Pergaulan dan Syirik Tersembunyi
Selasa, 29 Juni 2021 - 18:19 WIB
loading...
A
A
A
Ustadz Syafiq menjelaskan, yang dimaksud adalah syirkul khafi. Kita tahu bahwa orang-orang yang ahli ibadah mungkin setan sudah capek untuk menggoda orang ini dari sisi syahwatnya. Maka dia akan menggoda ahli ibadah dari sisi niat ibadahnya.
Lantas bagimana agar ibadah yang kita lakukan itu ikhlas dan ittiba'? Menurutbya, kita diciptakan untuk beribadah dan ibadah itu tidak diterima kecuali dengan dua persyaratan:
Pertama, ikhlas mengharapkan ridha Allah, tidak memandang kepada yang lainnya.
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Tidaklah manusia diperintahkan kecuali untuk beribadah mengikhlaskan (memurnikan) ketaatan untuk Allah saja...” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Baca juga: Pemerintah Segera Tetapkan PPKM Darurat? Ini Penjelasan Satgas Covid-19
Hanya untuk Allah, bukan untuk yang lainnya. Maka tatkala kita beribadah, lelah, penat, capek kita bangun malam, kita keluarkan sedikit harta, meninggalkan negeri kita untuk berangkat umroh dan haji, kalau dalam ibadah kita ada riya’, maka selesai. Dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Aku adalah yang tidak butuh dengan partner/sekutu. Barangsipa yang beramal suatu amalan lalu dia sisipkan dalam niatnya selain Aku, maka akan Aku tinggalkan dia dengan apa Aku disekutukan dengannya.” (HR. Muslim)
Baca juga: Gagal ke Perempat Final, Prancis Ulangi Mimpi Buruk Piala Dunia 2010
Wallahu A'lam
Lantas bagimana agar ibadah yang kita lakukan itu ikhlas dan ittiba'? Menurutbya, kita diciptakan untuk beribadah dan ibadah itu tidak diterima kecuali dengan dua persyaratan:
Pertama, ikhlas mengharapkan ridha Allah, tidak memandang kepada yang lainnya.
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Tidaklah manusia diperintahkan kecuali untuk beribadah mengikhlaskan (memurnikan) ketaatan untuk Allah saja...” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Baca juga: Pemerintah Segera Tetapkan PPKM Darurat? Ini Penjelasan Satgas Covid-19
Hanya untuk Allah, bukan untuk yang lainnya. Maka tatkala kita beribadah, lelah, penat, capek kita bangun malam, kita keluarkan sedikit harta, meninggalkan negeri kita untuk berangkat umroh dan haji, kalau dalam ibadah kita ada riya’, maka selesai. Dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Aku adalah yang tidak butuh dengan partner/sekutu. Barangsipa yang beramal suatu amalan lalu dia sisipkan dalam niatnya selain Aku, maka akan Aku tinggalkan dia dengan apa Aku disekutukan dengannya.” (HR. Muslim)
Baca juga: Gagal ke Perempat Final, Prancis Ulangi Mimpi Buruk Piala Dunia 2010
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :