Begini Komentar Si Kaki Bengkok Ketika Diberi Tahu Rasulullah SAW Mendoakannya
Senin, 12 Juli 2021 - 05:00 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
KOTA Damaskus sedang tersenyum manis menyambut datangnya musim semi. Berbangga dengan kesuburan tanah dan taman-tamannya yang indah berseri.
Hari itu, Muawiyah bin Abi Sufyan sedang bersiap menerima para utusan di istana. Ketika kesempatan pertama dibuka, Ummul Hakam binti Abi Sufyan segera menempati tampat duduknya di balik tabir. Dari situ dia bisa mendengarkan pembiacaraan-pembicaraan dalam majelis kakaknya tentang hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Baca juga: Nasehat Abu al-Aliyah kepada Santrinya dalam Belajar Al-Quran
Dia mengisi dirinya dengan segala yang didengarnya dari penasehat istana. Laporan tentang berbagai hal, berita yang aneh-aneh, syair-syair yang indah atau hikmah-hikmah yang luhur.
Putri bangsawan ini sangat cerdas bersemangat untuk mencapai ketinggian martabat. Sementara kakaknya menerima orang-orang yang menghadap berdasarkan kedudukannya.
Sahabat-sahabat Rasulullah SAW selalu didahulukan dari yang lain, baru kemudian menyusul tokoh-tokoh tabi’in, para ulama dan kalangan bangsawan.
Tidak seperti biasanya, Ummul Hakam mendapati bahwa tamu pertama kakaknya membawa suasana agak tegang dan terasa menggetarkan. Dia mendengar kakaknya berkata, “Demi Allah, wahai Ahnaf, setiap kali aku ingat perang Shiffin dan betapa Anda memihak kepada Ali bin Abi Thalib kemudian meninggalkan kami, rasa kesal di hatiku tidak akan bisa terobati.”
Lawan bicaranya tidak kalah tegas menjawab. “Demi Allah, wahai Mua’awiyah rasa benci pun masih melekat di hati kami dan pedang-pedang yang kami pakai untuk melawan Anda masih ada di tangan. Bila Anda maju selangkah kami akan maju sepuluh langkah, bila Anda maju dengan berjalan, maka kami akan maju dengan berlari.”
“Demi Allah, kami ke sini bukan untuk mengemis dari Anda atau karena gertakan murka Anda. Kami datang kemari untuk menguatkan hubungan yang retak di antara kita, menyatukan pendapat dan menyatukan kaum muslimin.”
Baca juga: Budak Asal Persia yang Akhirnya Hafal Al-Quran dan Menjadi Ahli Hadis
Hari itu, Muawiyah bin Abi Sufyan sedang bersiap menerima para utusan di istana. Ketika kesempatan pertama dibuka, Ummul Hakam binti Abi Sufyan segera menempati tampat duduknya di balik tabir. Dari situ dia bisa mendengarkan pembiacaraan-pembicaraan dalam majelis kakaknya tentang hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Baca juga: Nasehat Abu al-Aliyah kepada Santrinya dalam Belajar Al-Quran
Dia mengisi dirinya dengan segala yang didengarnya dari penasehat istana. Laporan tentang berbagai hal, berita yang aneh-aneh, syair-syair yang indah atau hikmah-hikmah yang luhur.
Putri bangsawan ini sangat cerdas bersemangat untuk mencapai ketinggian martabat. Sementara kakaknya menerima orang-orang yang menghadap berdasarkan kedudukannya.
Sahabat-sahabat Rasulullah SAW selalu didahulukan dari yang lain, baru kemudian menyusul tokoh-tokoh tabi’in, para ulama dan kalangan bangsawan.
Tidak seperti biasanya, Ummul Hakam mendapati bahwa tamu pertama kakaknya membawa suasana agak tegang dan terasa menggetarkan. Dia mendengar kakaknya berkata, “Demi Allah, wahai Ahnaf, setiap kali aku ingat perang Shiffin dan betapa Anda memihak kepada Ali bin Abi Thalib kemudian meninggalkan kami, rasa kesal di hatiku tidak akan bisa terobati.”
Lawan bicaranya tidak kalah tegas menjawab. “Demi Allah, wahai Mua’awiyah rasa benci pun masih melekat di hati kami dan pedang-pedang yang kami pakai untuk melawan Anda masih ada di tangan. Bila Anda maju selangkah kami akan maju sepuluh langkah, bila Anda maju dengan berjalan, maka kami akan maju dengan berlari.”
“Demi Allah, kami ke sini bukan untuk mengemis dari Anda atau karena gertakan murka Anda. Kami datang kemari untuk menguatkan hubungan yang retak di antara kita, menyatukan pendapat dan menyatukan kaum muslimin.”
Baca juga: Budak Asal Persia yang Akhirnya Hafal Al-Quran dan Menjadi Ahli Hadis
Lihat Juga :