Terbanyak di Dunia, Umat Islam Indonesia Antara Kuantitas dan Kualitas
Kamis, 17 Juni 2021 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Kata Ustaz Sarwat, tugas kita bukan mengkafirkan pemeluk Islam yang masih bermasalah dari sisi kualitasnya. Kalau sedikit-sedikit kita tuding mereka sebagai kafir, murtad dan musyrik (KMM), tentu jumlah umat Islam menciut jadi sedikit sekali.
Pentingnya Belajar Agama
Tugas kita justru harus meng-upgrade mereka agar kualitasnya bisa naik. Dan untuk mengupgrade itu ada tools dan prosedurnya, bukan asal teriak, tuduh sana, tuding sini, vonis ini, hajar itu.
Upgrade itu lewat jalur taklim alias induksi lewat jalur ilmu. Ilmu-ilmu keislaman yang selama ini minus dan nyaris sekarat, karena kebanyakan diforsir, itulah yang harus diperkaya dengan intensif.
"Menurut saya akan jauh lebih menarik apabila proses induksi keilmuan itu bisa seiring sejalan dengan kuota haji. Selama ini pakai sistem siapa cepat siapa dapat. Dan itu sudah bagus serta berjalan dengan baik," papar Dai lulusan Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Suud LIPIA, Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan Mazhab.
Tapi alangkah baiknya kalau ke depan lebih dipikirkan lagi kriterianya, siapa yang lebih tinggi dan lebih paham ilmu-ilmu keislaman maka dia dapat prioritas.
Sehingga akan memotivasi orang untuk belajar agama Islam. Misalnya, dari pada nunggu antrian 20 tahun, kenapa tidak ikut program kuliah ilmu-ilmu keislaman saja. Misalnya programnya 4 tahun dan kalau lulus dengan nilai tertentu, bisa langsung dapat jatah kuota haji.
Tentu program ini bukan sekedar formalitas macam orang bikin SIM yang bisa nembak. Program ini harus original, jujur, profesional, dan diawasi oleh pihak dalam dan luar negeri.
Di situlah para calon jamaah haji jadi serius belajar agama. Mulai dari belajar dasar-dasar bahasa Arab, seperti Nahwu, Sharaf, Adab, Balaghah, Bayan, Badi dan Manthiq.
Juga dilandasi dengan ilmu fiqih sebagai pondasi dasar praktek peribadatan. Belajar yang benar dari awal bab-bab fiqih, seperti Thaharah, Sholat, Puasa, Zakat, Haji, Muamalah, Pernikahan, dan seterusnya.
Tentu juga belajar Al-Qur'an baik dari segi bacaan (tahsinut-tilawah), juga hafalan (tahfizh), dan juga ilmu-ilmu Al-Quran seperti tafsir dan lainnya. Ilmu hadits pun penting juga untuk dipelajari, biar tidak asal comot hadits seenaknya lalu dicocokologikan dengan selera pribadi dan kelompok.
Pendeknya, kata Ustaz Sarwat, kualias umat Islam yang masih terbatas itu perlu di-upgrade. Upgradenya lewat induksi keilmuan. Dan yang paling siap untuk ikut program itu adalah para calon jamaah haji. Duitnya pun ada.
Sehingga ke depan, yang kita lakukan bukan sekedar pelatihan manasik haji setengah hari, tetapi kuliah ilmu-ilmu keislaman 4 tahun alias 8 semester. Ada hari-hari perkuliahannya. Ada tugas-tugas baca buku keislaman dan meringkas. Ada kewajiban bikin makalah. Ada Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS) di masing-masing dari delapan semester itu.
Pentingnya Belajar Agama
Tugas kita justru harus meng-upgrade mereka agar kualitasnya bisa naik. Dan untuk mengupgrade itu ada tools dan prosedurnya, bukan asal teriak, tuduh sana, tuding sini, vonis ini, hajar itu.
Upgrade itu lewat jalur taklim alias induksi lewat jalur ilmu. Ilmu-ilmu keislaman yang selama ini minus dan nyaris sekarat, karena kebanyakan diforsir, itulah yang harus diperkaya dengan intensif.
"Menurut saya akan jauh lebih menarik apabila proses induksi keilmuan itu bisa seiring sejalan dengan kuota haji. Selama ini pakai sistem siapa cepat siapa dapat. Dan itu sudah bagus serta berjalan dengan baik," papar Dai lulusan Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Suud LIPIA, Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan Mazhab.
Tapi alangkah baiknya kalau ke depan lebih dipikirkan lagi kriterianya, siapa yang lebih tinggi dan lebih paham ilmu-ilmu keislaman maka dia dapat prioritas.
Sehingga akan memotivasi orang untuk belajar agama Islam. Misalnya, dari pada nunggu antrian 20 tahun, kenapa tidak ikut program kuliah ilmu-ilmu keislaman saja. Misalnya programnya 4 tahun dan kalau lulus dengan nilai tertentu, bisa langsung dapat jatah kuota haji.
Tentu program ini bukan sekedar formalitas macam orang bikin SIM yang bisa nembak. Program ini harus original, jujur, profesional, dan diawasi oleh pihak dalam dan luar negeri.
Di situlah para calon jamaah haji jadi serius belajar agama. Mulai dari belajar dasar-dasar bahasa Arab, seperti Nahwu, Sharaf, Adab, Balaghah, Bayan, Badi dan Manthiq.
Juga dilandasi dengan ilmu fiqih sebagai pondasi dasar praktek peribadatan. Belajar yang benar dari awal bab-bab fiqih, seperti Thaharah, Sholat, Puasa, Zakat, Haji, Muamalah, Pernikahan, dan seterusnya.
Tentu juga belajar Al-Qur'an baik dari segi bacaan (tahsinut-tilawah), juga hafalan (tahfizh), dan juga ilmu-ilmu Al-Quran seperti tafsir dan lainnya. Ilmu hadits pun penting juga untuk dipelajari, biar tidak asal comot hadits seenaknya lalu dicocokologikan dengan selera pribadi dan kelompok.
Pendeknya, kata Ustaz Sarwat, kualias umat Islam yang masih terbatas itu perlu di-upgrade. Upgradenya lewat induksi keilmuan. Dan yang paling siap untuk ikut program itu adalah para calon jamaah haji. Duitnya pun ada.
Sehingga ke depan, yang kita lakukan bukan sekedar pelatihan manasik haji setengah hari, tetapi kuliah ilmu-ilmu keislaman 4 tahun alias 8 semester. Ada hari-hari perkuliahannya. Ada tugas-tugas baca buku keislaman dan meringkas. Ada kewajiban bikin makalah. Ada Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS) di masing-masing dari delapan semester itu.
Lihat Juga :