Abu Nawas Hamil dan Hendak Melahirkan, Baginda Jadi Dukun Beranak
Senin, 25 Mei 2020 - 07:42 WIB
loading...
A
A
A
Abu Nawas tidak menjawab, ia hanya tersenyum.
“Coba jelaskan perkataanmu. Siapa lelaki yang hamil dan siapa dukun beranaknya?” tanya Baginda Sultan kemudian.
Maka dengan senang hati berceritalah Abu Nawas. Konon, ada seorang raja mengusir seorang pembesar istana. Tetapi setelah lima bulan berlalu, tanpa alasan yang jelas, sang Raja memanggil kembali pembesar tersebut ke Istana. Ini ibarat hubungan laki-laki dan perempuan yang kemudian hamil tanpa menikah. Tentu saja itu melanggar adat dan agama, menggegerkan seluruh negeri.
Baca juga: Cara Aneh Abu Nawas Memasak, Baginda Jadi Kelaparan
Lagi pula apabila seorang mengeluarkan titah, tidak boleh mencabut perintahnya lagi. Jika itu dilakukan, ibarat menjilat air ludah sendiri, itulah tanda-tanda pengecut. Oleh karena itu harus berpikir masak-masak sebelum bertindak. Itulah tamsil seorang lelaki yang hendak bersalin, adapun dukun beranak yang ditunggu, adalah baginda kemari.
"Dengan kedatangan baginda kemari, berarti hamba sudah melahirkan, yang dimaksud dengan bersalin adalah hilangnya rasa sakit atau takut hamba kepada Baginda,” tutur Abu Nawas.
Baginda kaget juga dengan cerita Abu Nawas. Tapi ia tak mau banyak berdebat. “Bukan begitu," kata Baginda Sultan dengan suara lunak. “Ketika aku melarang kamu datang lagi ke istana, itu tidak sungguh-sungguh, melainkan hanya bergurau. Besok datanglah engkau ke istana. Aku ingin bicara denganmu. Memang di sana banyak menteri, tetapi tidak seperti kamu. Lagi pula selama engkau tidak hadir di istana, selama itu pula hilanglah cahaya Balairungku,” ujar Baginda mengakui pentingnya Abu Nawas.
“Segala titah baginda, patik junjung tinggi,” sembah Abu Nawas dengan takzim. Baginda Sultan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas. Dan tidak seberapa lama kemudian Sultan pun kembali ke Istana dengan perasaan heran bercampur geli.(Baca Juga: Nasruddin Hoja Pilih Kekayaan Ketimbang Kebijaksanaan, Mengapa?)
“Coba jelaskan perkataanmu. Siapa lelaki yang hamil dan siapa dukun beranaknya?” tanya Baginda Sultan kemudian.
Maka dengan senang hati berceritalah Abu Nawas. Konon, ada seorang raja mengusir seorang pembesar istana. Tetapi setelah lima bulan berlalu, tanpa alasan yang jelas, sang Raja memanggil kembali pembesar tersebut ke Istana. Ini ibarat hubungan laki-laki dan perempuan yang kemudian hamil tanpa menikah. Tentu saja itu melanggar adat dan agama, menggegerkan seluruh negeri.
Baca juga: Cara Aneh Abu Nawas Memasak, Baginda Jadi Kelaparan
Lagi pula apabila seorang mengeluarkan titah, tidak boleh mencabut perintahnya lagi. Jika itu dilakukan, ibarat menjilat air ludah sendiri, itulah tanda-tanda pengecut. Oleh karena itu harus berpikir masak-masak sebelum bertindak. Itulah tamsil seorang lelaki yang hendak bersalin, adapun dukun beranak yang ditunggu, adalah baginda kemari.
"Dengan kedatangan baginda kemari, berarti hamba sudah melahirkan, yang dimaksud dengan bersalin adalah hilangnya rasa sakit atau takut hamba kepada Baginda,” tutur Abu Nawas.
Baginda kaget juga dengan cerita Abu Nawas. Tapi ia tak mau banyak berdebat. “Bukan begitu," kata Baginda Sultan dengan suara lunak. “Ketika aku melarang kamu datang lagi ke istana, itu tidak sungguh-sungguh, melainkan hanya bergurau. Besok datanglah engkau ke istana. Aku ingin bicara denganmu. Memang di sana banyak menteri, tetapi tidak seperti kamu. Lagi pula selama engkau tidak hadir di istana, selama itu pula hilanglah cahaya Balairungku,” ujar Baginda mengakui pentingnya Abu Nawas.
“Segala titah baginda, patik junjung tinggi,” sembah Abu Nawas dengan takzim. Baginda Sultan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas. Dan tidak seberapa lama kemudian Sultan pun kembali ke Istana dengan perasaan heran bercampur geli.(Baca Juga: Nasruddin Hoja Pilih Kekayaan Ketimbang Kebijaksanaan, Mengapa?)
(mhy)
Lihat Juga :