Khabbab bin Arats (1): Pande Besi yang Disiksa karena Masuk Islam
Rabu, 25 Agustus 2021 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Maka Khabbab memberikan jawabannya setelah memperlihatkan kepada mereka bahwa ia tak dapat dipancing-pancing.
Baca juga: Ibnu Taimiyah (4-Habis): Meninggal Membela Kebenaran dalam Penjara
Jika ia mengakui keimanannya sekarang ini di hadapan mereka, bukankah karena hasil muslihat dan termakan umpan mereka, tetapi karena ia telah meyakini kebenaran itu serta menganutnya, dan telah mengambil putusan untuk menyatakannya secara terus terang. Maka dalam keadaan masih terharu dan terpesona serta kegembiraan jiwa dan kepuasannya, disampaikanlah jawaban, katanya:
"Benar. Saya telah melihat dan mendengarnya...! Saya saksikan kebenaran terpancar daripadanya, dan cahaya bersinar-sinar dari tutur katanya!"
Sekarang orang-orang Quraisy pemesan senjata itu mulai mengerti, dan salah seorang di antara mereka berseru: "Siapa dia orang yang kau katakan itu, hai budak Ummi Anmar?"
Dengan ketenangan yang hanya dimiliki oleh orang suci, Khabbab menyahut: "Siapa lagi, hai Arab sahabatku..., siapa lagi di antara kaum anda yang daripadanya terpancar kebenaran, dan dari tutur katanya bersinar-sinar cahaya selain ia seorang?"
Seorang lainnya yang bangkit terkejut mendengar itu berseru pula: "Rupanya yang kamu maksudkan ialah Muhammad...".
Khabbab menganggukkan kepalanya yang dipenuhi kebanggaan serta katanya:
"Memang, ia adalah utusan Allah kepada kita, untuk membebaskan kita dari kegelapan menuju terang benderang.”
Dan setelah itu Khabbab tidak ingat lagi apa yang diucapkannya, begitu pun apa yang diucapkan orang kepadanya. Yang diingatnya hanyalah bahwa setelah beberapa saat lamanya ia sadarkan diri dan mendapati tamu-tamunya telah bubar dan tak ada lagi, sedang tubuhnya bengkak-bengkak dan tulang-ulangnya terasa sakit. Darahnya mengalir melumuri pakaian dan tubuhnya.
Baca juga: Ibnu Taimiyah (3): Pandangan dan Jalan Pikirannya
Baca juga: Ibnu Taimiyah (4-Habis): Meninggal Membela Kebenaran dalam Penjara
Jika ia mengakui keimanannya sekarang ini di hadapan mereka, bukankah karena hasil muslihat dan termakan umpan mereka, tetapi karena ia telah meyakini kebenaran itu serta menganutnya, dan telah mengambil putusan untuk menyatakannya secara terus terang. Maka dalam keadaan masih terharu dan terpesona serta kegembiraan jiwa dan kepuasannya, disampaikanlah jawaban, katanya:
"Benar. Saya telah melihat dan mendengarnya...! Saya saksikan kebenaran terpancar daripadanya, dan cahaya bersinar-sinar dari tutur katanya!"
Sekarang orang-orang Quraisy pemesan senjata itu mulai mengerti, dan salah seorang di antara mereka berseru: "Siapa dia orang yang kau katakan itu, hai budak Ummi Anmar?"
Dengan ketenangan yang hanya dimiliki oleh orang suci, Khabbab menyahut: "Siapa lagi, hai Arab sahabatku..., siapa lagi di antara kaum anda yang daripadanya terpancar kebenaran, dan dari tutur katanya bersinar-sinar cahaya selain ia seorang?"
Seorang lainnya yang bangkit terkejut mendengar itu berseru pula: "Rupanya yang kamu maksudkan ialah Muhammad...".
Khabbab menganggukkan kepalanya yang dipenuhi kebanggaan serta katanya:
"Memang, ia adalah utusan Allah kepada kita, untuk membebaskan kita dari kegelapan menuju terang benderang.”
Dan setelah itu Khabbab tidak ingat lagi apa yang diucapkannya, begitu pun apa yang diucapkan orang kepadanya. Yang diingatnya hanyalah bahwa setelah beberapa saat lamanya ia sadarkan diri dan mendapati tamu-tamunya telah bubar dan tak ada lagi, sedang tubuhnya bengkak-bengkak dan tulang-ulangnya terasa sakit. Darahnya mengalir melumuri pakaian dan tubuhnya.
Baca juga: Ibnu Taimiyah (3): Pandangan dan Jalan Pikirannya
Lihat Juga :