusantara, termasuk di dalamnya Indonesia, telah melakukan perjalanan ibadah haji . Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, jumlah orang Nusantara yang berhaji berkisar antara 10% dan 20% dari seluruh jamaah haji.

Baca juga: Sudahi Informasi Hoaks Seputar Pembatalan Haji

Peneliti asal Belanda, Martin van Bruinessen, dalam artikelnya "Mencari Ilmu dan Pahala di Tanah Suci: Orang Nusantara Naik Haji" menyebutkan pada dasawarsa 1920-an sekitar 40% dari seluruh haji berasal dari Indonesia.

Kala itu, cukup banyak orang Indonesia yang menetap di Makkah. Mereka umumnya sedang menuntut ilmu agama. Sekurang-kurangnya sejak tahun 1860, bahasa Melayu merupakan bahasa kedua di Makkah, setelah bahasa Arab.

Pada saat itu, tidak mudah bagi orang Nusantara untuk berhaji. Perjalanan ke Tanah Suci memerlukan waktu yang lama. Semua dilakukan dalam perjalanan laut yang membahayakan.



Pada artikel yang sama Martin mengatakan, sebelum ada kapal api, perjalanan haji dilakukan dengan perahu layar, yang sangat tergantung kepada musim. Kemudian para haji juga menumpang pada kapal dagang.

Dengan menggunakan transportasi itu berarti mereka terpaksa sering pindah kapal.

Baca juga: Pembatalan Haji, 2.000 Calon Jamaah Asal Bandung Gagal Berangkat

Martin menyebutkan perkiraan rute mereka. Perjalanan membawa calon haji melalui berbagai pelabuhan di Nusantara ke Aceh. Inilah mengapa pelabuhan terakhir di Indonesia itu oleh berjuluk Serambi Makkah. Dari ini para calon haji menunggu kapal untuk mengarungi lautan menuju India.

Sesampai di India para calon haji ini kemudian mencari kapal yang bisa membawa mereka ke Hadramaut, Yaman atau langsung ke Jeddah. Perjalanan ini bisa makan waktu setengah tahun sekali jalan, bahkan lebih.

“Dan para haji berhadapan dengan bermacam-macam bahaya. Tidak jarang perahu yang mereka tumpangi karam dan penumpangnya tenggelam atau terdampar di pantai tak dikenal," tulis Martin.

Ada haji yang semua harta bendanya dirampok bajak laut atau, malah, awak perahu sendiri. Musafir yang sudah sampai ke tanah Arab pun belum aman juga, karena di sana suku-suku Badui sering merampok rombongan yang menuju Makkah.

Tidak jarang juga wabah penyakit melanda jemaah haji, di perjalanan maupun di tanah Arab. Naik haji, pada zaman itu, memang bukan persoalan enteng.

Dalam catatan sejarah haji abad 18 yang ditulis oleh Johan Eisenberger dalam disertasinya yang berjudul Indie and de Bedevaart naar Mekka, dituliskan ada sekelompok orang yang tiba ke Batavia usai menunaikan ibadah haji di Makkah.

Dalam disertasi itu, dilaporkan 10 orang jemaah haji telah kembali ke Hindia-Belanda dan tiba di Batavia pada 21 April 1716.

Berhaji pada zaman dahulu merupakan ibadah istimewa karena disertai perjuangan dengan perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan. Sebuah perjalanan antara hidup dan mati.

Baca juga: Haji 2021 Batal, FKDT Nilai Pemerintah Sudah dengan Pertimbangan Matang

Saat Indonesia mulai dijajah Belanda, jumlah jemaah haji semakin bertambah. Pemerintah Hindia-Belanda pun ikut serta memberangkatkan jemaah haji ke Tanah Suci.

Namun saat itu Pemerintah Hindia-Belanda mengurangi jumlah kuota calon jamaah haji sebab mereka khawatir akan muncul pemberontakan.
halaman ke-1
cover top ayah
اَمۡ حَسِبَ الَّذِيۡنَ يَعۡمَلُوۡنَ السَّيِّاٰتِ اَنۡ يَّسۡبِقُوۡنَا‌ ؕ سَآءَ مَا يَحۡكُمُوۡنَ
Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari azab Kami? Sangatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu!

(QS. Al-'Ankabut:4)
cover bottom ayah
preload video