Begini Komentar Si Kaki Bengkok Ketika Diberi Tahu Rasulullah SAW Mendoakannya
Senin, 12 Juli 2021 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Setelah itu tamu tersebut mohon diri.
Rasa penasaran muncul di benak Ummul Hakam. Disingkaplah tabir penutup untuk melihat siapa orang yang bersikap kasar terhadap khalifah itu. Ternyata dia adalah seorang yang bertubuh kecil, kepalanya botak, dagunya miring, matanya cekung dan kedua kakinya bengkok ke dalam. Tiada kekurangan jasad yang dimiliki manusia melainkan dia mendapat bagiannya.
Ummul Hakam menoleh pada kakaknya dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, siapakah orang itu? Berani benar mengancam khalifah di rumahnya.”
Mu’awiyah menghela nafas panjang lalu berkata, “Begitulah, jika dia sedang marah niscaya seratus ribu penduduk Bani Tamim akan ikut marah tanpa tahu sebabnya. Dia adalah Ahnaf bin Qais, pemuka Bani Tamim dan pahlawan bangsa Arab.”
Marilah kita telusuri kisah Ahnaf bin Qais dari awalnya. Buku Mereka adalah Para Tabi’in karya Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, (2009) menceritakan tahun ketiga sebelum Hijriyah, Qais bin Muawiyah as-Sa’di mendapatkan karunia seorang bayi laki-laki. Dia diberi nama adh-Dhahhak, tapi orang-orang menyebutnya Ahnaf karena kakinya yang bengkok (seperti huruf X), suatu julukan yang memang lebih pas daripada namanya sendiri. Sehingga julukan tersebut seakan telah menjadi namanya.
Ayahanda Ahnaf yang bernama Qais bukanlah seorang pemuka dari kaumnya, bukan pula dari golongan yang rendah. Kedudukan mereka adalah pertengahan. Ahnaf lahir di sebelah Barat Yamamah, tepatnya di daerah Najd. Ahnaf kecil tumbuh sebagai yatim karena ayahnya terbunuh ketika dia masih sangat kecil. Cahaya Islam bersinar di hati bocah itu sejak dia belum tumbuh kumisnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus beberapa sahabat kepada kaum Ahnaf bin Qais beberapa tahun sebelum wafatnya untuk menyeru mereka kepada Islam. Mereka menjumpai tokoh-tokoh kaum itu sambil memberikan dorongan iman dan menawarkan Islam
Orang-orang itu terdiam sejenak mendengar ajakan para sahabat. Mereka berpandang-pandangan ketika tiba-tiba Ahnaf muda yang juga hadir angkat suata: “Wahai saudara-saudaraku, mengapa kalian mesti ragu? Demi Allah utusan yang datang kepada kalian ini adalah sebaik-baik utusan. Mereka mengajak kepada akhlak yang luhur dan melarang dari yang cela. Demi Allah, tiada yang kita lihat dari mereka selain kebaikan, maka sambutlah seruan hidayah ini, niscaya kalian akan bahagia dunia dan akhirat.”
Akhirnya kaum itu memeluk Islam secara serentak bersama Ahnaf. Kemudian mereka mengirimkan utusan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun Ahnaf tidak disertakan karena umurnya yang masih terlalu muda. Sehingga dia tidak mendapatkan kehormatan sebagai salah satu sahabat. Namun demikian, dia tidak terhalang untuk mendapati ridha dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan doa beliau kepadanya.
Baca juga: Perdebatan tentang Nabi Isa dan Perlawanan Para Uskup
Rasa penasaran muncul di benak Ummul Hakam. Disingkaplah tabir penutup untuk melihat siapa orang yang bersikap kasar terhadap khalifah itu. Ternyata dia adalah seorang yang bertubuh kecil, kepalanya botak, dagunya miring, matanya cekung dan kedua kakinya bengkok ke dalam. Tiada kekurangan jasad yang dimiliki manusia melainkan dia mendapat bagiannya.
Ummul Hakam menoleh pada kakaknya dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, siapakah orang itu? Berani benar mengancam khalifah di rumahnya.”
Mu’awiyah menghela nafas panjang lalu berkata, “Begitulah, jika dia sedang marah niscaya seratus ribu penduduk Bani Tamim akan ikut marah tanpa tahu sebabnya. Dia adalah Ahnaf bin Qais, pemuka Bani Tamim dan pahlawan bangsa Arab.”
Marilah kita telusuri kisah Ahnaf bin Qais dari awalnya. Buku Mereka adalah Para Tabi’in karya Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, (2009) menceritakan tahun ketiga sebelum Hijriyah, Qais bin Muawiyah as-Sa’di mendapatkan karunia seorang bayi laki-laki. Dia diberi nama adh-Dhahhak, tapi orang-orang menyebutnya Ahnaf karena kakinya yang bengkok (seperti huruf X), suatu julukan yang memang lebih pas daripada namanya sendiri. Sehingga julukan tersebut seakan telah menjadi namanya.
Ayahanda Ahnaf yang bernama Qais bukanlah seorang pemuka dari kaumnya, bukan pula dari golongan yang rendah. Kedudukan mereka adalah pertengahan. Ahnaf lahir di sebelah Barat Yamamah, tepatnya di daerah Najd. Ahnaf kecil tumbuh sebagai yatim karena ayahnya terbunuh ketika dia masih sangat kecil. Cahaya Islam bersinar di hati bocah itu sejak dia belum tumbuh kumisnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus beberapa sahabat kepada kaum Ahnaf bin Qais beberapa tahun sebelum wafatnya untuk menyeru mereka kepada Islam. Mereka menjumpai tokoh-tokoh kaum itu sambil memberikan dorongan iman dan menawarkan Islam
Orang-orang itu terdiam sejenak mendengar ajakan para sahabat. Mereka berpandang-pandangan ketika tiba-tiba Ahnaf muda yang juga hadir angkat suata: “Wahai saudara-saudaraku, mengapa kalian mesti ragu? Demi Allah utusan yang datang kepada kalian ini adalah sebaik-baik utusan. Mereka mengajak kepada akhlak yang luhur dan melarang dari yang cela. Demi Allah, tiada yang kita lihat dari mereka selain kebaikan, maka sambutlah seruan hidayah ini, niscaya kalian akan bahagia dunia dan akhirat.”
Akhirnya kaum itu memeluk Islam secara serentak bersama Ahnaf. Kemudian mereka mengirimkan utusan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun Ahnaf tidak disertakan karena umurnya yang masih terlalu muda. Sehingga dia tidak mendapatkan kehormatan sebagai salah satu sahabat. Namun demikian, dia tidak terhalang untuk mendapati ridha dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan doa beliau kepadanya.
Baca juga: Perdebatan tentang Nabi Isa dan Perlawanan Para Uskup
Lihat Juga :