Hikayat Mistis: Burung Merak Raja di Bawah Keranjang
Selasa, 02 Juni 2020 - 07:05 WIB
loading...
A
A
A
Wahai kilat yang menyambar, dari perlindungan siapa engkau muncul? Tetapi ia tidak sadar-sadar juga, meskipun sepanjang masa itu kesenangan tetap tinggal di hatinya.
Ah, kalau saja Laila sekali saja mengirimkan salam karunianya, meskipun di antara kami terbentang debu dan bebatuan besar.
Baca juga: Baginda Sultan dan Para Menteri Bertelur, Abu Nawas Berkokok
Salam kegembiraanku akan merupakan jawabnya, atau akan menjeritlah kepadanya si burung hantu, burung sakit yang memekik di tengah keremangan kuburan.
Burung merak itu bodoh, karena ia telah lupa kepada dirinya dan juga tanah airnya.
... janganlah hendaknya kamu bertingkah seperti orang yang melupakan Allah, yang mengakibatkan Allah membuat mereka lupa diri pula. (QS 59:19)
Setiap kali hembusan angin atau suara-suara datang dari taman, timbul hasrat dalam diri si burung merak tanpa mengetahui mengapa demikian.
Baca juga: Ketika Nasruddin Hoja Tidak Konsisten Lagi
Penyair Al-Ma'arri, Siqth al-Zand, menulis:
Kilat Ma'arra bergerak di tengah malam, ia melewati malam di Rama yang melukiskan kebosanannya.
Ia benar-benar menyedihkan para penunggang, kuda-kudanya, unta-unta, dan terus bertambah menyedihkan, hingga ia hampir menyedihkan pelana-pelana
Ia tetap kebingungan selama beberapa waktu, sampai suatu hari sang raja memerintahkan agar burung itu dilepaskan dari keranjang dan kantung kulitnya untuk dibawa menghadapnya.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tuan Rumah dan Tamu
Peristiwa kebangkitan itu terjadi hanya dengan satu kali tiupan sangkakala saja. (QS 37:19)
Ah, kalau saja Laila sekali saja mengirimkan salam karunianya, meskipun di antara kami terbentang debu dan bebatuan besar.
Baca juga: Baginda Sultan dan Para Menteri Bertelur, Abu Nawas Berkokok
Salam kegembiraanku akan merupakan jawabnya, atau akan menjeritlah kepadanya si burung hantu, burung sakit yang memekik di tengah keremangan kuburan.
Burung merak itu bodoh, karena ia telah lupa kepada dirinya dan juga tanah airnya.
... janganlah hendaknya kamu bertingkah seperti orang yang melupakan Allah, yang mengakibatkan Allah membuat mereka lupa diri pula. (QS 59:19)
Setiap kali hembusan angin atau suara-suara datang dari taman, timbul hasrat dalam diri si burung merak tanpa mengetahui mengapa demikian.
Baca juga: Ketika Nasruddin Hoja Tidak Konsisten Lagi
Penyair Al-Ma'arri, Siqth al-Zand, menulis:
Kilat Ma'arra bergerak di tengah malam, ia melewati malam di Rama yang melukiskan kebosanannya.
Ia benar-benar menyedihkan para penunggang, kuda-kudanya, unta-unta, dan terus bertambah menyedihkan, hingga ia hampir menyedihkan pelana-pelana
Ia tetap kebingungan selama beberapa waktu, sampai suatu hari sang raja memerintahkan agar burung itu dilepaskan dari keranjang dan kantung kulitnya untuk dibawa menghadapnya.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tuan Rumah dan Tamu
Peristiwa kebangkitan itu terjadi hanya dengan satu kali tiupan sangkakala saja. (QS 37:19)
Lihat Juga :