Malaikat Maut dalam Kisah Sang Raja dan Si Pakaian Kusut
Kamis, 05 Agustus 2021 - 17:42 WIB
loading...
A
A
A
Menanti Sang Raja tak kunjung keluar, Si Pakaian Kusut kemudian menerobos pintu gerbang istana. Melihat itu, bangkitlah para penjaga pintu dari tempatnya dan mengejar laki-laki itu dengan tongkat dan sebilah pedang di tangan.
“Tetaplah kalian di tempat semula. Aku adalah Malaikat Maut,” Si Pakaian Kusut berteriak.
Mendengar hardikan ini, hati orang seisi istana bergetar hingga membuat mereka terpaku tidak mampu bergerak. Mereka panik kehilangan akal.
“Ambillah harta-hartaku ini semaumu sebagai gantiku,” mohon Sang Raja memecah kegentingan.
“Aku hanya ingin mengambil nyawamu, kedatanganku ke sini tiada lain adalah untuk memisahkanmu dengan kenikmatan dunia yang kau bangga-banggakan ini,” jawab Si Pakaian Kusut yang ternyata adalah Malaikat Maut.
Sang Raja akhirnya melaknat harta bendanya yang dianggapnya telah menipu, mendatangkan bahaya, dan menghalanginya beribadah kepada Tuhannya. Ia menyangka bahwa hartanya dapat memberikan manfaat dalam kehidupannya. Ia baru sadar, bahwa hartanya adalah sumber kerugian dan bencana baginya.
Sekarang, ia tidak mempunyai bekal apa-apa untuk menghadapi Malaikat Maut yang hendak mencabut nyawanya.
Baca juga: Idul Fitri Sebagai Pengingat Akan Akhirat, Begini Kata Imam Ghazali
Atas kuasa Allah, harta Sang Raja diberikan kemampuan berbicara: “Mengapa kamu sekarang melaknatku? Laknatlah dirimu sendiri! Allah menciptakanku agar dijadikan bekal oleh manusia untuk kehidupannya di akhirat; digunakan bersedekah kepada fakir miskin, memakmurkan rumah-rumah ilmu, masjid-masjid, dan kemaslahatan rakyat kecil agar aku dapat membantu pemilikku di akhirat nanti; sedangkan engkau mengumpulkanku sebagai bentuk kebanggaan dan keserakahanmu hanya untuk memenuhi hawa nafsumu. Sekarang engkau berada dalam kerugian dan kesengsaraan. Lalu, dosa apa yang aku perbuat hingga engkau melaknatku?”
Tak lama setelah itu, Malaikat Maut mencabut ruh Sang Raja sebelum sempat menikmati hidangan pesta yang telah dipersiapkan.
Baca juga: Ini Inspirasi Baju Lebaran ala Ariel Noah dan Al Ghazali
“Tetaplah kalian di tempat semula. Aku adalah Malaikat Maut,” Si Pakaian Kusut berteriak.
Mendengar hardikan ini, hati orang seisi istana bergetar hingga membuat mereka terpaku tidak mampu bergerak. Mereka panik kehilangan akal.
“Ambillah harta-hartaku ini semaumu sebagai gantiku,” mohon Sang Raja memecah kegentingan.
“Aku hanya ingin mengambil nyawamu, kedatanganku ke sini tiada lain adalah untuk memisahkanmu dengan kenikmatan dunia yang kau bangga-banggakan ini,” jawab Si Pakaian Kusut yang ternyata adalah Malaikat Maut.
Sang Raja akhirnya melaknat harta bendanya yang dianggapnya telah menipu, mendatangkan bahaya, dan menghalanginya beribadah kepada Tuhannya. Ia menyangka bahwa hartanya dapat memberikan manfaat dalam kehidupannya. Ia baru sadar, bahwa hartanya adalah sumber kerugian dan bencana baginya.
Sekarang, ia tidak mempunyai bekal apa-apa untuk menghadapi Malaikat Maut yang hendak mencabut nyawanya.
Baca juga: Idul Fitri Sebagai Pengingat Akan Akhirat, Begini Kata Imam Ghazali
Atas kuasa Allah, harta Sang Raja diberikan kemampuan berbicara: “Mengapa kamu sekarang melaknatku? Laknatlah dirimu sendiri! Allah menciptakanku agar dijadikan bekal oleh manusia untuk kehidupannya di akhirat; digunakan bersedekah kepada fakir miskin, memakmurkan rumah-rumah ilmu, masjid-masjid, dan kemaslahatan rakyat kecil agar aku dapat membantu pemilikku di akhirat nanti; sedangkan engkau mengumpulkanku sebagai bentuk kebanggaan dan keserakahanmu hanya untuk memenuhi hawa nafsumu. Sekarang engkau berada dalam kerugian dan kesengsaraan. Lalu, dosa apa yang aku perbuat hingga engkau melaknatku?”
Tak lama setelah itu, Malaikat Maut mencabut ruh Sang Raja sebelum sempat menikmati hidangan pesta yang telah dipersiapkan.
Baca juga: Ini Inspirasi Baju Lebaran ala Ariel Noah dan Al Ghazali
(mhy)
Lihat Juga :