Tipu Daya Duniawi (3): Ketika Harta Menjadi Fitnah Terdahsyat
Selasa, 24 Agustus 2021 - 16:48 WIB
loading...
A
A
A
«مَا ذئبان جَائِعَانِ أُرسِلاَ في غَنَمٍ بأفسَدَ لها مِنْ حِرصِ المرء على المال والشَّرَف لدينهِ »
“Tidaklah dua serigala lapar yang menghampiri seekor kambing lebih berbahaya baginya dari ambisi seseorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya” (HR Tirmidzi no. 2376, ia berkata: hasan shahih, Ahmad: 3/656)
Betapa sering pertengkaran bahkan pertumpahan darah terjadi karena harta, persahabatan terkoyak karena harta, bahkan hubungan kerabat dan tetangga harus runtuh karena harta.
Baca juga: Ngaji Gus Baha Terbaru: Tipu Daya Duniawi, Melupakan Akhirat
Nabi SAW mengingatkan: “Setiap umat memiliki fitnah dan fitnah umatku adalah harta.” (HR at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Hibban. Dishahihkan al-Albani di dalam Silsilah ash-Shahihah: 592.)
Manusia memang makhluk yang paling mulia. Namun, ia juga manusia yang paling serakah terhadap kenikmatan dunia, mencintai dunia dengan membabi buta, tak pernah lelah mengejarnya sehingga tubuh lekas tua, rambut cepat beruban, dan akal cepat pikun.
Nabi SAW bersabda: “Dua perkara yang memuat anak Adam cepat pikun dan cepat tua; rakus terhadap harta dan rakus terhadap umur.” (HR Muslim: 114)
Angan-angan hamba untuk menumpuk harta tidak pernah terpuaskan. Bahkan semakin bertambah hartanya semakin menginginkan yang lebih darinya. Ia tidak pernah puas hingga mulutnya di sumbat dengan tanah kuburan.
Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, mereka akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang memenuhi mulut anak Adam kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat kepada-Nya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah SAW bersabda kepada sahabatnya Hakim bin Hizam,
« يَا حَكِيمُ ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ ، وَكَانَ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى »
“Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini indah dan manis. Barangsiapa mengambilnya dengan keluasan jiwanya, ia akan diberkahi pada hartanya. Dan barangsiapa yang mengambilnya dengan tanpa berlebihan, maka perumpamaannya adalah seperti orang yang makan dan tidak pernah kenyang.” (HR Bukhari no: 1472, 2750, 3143, Muslim no: 1035)
“Tidaklah dua serigala lapar yang menghampiri seekor kambing lebih berbahaya baginya dari ambisi seseorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya” (HR Tirmidzi no. 2376, ia berkata: hasan shahih, Ahmad: 3/656)
Betapa sering pertengkaran bahkan pertumpahan darah terjadi karena harta, persahabatan terkoyak karena harta, bahkan hubungan kerabat dan tetangga harus runtuh karena harta.
Baca juga: Ngaji Gus Baha Terbaru: Tipu Daya Duniawi, Melupakan Akhirat
Nabi SAW mengingatkan: “Setiap umat memiliki fitnah dan fitnah umatku adalah harta.” (HR at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Hibban. Dishahihkan al-Albani di dalam Silsilah ash-Shahihah: 592.)
Manusia memang makhluk yang paling mulia. Namun, ia juga manusia yang paling serakah terhadap kenikmatan dunia, mencintai dunia dengan membabi buta, tak pernah lelah mengejarnya sehingga tubuh lekas tua, rambut cepat beruban, dan akal cepat pikun.
Nabi SAW bersabda: “Dua perkara yang memuat anak Adam cepat pikun dan cepat tua; rakus terhadap harta dan rakus terhadap umur.” (HR Muslim: 114)
Angan-angan hamba untuk menumpuk harta tidak pernah terpuaskan. Bahkan semakin bertambah hartanya semakin menginginkan yang lebih darinya. Ia tidak pernah puas hingga mulutnya di sumbat dengan tanah kuburan.
Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, mereka akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang memenuhi mulut anak Adam kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat kepada-Nya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah SAW bersabda kepada sahabatnya Hakim bin Hizam,
« يَا حَكِيمُ ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ ، وَكَانَ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى »
“Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini indah dan manis. Barangsiapa mengambilnya dengan keluasan jiwanya, ia akan diberkahi pada hartanya. Dan barangsiapa yang mengambilnya dengan tanpa berlebihan, maka perumpamaannya adalah seperti orang yang makan dan tidak pernah kenyang.” (HR Bukhari no: 1472, 2750, 3143, Muslim no: 1035)
Lihat Juga :