Kisah Sri Sultan Hamengku Buwono Memerintahkan Kiai Ahmad Dahlan Pergi Haji
Sabtu, 07 Desember 2024 - 15:40 WIB
loading...
Ahmad Dahlan naik haji pertama kali dan bermukim di Makkah merupakan perintah Sri Sultan Hamengko Buwono VII. Foto: Ist
A
A
A
Suasana milad masih mewarnai Muhammadiyah saat ini. Organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini lahir pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau bertepatan dengan 18 November 1912 M. Usianya sudah 112 tahun.
Jejak langkah kehidupan KH Ahmad Dahlan tercatat dengan tinta emas dalam sejarah bangsa karena amal usaha Muhammadiyah yang semakin luas dan menggurita.
Siapa sangka, sejatinya kehidupan Kiai Ahmad Dahlan mencerminkan kehidupan seorang Sufi . "Model Ghazalian," demikian Farid Ma'ruf, Menteri Agama sesudah Fakih Usman, pengurus teras Muhammadiyah, menyebut.
"Penguatan ajaran fikih bukan saja menempatkan berbagai bentuk ajaran Sufi sebagai sasaran kritik, tapi juga penempatan gerakan Islam sebagai kekuatan yang berhadap-hadapan dengan kekuasaan, baik Kerajaan atau Penguasa Kolonial."
Demikian Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan dalam buku "KH Ahmad Dahlan (1868-1923)" bab "Kiai Ahmad Dahlan Mengganti Jimat, Dukun, dan Yang Keramat Dengan Ilmu Pengetahuan Basis Pencerahan Umat Bagi Pemihakan Terhadap Si Ma’un".
Baca juga: Profil Singkat Kiai Ahmad Dahlan dan Siasatnya Membangun Muhammadiyah
Buku ini diterbitkan Museum Kebangkitan Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015. Abdul Munir Mulkan adalah Guru Besar tetap UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Guru Besar Emiritus Universitas Muhammadiyah Surakarta .
Menurutnya, kritik keras Muhammadiyah atas praktik TBC (akronim: tahayul, bid'ah dan churofat/khurafat) baru mulai meluas sesudah tahun 1930-an yang menempatkan tradisi Kraton sebagai simbol dan pusat TBC tersebut.
Uniknya, penanggung jawab pemberantasan TBC adalah Ketua Majelis Tarjih yang dijabat Kiai Wardan Dipaningrat (putra Kiai Ahmad Dahlan) yang juga Penghulu Kraton yang bertanggungjawab atas berbagai ritual upacara kerajaan.
Abdul Munir Mulkan mengatakan kelahiran Muhammadiyah sendiri sebenarnya banyak berkaitan dengan kebijakan Kerajaan Yogyakarta, terutama dari Hamengku Buwono VII dan VIII.
Kepergian Kiai Ahmad Dahlan ke Makkah untuk naik haji pertama kali dan bermukim di Makkah adalah merupakan perintah langsung dari Sri Sultan Hamengko Buwono VII.
Tujuan utamanya ialah agar Raden Ngabei Ngabdul Darwis (nama kecil Kiai Ahmad Dahlan) bisa belajar tentang ajaran Islam secara lebih baik.
Baca juga: Kiai Ahmad Dahlan dan Pembaharuan Pendidikan: Strategi Melawan Penjajah
Jejak langkah kehidupan KH Ahmad Dahlan tercatat dengan tinta emas dalam sejarah bangsa karena amal usaha Muhammadiyah yang semakin luas dan menggurita.
Siapa sangka, sejatinya kehidupan Kiai Ahmad Dahlan mencerminkan kehidupan seorang Sufi . "Model Ghazalian," demikian Farid Ma'ruf, Menteri Agama sesudah Fakih Usman, pengurus teras Muhammadiyah, menyebut.
"Penguatan ajaran fikih bukan saja menempatkan berbagai bentuk ajaran Sufi sebagai sasaran kritik, tapi juga penempatan gerakan Islam sebagai kekuatan yang berhadap-hadapan dengan kekuasaan, baik Kerajaan atau Penguasa Kolonial."
Demikian Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan dalam buku "KH Ahmad Dahlan (1868-1923)" bab "Kiai Ahmad Dahlan Mengganti Jimat, Dukun, dan Yang Keramat Dengan Ilmu Pengetahuan Basis Pencerahan Umat Bagi Pemihakan Terhadap Si Ma’un".
Baca juga: Profil Singkat Kiai Ahmad Dahlan dan Siasatnya Membangun Muhammadiyah
Buku ini diterbitkan Museum Kebangkitan Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015. Abdul Munir Mulkan adalah Guru Besar tetap UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Guru Besar Emiritus Universitas Muhammadiyah Surakarta .
Menurutnya, kritik keras Muhammadiyah atas praktik TBC (akronim: tahayul, bid'ah dan churofat/khurafat) baru mulai meluas sesudah tahun 1930-an yang menempatkan tradisi Kraton sebagai simbol dan pusat TBC tersebut.
Uniknya, penanggung jawab pemberantasan TBC adalah Ketua Majelis Tarjih yang dijabat Kiai Wardan Dipaningrat (putra Kiai Ahmad Dahlan) yang juga Penghulu Kraton yang bertanggungjawab atas berbagai ritual upacara kerajaan.
Abdul Munir Mulkan mengatakan kelahiran Muhammadiyah sendiri sebenarnya banyak berkaitan dengan kebijakan Kerajaan Yogyakarta, terutama dari Hamengku Buwono VII dan VIII.
Kepergian Kiai Ahmad Dahlan ke Makkah untuk naik haji pertama kali dan bermukim di Makkah adalah merupakan perintah langsung dari Sri Sultan Hamengko Buwono VII.
Tujuan utamanya ialah agar Raden Ngabei Ngabdul Darwis (nama kecil Kiai Ahmad Dahlan) bisa belajar tentang ajaran Islam secara lebih baik.
Baca juga: Kiai Ahmad Dahlan dan Pembaharuan Pendidikan: Strategi Melawan Penjajah
Lihat Juga :