Nasruddin Hoja Pilih Kekayaan Ketimbang Kebijaksanaan, Mengapa?
Senin, 18 Mei 2020 - 15:31 WIB
loading...
Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya. Ilustrasi/Ist
A
A
A
Nasruddin Hoja adalah seorang sufi yang hidup di kawasan sekitar Turki pada abad-abad kekhalifahan Islam hingga penaklukan Bangsa Mongol di bawah panglima Timur Lenk yang kejam. Timur Lenk banyak sekali melakukan penghancuran kebudayaan, tetapi dengan berbagai kecerdikan, Nasruddin dapat melewati masa suram itu. (Baca juga: Roti Hangat, Dokumen Pemungutan Pajak Nasruddin Hoja )
Nasruddin sedang menjadi hakim di pengadilan kota. Mula-mula ia mendengarkan dakwaan yang berapi-api dengan fakta yang tak tersangkalkan dari jaksa. Setelah jaksa selesai dengan dakwaannya, Nasrudin berkomentar:
(Baca juga: Harga, Gelar, dan Tempat Timur Lenk di Akherat, Menurut Nasruddin )
"Aku rasa engkau benar."
Petugas majelis membujuk Nasruddin, mengingatkan bahwa terdakwa belum membela diri. Terdakwa diwakili oleh pengacara yang pandai mengolah logika, sehingga Nasrudin kembali terpikat. Setelah pengacara selesai, Nasrudin kembali berkomentar:
"Aku rasa engkau benar."
(Baca juga: Orang-Orang Kanibal, Abu Nawas Akan Disembelih dan Dijadikan Bubur )
Petugas mengingatkan Nasruddin bahwa tidak mungkin jaksa betul dan sekaligus pengacara juga betul. Harus ada salah satu yang salah ! Nasrudin menatapnya lesu, dan kemudian berkomentar:
"Aku rasa engkau benar."
***
(Baca juga: Kuah Berbalas Makjun: Lagi-Lagi Abu Nawas Ngerjain Baginda Raja )
Nasruddin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja. Hakim memulai,
"Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, ..."
Nasruddin sedang menjadi hakim di pengadilan kota. Mula-mula ia mendengarkan dakwaan yang berapi-api dengan fakta yang tak tersangkalkan dari jaksa. Setelah jaksa selesai dengan dakwaannya, Nasrudin berkomentar:
(Baca juga: Harga, Gelar, dan Tempat Timur Lenk di Akherat, Menurut Nasruddin )
"Aku rasa engkau benar."
Petugas majelis membujuk Nasruddin, mengingatkan bahwa terdakwa belum membela diri. Terdakwa diwakili oleh pengacara yang pandai mengolah logika, sehingga Nasrudin kembali terpikat. Setelah pengacara selesai, Nasrudin kembali berkomentar:
"Aku rasa engkau benar."
(Baca juga: Orang-Orang Kanibal, Abu Nawas Akan Disembelih dan Dijadikan Bubur )
Petugas mengingatkan Nasruddin bahwa tidak mungkin jaksa betul dan sekaligus pengacara juga betul. Harus ada salah satu yang salah ! Nasrudin menatapnya lesu, dan kemudian berkomentar:
"Aku rasa engkau benar."
***
(Baca juga: Kuah Berbalas Makjun: Lagi-Lagi Abu Nawas Ngerjain Baginda Raja )
Nasruddin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja. Hakim memulai,
"Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, ..."
Lihat Juga :