Benarkah Bumi Itu Datar? Begini Kata Gus Baha
Senin, 30 Agustus 2021 - 23:00 WIB
loading...
Pengasuh Ponpes Tahfidzul Quran LP3IA Kragan Rembang, Gus Baha menjelaskan tentang bentuk bumi dan hakikatnya. Foto/dok calonsarjanaislam
A
A
A
Benarkah bumi itu datar karena Al-Qur'an menyebutnya hamparan? Mari simak penjelasan ahli tafsir Qur'an Gus Baha berikut.
Ulama bernama KH Ahmad Bahauddin Nursalim ini menerangkannya dengan mengulas arti hakikat dan istilah, sehingga mudah dipahami pendengarnya. Dalam satu tausiyahnya, Gus Baha menjelaskan dalam Surat Al-Kahfi Ayat 86 mengenai kisah Raja Dzulqarnain disebutkan bahwa raja tersebut melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam. Menariknya Al-Qur'an menyebutkan bahwa matahari "bisa" tenggelam di dalam laut.
Padahal, kita tahu bahwa matahari berada di luar angkasa dan ukurannya jauh lebih besar, melebihi ukuran seluruh samudera di Bumi tentunya. "
Bukanlah mataharinya yang tenggelam, melainkan pandangan Raja Dzulqarnain-lah yang melihat matahari tenggelam.
Hal ini menjadi perdebatan di kalangan mufassir. Tentang apakah sifat-sifat Allah (yang disebutkan dalam firman-firman-Nya) dapat dipahami secara hakikat atau yang manusia kenali (mashadiqul lafdzi).
Misalnya, dalam Surah Muhammad Ayat 7 yang menyebutkan hal sebagai berikut. "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
"Ini jika dipahami bahwa Allah membutuhkan pertolongan, bisa-bisa kita kafir." kata Gus Baha.
"Kita juga bisa melihatnya dari kalimat tasbih, SubhanAllah. Kalau kita meyakini bahwa kalimat tasbih kita menambah kesucian Allah, dari yang sudah Maha Suci menjadi lebih suci. Bisa-bisa kita masuk neraka."
Seorang waliyullah, Abu Yazid Al-Busthami pernah mukasyafah (dibukakan rahasia Allah). Beliau membaca "Subhanallah, Subhanallah.."
"Abu Yazid, apa yang kau baca?" "Baca Tasbih ya Rabb". "Apa itu Tasbih?" "Menyucikan Engkau Ya Rabb."
"Apakah Aku tidak suci sehingga perlu kau sucikan?" Mendengar itu, Abu Yazid menangis kemudian belajar ilmu Nahwu.
Makanya kata Sayyid Abdullah Al-Haddad: "Hamba mengesakan Tuhan, Maha Suci Allah dari pengesaanku, sedangkan Dia adalah esa. Kalimat itu keluar saking takutnya salah.
Maka dari itu, kata Syeikh Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Syeikh Abu Bakar Al-Baqilani, semua lafadz itu tidak bermakna. Yang memaknai itu hati masing-masing. Bahasa hanyalah media komunikasi. Kalimat tidak selalu benar.
Ulama bernama KH Ahmad Bahauddin Nursalim ini menerangkannya dengan mengulas arti hakikat dan istilah, sehingga mudah dipahami pendengarnya. Dalam satu tausiyahnya, Gus Baha menjelaskan dalam Surat Al-Kahfi Ayat 86 mengenai kisah Raja Dzulqarnain disebutkan bahwa raja tersebut melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam. Menariknya Al-Qur'an menyebutkan bahwa matahari "bisa" tenggelam di dalam laut.
Padahal, kita tahu bahwa matahari berada di luar angkasa dan ukurannya jauh lebih besar, melebihi ukuran seluruh samudera di Bumi tentunya. "
Bukanlah mataharinya yang tenggelam, melainkan pandangan Raja Dzulqarnain-lah yang melihat matahari tenggelam.
Hal ini menjadi perdebatan di kalangan mufassir. Tentang apakah sifat-sifat Allah (yang disebutkan dalam firman-firman-Nya) dapat dipahami secara hakikat atau yang manusia kenali (mashadiqul lafdzi).
Misalnya, dalam Surah Muhammad Ayat 7 yang menyebutkan hal sebagai berikut. "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
"Ini jika dipahami bahwa Allah membutuhkan pertolongan, bisa-bisa kita kafir." kata Gus Baha.
"Kita juga bisa melihatnya dari kalimat tasbih, SubhanAllah. Kalau kita meyakini bahwa kalimat tasbih kita menambah kesucian Allah, dari yang sudah Maha Suci menjadi lebih suci. Bisa-bisa kita masuk neraka."
Seorang waliyullah, Abu Yazid Al-Busthami pernah mukasyafah (dibukakan rahasia Allah). Beliau membaca "Subhanallah, Subhanallah.."
"Abu Yazid, apa yang kau baca?" "Baca Tasbih ya Rabb". "Apa itu Tasbih?" "Menyucikan Engkau Ya Rabb."
"Apakah Aku tidak suci sehingga perlu kau sucikan?" Mendengar itu, Abu Yazid menangis kemudian belajar ilmu Nahwu.
Makanya kata Sayyid Abdullah Al-Haddad: "Hamba mengesakan Tuhan, Maha Suci Allah dari pengesaanku, sedangkan Dia adalah esa. Kalimat itu keluar saking takutnya salah.
Maka dari itu, kata Syeikh Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Syeikh Abu Bakar Al-Baqilani, semua lafadz itu tidak bermakna. Yang memaknai itu hati masing-masing. Bahasa hanyalah media komunikasi. Kalimat tidak selalu benar.
Lihat Juga :